Minggu, 30 Agustus 2015

Petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alayh Wasallam dalam mengajar, teori dan praktek.


1

  



1.SINOPSIS PETUNJUK RASULULLAAH DALAM MENGAJAR.[1]

A.Petunjuk Rasulullaah
 
Mengapa petunjuk nabi?

Pada hari ini,kepala-kepala sering terdongak ,para pemegang kebijakan pendidikan di dunia Islam suka melirik filsafat-filsafat dan teori-teori pendidikan Barat.Merekalah yang menyusun ilmu ini dan meletakkan garis-garis besarnya.Seorang pengarang yang matang dan seorang penulis yang mumpuni menghiasi makalah-makalah nya dengan nukilan-nukilan dari pakar Barat.Tarbiyah (pendidikan) bagi mereka adalah sebuah ilmu yang baru muncul seiring datangnya era baru,yaitu era kebangkitan dan kemajuan ilmu.
Kami tidak mengingkari sumbangsih para ahli Barat terhadap ilmu ini.Dan kami tidak bersikap berlebih-lebihan dengan mengajak seorang muslim untuk menjauhi dan menolak seluruh yang ada pada mereka.Ketika kami tidak bersikap demikian,kami juga tidak menyetujui pendapat yang mengajak ummat untuk mencampakkan sejarah dan melipat lembaran-lembarannya.Lalu kita menutup mata karena tidak tahu,atau pura-pura tidak tahu dan menimbun debu di atas warisan sejarah ummat yang benar.

Benarlah perkataan Imam Darul Hijrah Malik bin Anas-Rahimahullah-,[2] beliau berkata:
لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
Artinya: ''Tidak akan menjadi baik urusan ummat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awwalnya.''
Allah Ta'ala berfirman,


إن يَعْلَمِ اللّهُ فيِ قُلُوْبِِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِمَّا أُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ

Artinya : ''Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil kepadamu dan
Dia akan mengampunimu.'' [QS. Al Anfal:70]
Allah telah mengutus nabi-Nya dan telah menyatakan bahwa Muhammad n adalah seorang Guru yang terbaik.Firman-Nya,

هُوَ الَّذِى بَعَثَ فِى الأمِّيِّىنَ رَسولاً مِِّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءاياتِهِ وَيُزَكّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَ إِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِى ضَلاَلٍ مُّبِيْنٍٍ
Artinya:
''Dia lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (As-sunnah).Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.'' (QS.Al Jumuah:2).

Lebih dari itu,apakah seorang muslim mengira akan mendapatkan seorang guru yang lebih tinggi,lebih utama dan lebih mulia daripada Rasulullah -Shallallahu 'Alayh Wasallam-? Apakah ada orang yang mengira bahwa ada air pendidikan dan pengajaran yang diambil dari selain telaganya,atau sesuatu yang dibawa ke lahan pembangunan tanpa melalui pintunya?
Tatkala seseorang sangat sibuk mencarinya,lihat dan perhatikan bagaimana sosok nabiyyullah Muhammad bin Abdillah Shallallaahu 'Alayhn Wasallam !!

B.Petunjuk pengajaran Nabi sangat banyak,diantaranya secara ringkas disebutkan sebagai berikut:
1.Memicu dorongan belajar.
Dorongan belajar memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dunia pendidikan,karena betapapun semangatnya anak didk pasti juga ditiup oleh api kemalasan.Sehingga dituntut seorang Guru memiliki perhatian dalam hal ini.Rasululllah pernah memompa semangat muridnya,diantaranya:

a.Penjelasan keutamaan ilmu dan menuntutnya.

Pertama, Allah Ta’ala akan mengangkat derajatnya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ … ۝

Artinya: “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Qs. Al-Mujadilah: 11)

Disebutkan pula bahwa pernah ada seseorang yang lehernya cacat, sehingga dia selalu menjadi bahan ejekan orang-orang disekitarnya. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.”
Disebutkan pula bahwa pernah ada seseorang yang lehernya cacat, sehingga dia selalu menjadi bahan ejekan orang-orang disekitarnya. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.”
Lalu orang tersebut menuntut ilmu syar’i sampai dia menjadi seorang yang ‘alim (pandai), sehingga dia diangkat menjadi Hakim di Mekah selama 20 tahun. Dan jika ada seseorang yang memiliki perkara duduk dihadapannya, gemetarlah seluruh tubuhnya sampai dia berdiri.[3]
Kedua, Allah Ta’ala menjadikan kebaikan untuknya, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْـرًا يُـفَـقِـهْهُ فِي الدِّيْنِ .

Artinya: “Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan menjadikannya mengerti tentang (urusan) agamanya.” [4]
Hadits di atas menyebutkan tentang keutamaan mempelajari ilmu syar’i dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa orang yang tidak diberikan
4
pemahaman dalam agamanya adalah orang yang tidak dikehendaki kebaikannya
oleh Allah. Sebaliknya orang yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah maka Dia memberikannya pemahaman dalam agamanya. [5]

Ketiga, orang yang menuntut ilmu syar’i dan memiliki ilmu syar’i dikecualikan dari laknat Allah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat,


أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَـا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَـافِيْـهَـا إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَـلِّـمٌ .

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim, dan seorang yang menuntut ilmu.”[6]
Hadits di atas menyebutkan tentang keutamaan ilmu syar’i, orang-orang yang berilmu, dan orang-orang yang menuntutnya. Dalam proses menuntut ilmu syar’i, manusia terbagi menjadi dua, yaitu orang yang ‘alim sebagai pengajar dan orang yang menuntutnya (pelajar). Keduanya berada di atas jalan yang lurus dan selamat.[7]
Keempat, orang yang menuntut ilmu syar’i diibaratkan seperti seorang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ دَخَـلَ مَـسْجِـدَنَا هَـذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْلِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْل اللهِ، وَمَنْ دَخَـلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَالَيْسَ لَهُ .

Artinya: “Barang siapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, dia ibarat seorang yang berjihad di jalan Allah. Dan barang siapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu, dia ibarat orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.” [8]
Kelima, orang yang menuntut ilmu syar’i akan dimudahkan jalannya menuju Surga, dimohonkan ampun oleh penduduk langit dan bumi, serta dinaungi oleh sayap-sayap para Malaikat. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ
الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي الْمَـاءِ .

Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh
penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.”[9]
Keenam, seorang yang memiliki ilmu dan mengajarkannya akan tetap mendapatkan pahala atas ilmu yang telah diajarkannya tersebut selama ilmu itu diamalkan, meskipun dia telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَـانُ انْـقَـطَـعَ عَـمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْـتُفَـعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُولَهُ .

Artinya: “Apabila seorang manusia meninggal dunia, amalannya terputus, kecuali tiga hal (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”[10]
b.Membimbing murid agar merasa membutuhkan ilmu.
Disebutkan didalam hadits bahwasanya nabi menggunakan metode pengulangan untuk membimbing muridnya agar merasa membutuhkan ilmu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى
( قال: الشيخ عماد صالح إبراهيم محم في مقالته( موجه التربية الاسلام
باب
إعداد وتدريب معــــلم التربية الإسلامية
العملية التعليمية صعبة وشاقة ، والمعلم في عمله يواجه مواقف مختلفة تحتاج إلى معرفة بكيفية التعامل مع هذه المواقف حتى يتمكن من القيام بعمله على أحسن وجه ، من هنا كان المعلم محتاجا إلى التدريب المناسب حتى ينجح في عمله .
وقد أجريت عدة دراسات حول تدريب وتقييم أداء
المعلمين في التربية العملية ووضع لذلك أدوات خاصة في عدد من الجامعات منها ( جامعة منيسونا ، جامعة بوردو،جامعة
كاليفورنيا ، جامعة نبراسكا ، جامعة يومنج ، جامعة ستانفورد، ) وعلى الرغم من اختلاف هذه الدراسات في أدواتها وأساليبه
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا. رواه البخارى

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah -Shallallahu 'Alayh wasallam- masuk masjid,
maka masuklah seorang laki-laki dan melakukan shalat, lalu ia memberi salam kepada Nabi -Shallallahu 'Alaih Wasallam- dan beliau pun menjawab salamnya seraya bersabda. “Kembali dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Kemudian ia datang memberi salam kepada Nabi n, dan beliau bersabda. Kembali dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat” (tiga kali). Laki-Iaki itu berkata, ‘Demi Zat yang mengutusmu dengan benar, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik darinya. maka ajarilah aku. Beliau n bersabda, “Apabila engkau berdiri untuk shalat maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bugimu dari Alquran, lalu rukuklah hingga engkau tuma‘ninah (tenang) dalam rukuk.
Kemudian bangkitlah hingga engkau berdiri lurus. Kemudian sujudlah hingga engkau tuma‘ninah dalam sujud, lalu bangkitlah hingga engkau tuma‘ninah dalam duduk. Lakukun yang demikian itu pada seluruh shalatmu.[11]

Jelaslah berbeda antara pengajaran Nabi Shallahu 'Alayh Wasallam kepadanya secara permulaan dengan pengajaran beliau setelah orang tersebut merasa membutuhkan ilmu.Ia pun datang mencari dan bertanya tentangnya.

2.Menggabungkan antara pengajaran dan pendidikan.
Allah Ta'ala telah mensifati-nya dengan itu.Firman-Nya,

هُوَ الَّذِى بَعَثَ فِى الأمِّيِّىنَ رَسولاً مِِّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءاياتِهِ وَيُزَكّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَ إِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِى ضَلاَلٍ مُّبِيْنٍٍ

Artinya:
''Dia lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (As-sunnah).Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.'' (QS.Al Jumuah:2).
Di antara tugas-tugas Rasulullaah adalah mengajarkan ilmu,tazkiyah (menyucikan


jiwa),membaca Al Qur'an kepada sahabat-sahabatnya.Oleh karenanya,Nabi tidak hanya meluluskan suatu kaum yang semata hafal masalah-masalah.Akan tetapi beliau mendidik sahabat dengan pendidikan ilmiah.Majlis-majlis selain sebagai
sarana transfer ilmu,juga membawa seorang muslim dengan perasaannya ke alam akherat.
3.Memberi perhatian terhadap pengajaran manhaj (metode) ilmiyah kepada anak
didik.

Di antara pengajaran Rasulullah -Shallallahu 'Alayh Wasallam-
tentang manhaj ilmiah,ialah:
a.Membiasakan untuk mengetahui alasan dan titik pijakan
hukum.

Ketika Rasulullah ditanya tentang menjual kurma dengan kurma muda,beliau bersabda,''Apakah kurma muda akan berkurang jika ia kering?''Para sahabat menjawab,''ya.'' Maka beliau melarangnya.[11]
Beliau mengetahui bahwa kurma muda akan berkurang jika ia mengering,akan tetapi beliau akan mengajarkan mereka untuk mengetahui alasan dan dasar pijakan hukum tidak sekedar mengetahui pada hukumnya semata.

b.Membiasakan metode dan etika bertanya.
c.Memberi jawaban tidak terbatas pada pertanyaan melainkan dengan
menjawab dengan kaidah umum.
d.Mendidik sahabat tentang manhaj Tallaqi
e.Mendidik tentang metode bersikap kepada dalil.
f.Membiasakan mengambil kesimpulan.
g.Membiasakan dialog dan muraja'ah (evaluasi)

4.Mendidik agar memikul kewajiban untuk menuntut ilmu.
5.Mendorong dan memberi pujian.
6.Memberi perhatian.
7.Mengetahui potensi dan kemampuan nalar siswa.
8.Memperhatikan perbedaan pribadi.
9.Mengarahkan kepada spesialisasi yang spesial.
10.Menggabungkan antara pengajaran pribadi dan kolektif.
11.Memberi perhatian terhadap pengajaran wanita.
12.Menyampaikan materi dengan menarik dan beragam.
13.Menghubungkan pengajaran dengan fenomena rill.
14.Menggunakan sarana penunjang.

    Dengan isyarat.
    Dengan perumpamaan dan permisalan.
    Dengan petunjuk garis dan gambar.
    Dengan kisah.
    Dengan menghubungkan suatu keterangan yang masuk akal dengan gambaran yang nyata.
    15.Menitik beratkan apa yang harus ditekankan.
    16.Menghindari pemecah konsentrasi
    17.Memperhatikan semangat dan kapasitas siswa.
    18.Mengulangi [ucapan] ilmu dan hafalan.
    19.Mendidik dengan pengajaran-pengajaran yang beragam.
  • Mengadakan pengajaran pada [kondisi] waktu yang sesuai

    [التعليم في كل وقت ملائم].

    a.Mengajar selepas shalat isya' [التعليم بعد العشاء].

    b.Mengajar saat mendekati pertengahan malam.

    c.Mengajar setelah bagun tidur di malam hari.

    d.Mengajar setelah berlalunya 2/3 malam.
  • Mengadakan pengajaran di tempat yang sesuai.
  • Mengadakan pengajaran kepada berbagai kelompok manusia.
  • Memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan At Ta'lim.
  • Menyambut gembira penuntut ilmu.
  • Mendekatkan orang yang diajak bicara.
  • Menghadap kearah pendengar dan para pendengarpun menghadap kearah Nabi.
  • Diam sebelum dibukanya pelajaran.
  • Memanggil lawan bicara dengan nama,kunyah atau laqobnya.
  • Menyentuh anggota badan murid.
  • Menepuk murid dalam rangka memberi peringatan dan menunjukkan
    keramahan.
  • Jelas dan tenang dalam bicara.
  • Mengajari dengan praktek perbuatan.
  • Metode perbandingan.
  • Penyampaian secara umum lalu merinci setelahnya.
  • Menyebutkan hal-hal yang keji dan tidak pantas didengar dengan kinayah.
  • Tidak malu mengajarkan hal-hal yang dibutuhkan.
  • Toleran dalam menanggapi pertanyaan.
  • Memuji pertanyaan yang bagus.
  • Menjawab dengan metode permisalan atau kiasan.
  • Menjawab lebih dari hal yang ditanyakan [jika diperlukan].
  • Diam dari hal-hal yang tidak diketahui.
  • Marah dengan pertanyaan yang menyusahkan.
  • Memberi kelapangan untuk muraja'ah [meminta diulangi] dan berdiskusi dalam rangka memahami serta mendalami suatu ilmu.
  • Berlapang dada jika diingatkan.
  • Memberi kesempatan murid untuk bercerita dihadapannya.
  • Lemah lembut dalam memberi pengajaran.
  • Marah kepada kesalahan seseorang yang tidak diperhitungkan yang menimpa dirinya.
  • Marah kepada seseorang yang cerdik yang kurang dalam memahami ilmu.
  • Mengutamakan murid yang miskin daripada diri dan yang miskin dari pada diri dan keluarganya.
  • Mengerti kedudukan murid.
  • Memperhatikan keadaan para murid.
  • Memuliakan sahabat yang utama.
  • Mencermati pengaruh ucapan dan perbuatan terhadap para sahabat.
  • Merasa kehilangan murid.
  • Memberi kemudahan.
  • Menganjurkan untuk mempelajari hal-hal yang mampu dan mudah.


    B.Merumuskan masalah [praktek] dakwah pendidikan berupa materi yang akan
    disampaikan dan persiapan seorang guru.
  • Merumuskan masalah dan menerapkan metode penyampaian atau berdakwah
    sangat dibutuhkan dengan harapan bisa diterapkan sesuai maksud dan tujuannya.
  • Persiapan Guru/Da'i.

Sebelum kita membahas metode maka seorang Guru harus mengetahui kapasitas dirinya agar ia tidak salah jalan dalam menyampaikan ilmu,karena ilmu syareat ini akan bermanfaat jika pembawanya memiliki bekal yang cukup.
( قال: الشيخ عماد صالح إبراهيم محم في مقالته( موجه التربية الاسلام
باب
إعداد وتدريب معــــلم التربية الإسلامية
العملية التعليمية صعبة وشاقة ، والمعلم في عمله يواجه مواقف مختلفة تحتاج إلى معرفة بكيفية التعامل مع هذه المواقف حتى يتمكن من القيام بعمله على أحسن وجه ، من هنا كان المعلم محتاجا إلى التدريب المناسب حتى ينجح في عمله .
وقد أجريت عدة دراسات حول تدريب وتقييم أداء
المعلمين في التربية العملية ووضع لذلك أدوات خاصة في عدد من الجامعات منها ( جامعة منيسونا ، جامعة بوردو،جامعة
كاليفورنيا ، جامعة نبراسكا ، جامعة يومنج ، جامعة ستانفورد، ) وعلى الرغم من اختلاف هذه الدراسات في أدواتها وأساليبها
ومنهجيتها إلا أنها أكدت على ضرورة تدريب المعلمين ، واتفقت على أن جوانب

التدريب يجب أن تركز على الجوانب التالية]) :-

1. المواصفات الشخصية للمدرس .
2. المواصفات المهنية الفنية .
3. جوانب متعلقة بالتدريس كعملية.
4. العلاقة بين المدرس والتلاميذ .

5. قدرة المدرس على التنظيم .


هذا وقد أجريت عدة دراسات في البلاد العربية حول تدريب المعلمين والطلاب في كليات التربية الذين سيعملون مدرسين في المستقبل ومن هذه الدراسات : دراسة أجريت في الكويت عام1979 بعنوان : تقويم البرنامج التربوي لإعداد المعلم في قسم التربية بجامعة الكويت ، دراسة أخرى أجريت قي العراق عام 1982بعنوان تقويم الإعداد المهني لطلبة كليات التربية
في الجامعات العراقية ، وهناك دراسة بعنوان تقويم برنامج الإعداد التربوي لطلاب اللغة العربية بكلية التربية جامعة الملك سعود في الرياض، ودراسة أجريت في اليمن بعنوان تقويم معلمي العلوم في كلية التربية بجامعة صنعاء ، دراسة أجريت في الإمارات (1991) بعنوان تقويم برنامج الإعداد المهني لمعلمي المرحلة الثانوية ، أما
في عُــمان فقد أجريت دراسة (1995) بعنوان تقويم برنامج إعداد معلمي التربية الإسلامية بالكليات المتوسطة بسلطنة عمان([25]) ،

يلاحظ أن هذه الدراسات على اختلاف أدواتها وبرامجها تؤكد على أهمية التدريب وضرورته للمعلمين قبل وأثناء الخدمة ، وتركز على جوانب مختلفة أهمها :
1. الجانب الشخصي والنفسي

2. الجانب العلمي التخصصي
3. الجانب المهني الميداني


2.0.METODE PENGAJARAN
2.1.DEFINISI METODE, DASAR PERTIMBANGAN DAN MACAM-MACAMNYA.
Metode berasal dari kata method. Dalam bahasa Indonesia metode artinya cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan..
Dalam menggunakan metode harus mempunyai dasar pertimbangan dalam pemilihan metode mengajar.
Dasar pertimbangan itu bertolak dari factor-faktor:
1. Berpedoman pada Tujuan
Tujuan adalah keinginan yang hendak dicapai dalam setiap kegiatan interaksi edukatif. Tujuan mampu memberi garis yang jelas dan pasti ke mana kegiatan interaksi edukatif akan dibawa. Tujuan dapat memberikan pedoman yang jelas bagi guru dalam mempersiapkan segala sesuatunya dalam rangka pengajaran, termasuk pemilihan metode mengajar.
Metode mengajar yang guru pilih tidak boleh dipertentangkan dengan tujuan yang telah dirumuskan, tapi metode mengajar yang dipilih itu harus mendukung ke mana kegiatan interaksi edukatif berproses guna mencapai tujuannya. Ketidakjelasan
perumusan tujuan akan menjadi kendala dalam pemilihan metode mengajar. Jadi, kejelasan dan kepastian dalam perumusan tujuan memudahkan bagi guru memilih
metode mengajar.
2. Perbedaan Individual Anak Didik
Perbedaan individual anak didik perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode mengajar. Aspek-aspek perbedaan anak didik yang perlu dipegang adalah aspek biologis, intelektual, dan psikologis.
3. Kemampuan Guru
Kemampuan guru bermacam-macam, disebabkan latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar. Dari latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar akan mempengaruhi bagaimana cara pemilihan metode mengajar baik dan benar.
4. Sifat Bahan Pelajaran
Setiap mata pelajaran mempunyai sifat masing-masing. Paling tidak sifat mata pelajaran ini adalah mudah, sedang, dan sukar. Ketiga sifat ini tidak bisa diabaikan begitu saja dalam mempertimbangkan pemilihan metode mengajar. Untuk metode tertentu barangkali cocok untuk mata pelajaran tertentu, tetai belum tentu pas untuk mata pelajaran lain. Adalah penting mengenal sifat mata pelajaran sebelum pemilihan metode dilaksanakan.
5. Situasi Kelas
Situasi kelas adalah sisi lain yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan guru ketika akan melakukan pilihan terhadap metode mengajar. Guru yang berpengalaman tahu benar bahwa kelas dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu selalu berubah sesuai
kondisi psikologis anak didik. Dan hal ini patut diperhitungkan oleh guru dari sudut manapun juga.
6. Kelengkapan fasilitas
Penggunaan metode perlu dukungan fasilitas. Fasilitas yang dipilih harus sesuai dengan karakteristik metode mengajar yang akan dipergunakan. Ada metode mengajar tertentu yang tidak dapat dipakai, karena ketiadaan fasilitas di suatu sekolah.
7. Kelebihan dan Kelemahan Metode
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dua sisi ini perlu diperhatikan guru. Jumlah anak didik di kelas dan kelengkapan fasilitas mempunyai andil tepat tidaknya suatu metode dipergunakan untuk membantu proses pengajaran. Metode yang tepat untuk pengajaran tergantung dari kecermatan guru dalam memilihnya.
Penggabungan metode pun tidak luput dari pertimbangan berdasarkan kelebihan dan
kelemahan metode yang manapun juga. Pemilihan yang terbaik adalah mencari titik kelemahan suatu metode untuk kemudian dicarikan metode yang dapat menutupi kelemahan metode tersebut.
Metode mengajar yang digunakan guru hampir tidak ada yang sia-sia, karena metode tersebut mendatangkan hasil dalam waktu dekat dan dalam wktu yang relative lama. Hasil yang dirasakan dalam waktu dekat dikatakan sebagai dampak langsung. Sedangkan hasil yang dirasakan dalam waktu yang relatif lama dikatakan sebagai
dampak pengiring. Macam-macam Metode Interaksi Edukatif:
1. Metode proyek
Metode proyek atau unit ialah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Atau metode proyek adalah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan pelajarannya. Bertujuan agar anak didik tertarik untuk belajar.
2. Metode Eksperimen
Metode Eksperimen adalah metode pemberian kesempatan pada anak didik per- orangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan.
3. Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
Pemberian tugas adalah suatu pekerjaan yang harus anak didik selesaikan tanpa
terikat dengan tempat. Pemberian tugas biasanya dikaitkan dengan resitasi. Resitasi adalah suatu persoalan yang bergayut dengan masalah pelaporan anak didik setelah mereka selesai mengerjakan suatu tugas. Tugas yang diberikan bermacam-macam, tergantung dari kebijakan guru, yang penting adalah tujuan pembelajaran tercapai.
4. Metode Diskusi
Diskusi adalah memberikan alternative jawaban untuk membantu memecahkan berbagai problem kehidupan. Dengan catatan persoalan yang aka didiskusikan harus dikuasai secara mendalam.
5. Metode Bermain Peran
Metode ini ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melaui pengembangan dan penghayatan anak didik. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan oleh anak didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Dengankegiatan memerankan ini akan membuat anak didik lebih meresapi perolehannya.
Melalui metode ini dapat dikembangkan keterampilan mengamati, menarik kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
6. Metode Sosiodrama
Metode ini adalah cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan kegiatan memainkan peranan tertentu yang terdapat dalam kehidu- pan masyarakat (kehidupan social). Seperti metode bermain peran, dalam metode
sosiodrama anak didik dibina agar terampil mendramatisasikan atau mengekspresi- kan sesuatu yang dihayati. Ketika sosiodrama berlangsung, penggunaan lembar
pengamatan perlu diperhatikan untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
7. Metode Demonstrasi
Demonstrasi ialah suatu metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Metode ini menghendaki guru lebih aktif daripada anak didik. Karena memang gurulah yang memperlihatkan sesuatu kepada anak didik. Guru yang melakukan kegiatan memperagakan suatu proses dan kerja suatu benda, misalnya bagaimana cara menggunakan kompor, bel listrik, penggunaan gunting dan lainnya.
8. Metode Karyawisata
Metode ini ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran oleh para anak didik dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang terdapat di luar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati atau mengalami secara langsung.
9. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode ini, antara lain dapat dikembangkan keterampilan mengamati, menginterpretasi, mengklasifikasi, membuat kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
Penggunaan metode tanya jawab bermaksud memotivasi anak didik untuk bertanya selam proses belajar mengajar, atau guru yang bertanya (mengajukan pertanyaan) dan anak-anak menjawabnya.
10. Metode Latihan
Metode ini disebut juga metode training, yaitu suatu cara mengajar untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga, sebagai sarana memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk
memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
11. Metode Bercerita
Metode bercerita ialah cara mengajar dengan bercerita. Pada hakikatnya metode bercerita sama dengan metode ceramah. Karena informasi disampaikan melalui penuturan atau penjelasan lisan dari seseorang kepada orang lain.
12. Metode Ceramah
Metode ceramah ialah metode yang boleh dikatakan metode tradisional. Karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru
16
dan anak didik dalam interaksi edukatif.
Dari penjelasan diatas kita sudah tahu apa itu metode, dasar pertimbangan memilih metode mengajar, dan macam-macam metode. Sekarang kita masuk kedalam pembahasan yaitu metode lemah lembut atau kasih sayang. Jadi, metode lemah lembut atau kasih sayang adalah metode pendidikan atau cara mendidik anak atau individu atau orang banyak dengan kasih sayang serta dengan kelembutan.

2.2.METODE PENGAJARAN YANG LAIN
[Metode Resitasi].
Ada beberapa pengertian metode resitasi atau definisi yang dikemukakan oleh para ahli antara lain sebagai berikut:
1. Menurut Nana Sudjana:
Tugas atau resitasi tidak sama dengan pelajaran rumah tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas dapat merangsang anak untuk lebih aktif belajar baik secara individual maupun kelompok.[13]
2. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain:
Metode Penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang diberikan siswa dapat dilakukan di kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.[14]
3. Menurut Mulyani dan Johan Permana. H:
Metode pemberian tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru yang dikerjakan peserta didik di sekolah ataupun di rumah secara perorangan atau kelompok[15]

Berdasarkan uraian di atas pengertian metode pemberian tugas adalah suatu cara dari guru dalam proses belajar mengajar untuk mengaktifkan siswa dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah dan untuk dipertanggung jawabkan kepada guru.

Dalam Al-Qur’an prinsip metode resitasi dapat dipahami dari ayat yang artinya:

”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya
17
maka ikutilah bacaannya itu”. (QS. Al-Qiyamah [75]: 17-18)[16]
Al-Maraghi menafsirkan potongan ayat tersebut di atas sebagai berikut:
قرأناه: اى قرأة جبريل عليك، فاتبع قرأنه: اى فاستمع قرأته وكررها حتى يرسخ فى نفسك. [17]

Qara’nahu : dimaksudkan adalah Jibril membacakannya kepadamu.
Fattabi’ qur’anah : maksudnya maka dengarkanlah bacaan dan ulang-ulangilah agar ia mantap dalam dirimu.[18]

Ayat tersebut merupakan bentuk pembelajaran al-Qur’an ketika malaikat Jibril memberikan wahyu (al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayh Wasallam
dengan membacakannya, maka Nabi Muhammad -Shallallahu 'Alayh Wasallam- diperintahkan untuk mengulanginya, sehingga Nabi hafal dan bacaan tersebut dapat membekas dalam dirinya.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Resitasi
1. Kelebihan Metode Resitasi
    Ada beberapa kelebihan metode resitasi menurut para ahli antara lain:
a. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain kelebihannya:
1) Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individual ataupun kelompok.
2) Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru.
3) Dalam membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
4) Dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[19]
b. Menurut Mulyani:
1) Metode pemberian tugas dapat membuat siswa aktif belajar.
2) Tugas lebih merangsang siswa untuk lebih banyak, baik waktu dikelas maupun diluar kelas atau dengan lain, baik siswa dekat dengan guru maupun jauh dengan guru.
3) Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa yang diperlukan dalam kehidupannya.
4) Tugas lebih meyakinkan tentang apa yang akan dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya, atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.
5) Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengelola sendiri informasi dan komunikasi.
6) Metode ini dapat membuat siswa bergairah dalam belajar karena kegiatan-kegiatan belajar dapat dilakukan dengan berbagai variasi sehingga tidak membosankan.
7) Metode ini dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
8) Metode ini dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[20]
2. Kekurangan Metode Resitasi
Ada beberapa kekurangan metode Resitasi antara lain :
a) Siswa sulit dikontrol, apakah benar dia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain.
b) Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik.
c) Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
d ) Sering memberikan tugas yang menonton (tak bervariasi) dapat menimbulkan kebosanan siswa.[21]
e) Seringkali anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
f) Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan.[10]
Dari pengertian diatas tampak bahwa pelaksanaan metode ini banyak menuntut hakekat siswa sebab anak selalu dituntut oleh guru untuk belajar sendiri baik itu untuk materi yang sudah diterangkan ataupun yang belum diterangkan.
Langkah-langkah Metode Resitasi
Ada langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode pembelajaran tugas antara lain :
Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
a. Tujuan yang akan dicapai.
b. Jenis tugas jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
c. Sesuai dengan kemampuan siswa
d. Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu siswa.
e.Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

Dalam fase ini tugas yang diberikan kepada setiap anak didik harus jelas dan petunjuk-petunjuk yang diberikan harus terarah. 

Langkah Pelaksanaan Tugas
a. Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru
b. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
c. Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak orang lain
d. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang dia peroleh dengan baik dan
sistematik.
Dalam fase ini anak didik belajar (melaksanakan tugas) sesuai tujuan dan petunjuk- petunjuk guru.
Fase Mempertanggungjawabkan Tugas

a. Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakannya.
b. Ada tanya jawab diskusi kelas
c. Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya
Dalam fase ini anak didik mempertanggungjawabkan hasil belajarnya baik berbentuk laporan lisan maupun tertulis. [22]
Karena tugas yang dikerjakan pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan maka siswa akan terdorong untuk mengerjakan secara sungguh-sungguh. Dengan metode ini sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu lebih mendalam.
Teknis Pelaksanaan Metode Resitasi
Tugas dapat dilaksanakan dalam berbagai kegiatan belajar baik perorangan atau kelompok. 

Adapun pelaksaan yang ditempuh dalam metode ini antara lain:
1. Pendahuluan [taqdiim]]
Pada langkah ini perlu mempersiapkan mental murid untuk menerima tugas yang akan diberikan kepada mereka pada pelajaran inti, Untuk itu perlu memberikan kejelasan tentang suatu bahan pelajaran yang dilaksanakan dengan metode ini, diberikan contoh-contoh yang serupa dengan tugas jika keterangan telah cukup.
2. Pelajaran inti:
Guru memberika tugas, murid melaporkan hasil kerja mereka sementara gurumengadakan koreksi terhadap tugas-tugas tersebut, da bila ditemukan kesalahan maka perlu diadakan diskusi.
3. Penutup:
Pada langkah ini murid bersama guru mengecek kebenaran sementara murid disuruh mengulangi tugas itu kembali.[23]
Penerapan Metode Resitasi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah suatu proses yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam belajar agama Islam.[24]
Dalam proses belajar mengajar penggunaan satu metode mengajar untuk segala macam tujuan belajar tentunya tidak efektif . Berbeda tujuan, berbeda cara mencapainya. Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dapat menggunakan berbagai macam metode, antara lain metode resitasi atau metode pemberian tugas.
Metode pemberian tugas adalah metode interaksi edukatif dimana murid diberi tugas khusus (sesuai dengan bahan pelajaran) diluar jam-jam pelajaran. Dalam pelaksanaannya murid-murid dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya dirumah, tetapi dapat dikerjakan diperpus, laboratorium, dan lainnya kemudian dipertanggungjawabkan kepada guru.[25]
Dalam pendidikan agama Islam, metode interaksi ini sering digunakan, terutama dalam hal-hal yang bersifat praktis misalnya, setelah selesai pelajaran berwudhu (di sekolah)
murid-murid ditugaskan untuk melihat, memperhatikan dan menirukan orangtuannya atau orang-orang lain dirumah atau masjid yang sedang berwudhu, kemudian melaporkannya kepada guru di sekolah pada jam pelajaran berikutnya. Atau contoh lain, menjelang hari raya idul fitri guru menerangkan tentang masalah zakat fitrah, kemudian murid ditugaskan untuk membentuk amil zakat yang melaksanakan tugas mengumpulkan zakat fitrah dan membagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sesuai pelaksanaan tugas ini mereka harus membuat laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugasnya kepada guru.[26]
4.Kesimpulan.
Metode artinya cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam menggunakan metode harus mempunyai
dasar pertimbangan dalam pemilihan metode mengajar.
Ada beberapa factor yang harus dijadikan dasar pertimbangan pemilihan metode mengajar.
Dasar pertimbangan itu bertolak dari factor-faktor:
- Berpedoman pada Tujuan - Situasi kelas
- Perbedaan Individual Anak Didik - Kelengakapan fasilitas
- Kemampuan Guru. - Kelebihan dan kelemahan
metode .
- Sifat Bahan Pelajaran.

Macam-macam Metode Interaksi Edukatif:
-Metode proyek - Metode Demonstrasi
-Metode eksperimen - Metode Karyawisata
-Metode Pemberian Tugas dan Resitasi - Meode Tanya Jawab
-Metode Diskusi - Metode Latihan.
-Metode Bermain Peran - Metode Bercerita.
-Metode Sosiodrama - Metode Ceramah.
-Metode Lainnya.

Menyimpulkan dari isi kandungan hadits Nabi Muhammad -Shallahu 'Alayh Wasallam- dengan metode pendidikan sekarang.Dengan cara mengintegrasikan antara komponen metode pendidikan sekarang dan metode shunnah agar bisa mengevaluasi dan menjalankan amanah pendidikan sesuai shunnah kepada peserta didik .


3. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) BERKARAKTER.
MENGENAL EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI
A. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketiga istilah tersebut bermakna sebagai berikut:

1. Eksplorasi adalah kegiatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru dari
situasI yang baru.
2. Elaborasi adalah penggarapan secara tekun dan cermat.
3. Konfrimasi adalah pembenaran, penegasan, dan pengesahan
B. Aplikasi ketiga istilah tersebut dalam rancangan dan proses pembelajaran.

Pengaplikasian ketiga istilah tersebut dalam rancangan dan proses pembelajaran adalah
sebagai berikut ;
1. Eksplorasi :
Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan peserta didik dalam mencari dan menghimpun informasi, menggunakan media untuk memperkaya pengalaman mengelola informasi,memfasilitasi peserta didik berinteraksi sehingga peserta didik aktif, medorong peserta didik mengamati berbagai gejala, menangkap tanda-tanda yang membeda kan dengan gejala pada peristiwa lain, mengamati objek di lapangan dan labolatorium.Kegiatan guru dan peserta didik dalam siklus ekplorasi adalah
Peserta didik :
– menggali informasi dengan membaca, berdikusi, atau percobaan
– mengumpulkan dan mengolah data
Guru :
– menggunakan berbagai pendekatan dan media
– memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, dan
peserta didik dengan sumber belajar
– melibatkan peserta didik secara aktif

23
2. Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru mendorong peserta didik membaca dan menuliskan hasil eksplorasi, mendiskusikan, mendengar pendapat, untuk lebih mendalami sesuatu,menganalisis kekuatan atau kelemahan argumen, mendalami pengetahuan tentang sesuatu,membangun kesepakatan melalui kegiatan kooperatif dan kolaborasi,membiasakan peserta didik membaca dan menulis, menguji prediksi atau hipotesis, menyimpulkan bersama, dan menyusun laporan atau tulisan, menyajikan hasil belajar.

Kegiatan guru dan peserta didik dalam siklus elaborasi adalah

Peserta didik :

– melaporkan hasil eksplorasi secara lisan atau tertulis, baik secara individu maupun kelompok.
– menanggapi laporan atau pendapat teman
– mengajukan argumentasi dengan santun.

Guru :
– memfasilitasi peserta didik untuk berpikir kritis,menganalisis,memecahkan masalah,bertindak tanpa rasa takut [secara wajar]
– memfasilitasi peserta didik untuk berkompetisi.
3. Konfirmasi :

Dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik terhadap apa yang dihasilkan peserta didik melalui pengalaman belajar, memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan kelemahan hasil belajar dengan menggunakan teori yang dikuasi guru, menambah informasi yang seharusnya dikuasai peserta didik, mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan lebih lanjut dari sumber yang terpecaya untuk lebih menguatkan penguasaan kompetensi belajar agar lebih bermakna.

Setelah memeperoleh keyakinan, maka peserta didik mengerjakan tugas-tugas untuk mengasilkan produk belajar yang kongkrit dan kontekstual.Guru membantu peserta didik menyelesikan masalah dan menerapkan ilmu dalam aktivitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.


Kegiatan guru dan peserta didik dalam siklus konfirmasi

Peserta didik :

– melakukan refleksi terhadap pengalaman belajarnya


Guru :

– memberi umpan balik positif kepada peserta didik.

– memberi konfirmasi melalui berbagai sumber terhadap  eksplorasi dan elaborasi.

– berperan sebagai narasumber dan fasilitator.

– memberi acuan agar peserta didik melakukan pengecekan hasil ekplorasi.

– memberi motivasi kepada peserta didik.








RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

1.IDENTITAS MATA PELAJARAN
Sekolah :
Mata Pelajaran :.
kelas/Modul : /
Alokasi Waktu : 1 x 60 menit
Pertemuan ke :
Hari,Tgl /Thn :


      2.0.STANDAR KOMPETENSI :


2.1





2.2









2.3







2.4



    3.0.KOMPETENSI DASAR :


3.1







3.2







3.3







3.4




    4.0.INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI :



4.1







4.2







4.3







4.4








    5.0.MATERI AJAR

5.1





5.2





5.3





5.4





6.0

    6.0.METODE PEMBELAJARAN

6.1

    Tanya jawab

6.2

           Demontrasi



6.3





6.4





6.5





6.6







    7. KEGIATAN PEMBELAJARAN


Tahap Pembelajaran
Terlaksana
Ya
Tidak

Pendahuluan
  1. Mengkondisikan siswa untuk menerima pelajaran
  2. Menghubungkan materi pelajaran lalu dengan pelajaran sekarang
Kegiatan Inti
  1. Eksplorasi
  • Memberikan kesempatan kepada siswa
  • Memberikan kepada siswa untuk memahami materi
  • Memberikan kepada siswa untuk menyebutkan materi.
  1. Elaborasi
    • Dengan penuh percaya diri siswa menyimak penjelasan guru mengenai
    • Dengan jujur dan mandiri siswa dapat :
  • Menjelaskan pengertian yang dibutuhkan.
  • Mampu merinci dan melakukan penggalian materi
  1. Konfirmasi
    • Dengan penuh percaya diri siswa menjawab per tanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru saat pembelajaran berlangsung .
    • Dengan semangat tinggi guru memberikan penguatan materi dan pemahaman yang benar.

Penutup :
  • Secara mandiri menunjuk salah seorang nomor urut siswa untuk merefleksi tentang materi yang telah dibahas bersama.
  • Dengan percaya diri menyimpulkan materi untuk memantapkan pemahanan siswa.
  • Tindak lanjut (penugasan untuk minggu depan) :


    Kerjasama mengerjakan latihan pada LKS/Buku Panduan secara mandiri/berkelompok.







    8.0.SUMBER BELAJAR

         BENTUK LATIHAN ATAU UJIAN



















Demikian sedikit yang bisa dipaparkan tentang persiapan KBM semoga bermanfaat . Wal ilmu indallah.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه
 
Catatan kaki:

[1] Al Mudarris wa Maharratuhut tawjiih karya DR Muhammad bin Abdullah Ad Duweisy,hal 24.cet DarRisalah 
 Mesir.
[2] Sittud Durrar min Ushuli Ahli Atsar Karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani,hal136 cet Dar
Risalah Mesir.
[3] Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 26) dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 33)
[4] [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 71, 3116, 7312), Muslim (no. 1037), Ahmad (IV/92, 95, 96), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/122- 123, no. 84), dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan
radhiyallahu’anhu]
[5] Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 49), Bahjatun Nazhirin (II/463), Menuntut Ilmu Jalan
Menuju Surga (hal. 36) dan Syarah Riyadhus­ -Shalihin (IV/ 286)]
[6] (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), Al- Baihaqi dalam
Syu’abul Iman (no. 1708), Ibnu Abi ‘Ashim dalam Az-Zuhd (no. 57), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’
Bayanil ‘Ilmi (I/150, no. 135), dari AbuHurairah radhiyallahu’anhu]
[7] Lihat Bahjatun Nazhirin (I/542-543) dan Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (II/307)
[8] Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (II/350, 526-527), Ibnu Majah (no. 227), Ibnu Hibban (no. 87-
At-Ta’liqat), Ibnu Abi Syaibah (no. 3306), dan Al-Hakim (I/91), dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu
.-23-
[9] Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682 Ibnu Majah (no. 223),
Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al- Ihsan dan 80 – Al-Mawarid), Al-Baghawi
dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no.
173), dan Ath-Thahawi dalamMusykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu
[10] Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223),
Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid), Al-Baghawi
dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no.
173), dan Ath- Thahawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu.
[11] HR Al Imam Bukhari
[13]
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung:  Sinar
Baru, 1989), hlm. 81.
[14]
Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar 
Mengajar,Jakarta: Rineka Cipta, 2006), edisi
         revisi,
hlm. 85.
[15]
Mulyani. S dan Johar Permana, Strategi Belajar Mengajar, (JATENG
DEPDIKBUD Direktorat Jenderal
         Pendidikan
 Tinggi, 1999), hlm.   151.
[16]
Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam   
Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm.
         165.
[17]
Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 29, (Beirut: Dar 
al-Maraghi, t.th.,), hlm. 150.
[18]
Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi,  terjemahan,Semarang:
Toha Putra, 1989), hlm. 244.
[19]
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 87.
[20]
Mulyani, op. cit, hlm. 152
[21]
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, loc. cit.,  
[22]
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi  
Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000),
         hlm.
198.  
[23]
Syaiful Bahri Djamarah,dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 86Arief Armai,  
op.cit, hlm. 167
[24]
Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta:  Misaka
Galiza, 2003), hlm. 13
[25]
Zuhirini, dkk, loc. cit
[26]
Zuhairini, dkk, op. cit, hlm.84