1
1.SINOPSIS
PETUNJUK RASULULLAAH DALAM MENGAJAR.[1]
A.Petunjuk
Rasulullaah
Mengapa
petunjuk nabi?
Pada
hari ini,kepala-kepala sering terdongak ,para pemegang kebijakan
pendidikan di dunia Islam suka melirik filsafat-filsafat dan
teori-teori pendidikan Barat.Merekalah yang menyusun ilmu ini dan
meletakkan garis-garis besarnya.Seorang pengarang yang matang dan
seorang penulis yang mumpuni menghiasi makalah-makalah nya dengan
nukilan-nukilan dari pakar Barat.Tarbiyah (pendidikan)
bagi mereka adalah sebuah ilmu yang baru muncul seiring datangnya era
baru,yaitu era kebangkitan dan kemajuan ilmu.
Kami
tidak mengingkari sumbangsih para ahli Barat terhadap ilmu ini.Dan
kami tidak bersikap berlebih-lebihan dengan mengajak seorang muslim
untuk menjauhi dan menolak seluruh yang ada pada mereka.Ketika kami
tidak bersikap demikian,kami juga tidak menyetujui pendapat yang
mengajak ummat untuk mencampakkan sejarah dan melipat
lembaran-lembarannya.Lalu kita menutup mata karena tidak tahu,atau
pura-pura tidak tahu dan menimbun debu di atas warisan sejarah ummat
yang benar.
Benarlah
perkataan Imam Darul Hijrah Malik bin Anas-Rahimahullah-,[2]
beliau berkata:
لَنْ
يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إلاَّ
بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
Artinya:
''Tidak akan menjadi baik
urusan ummat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi
awwalnya.''
Allah
Ta'ala berfirman,
إن
يَعْلَمِ اللّهُ فيِ قُلُوْبِِكُمْ
خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِمَّا
أُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ
Artinya
: ''Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia
akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil
kepadamu dan
Dia
akan mengampunimu.'' [QS. Al Anfal:70]
Allah
telah mengutus nabi-Nya dan
telah menyatakan bahwa Muhammad
n adalah seorang Guru yang
terbaik.Firman-Nya,
هُوَ
الَّذِى بَعَثَ فِى الأمِّيِّىنَ رَسولاً
مِِّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءاياتِهِ
وَيُزَكّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَ إِنْ
كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِى ضَلاَلٍ
مُّبِيْنٍٍ
Artinya:
''Dia
lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara
mereka,yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,mensucikan mereka
dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (As-sunnah).Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata.'' (QS.Al Jumuah:2).
Lebih
dari itu,apakah seorang muslim mengira akan mendapatkan seorang guru
yang lebih tinggi,lebih utama dan lebih mulia daripada Rasulullah
-Shallallahu 'Alayh Wasallam-? Apakah ada orang yang mengira bahwa
ada air pendidikan dan pengajaran yang diambil dari selain
telaganya,atau sesuatu yang dibawa ke lahan pembangunan tanpa melalui
pintunya?
Tatkala
seseorang sangat sibuk mencarinya,lihat dan perhatikan bagaimana
sosok nabiyyullah Muhammad bin Abdillah Shallallaahu 'Alayhn Wasallam
!!
B.Petunjuk
pengajaran Nabi sangat banyak,diantaranya secara ringkas disebutkan
sebagai berikut:
1.Memicu
dorongan belajar.
Dorongan
belajar memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dunia
pendidikan,karena betapapun semangatnya anak didk pasti juga ditiup
oleh api kemalasan.Sehingga dituntut seorang Guru memiliki perhatian
dalam hal ini.Rasululllah pernah memompa semangat
muridnya,diantaranya:
a.Penjelasan
keutamaan ilmu dan menuntutnya.
Pertama,
Allah Ta’ala akan mengangkat derajatnya, sebagaimana disebutkan
dalam firman-Nya,
… يَرْفَعِ
اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ
…
Artinya:
“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara
kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat.” (Qs. Al-Mujadilah: 11)
Disebutkan
pula bahwa pernah ada seseorang yang lehernya cacat, sehingga dia
selalu menjadi bahan ejekan orang-orang disekitarnya. Kemudian ibunya
berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah
akan mengangkat derajatmu.”
Disebutkan
pula bahwa pernah ada seseorang yang lehernya cacat, sehingga dia
selalu menjadi bahan ejekan orang-orang disekitarnya. Kemudian ibunya
berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah
akan mengangkat derajatmu.”
Lalu
orang tersebut menuntut ilmu syar’i sampai dia menjadi seorang yang
‘alim (pandai), sehingga dia diangkat menjadi Hakim di Mekah selama
20 tahun. Dan jika ada seseorang yang memiliki perkara duduk
dihadapannya, gemetarlah seluruh tubuhnya sampai dia berdiri.[3]
Kedua,
Allah Ta’ala menjadikan kebaikan untuknya, sebagaimana disebutkan
dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْـرًا يُـفَـقِـهْهُ
فِي الدِّيْنِ .
Artinya:
“Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan
menjadikannya mengerti tentang (urusan) agamanya.” [4]
Hadits
di atas menyebutkan tentang keutamaan mempelajari ilmu syar’i
dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa orang
yang tidak diberikan
4
pemahaman
dalam agamanya adalah orang yang tidak dikehendaki kebaikannya
oleh
Allah. Sebaliknya orang yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah maka
Dia memberikannya pemahaman dalam agamanya. [5]
Ketiga,
orang yang menuntut ilmu syar’i dan memiliki ilmu syar’i
dikecualikan dari laknat Allah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah
riwayat,
أَلاَ
إِنَّ الدُّنْيَـا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ
مَـافِيْـهَـا إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا
وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَـلِّـمٌ
.
Artinya:
“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula
apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan
kepada-Nya, seorang ‘alim, dan seorang yang menuntut ilmu.”[6]
Hadits
di atas menyebutkan tentang keutamaan ilmu syar’i, orang-orang yang
berilmu, dan orang-orang yang menuntutnya. Dalam proses menuntut ilmu
syar’i, manusia terbagi menjadi dua, yaitu orang yang ‘alim
sebagai pengajar dan orang yang menuntutnya (pelajar). Keduanya
berada di atas jalan yang lurus dan selamat.[7]
Keempat,
orang yang menuntut ilmu syar’i diibaratkan seperti seorang yang
berjihad di jalan Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah bersabda,
مَنْ
دَخَـلَ مَـسْجِـدَنَا هَـذَا لِيَتَعَلَّمَ
خَيْرًا أَوْلِيُعَلِّمَهُ كَانَ
كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْل اللهِ،
وَمَنْ دَخَـلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ
كَالنَّاظِرِ إِلَى مَالَيْسَ لَهُ .
Artinya:
“Barang siapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi)
dengan tujuan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, dia
ibarat seorang yang berjihad di jalan Allah. Dan barang siapa yang
memasukinya dengan tujuan selain itu, dia ibarat orang yang sedang
melihat sesuatu yang bukan miliknya.” [8]
Kelima,
orang yang menuntut ilmu syar’i akan dimudahkan jalannya menuju
Surga, dimohonkan ampun oleh penduduk langit dan bumi, serta dinaungi
oleh sayap-sayap para Malaikat. Sebagaimana disebutkan dalam sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ
سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ
عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا
إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ
الْمَـلاَئِـكَةَ
لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ
الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ
الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ
مَنْ فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي
الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي
الْمَـاءِ .
Artinya:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah
memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat
membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha
atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu
benar-benar dimintakan ampun oleh
penghuni
langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.”[9]
Keenam,
seorang yang memiliki ilmu dan mengajarkannya akan tetap mendapatkan
pahala atas ilmu yang telah diajarkannya tersebut selama ilmu itu
diamalkan, meskipun dia telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَـانُ انْـقَـطَـعَ
عَـمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:
صَدَقَةٌ
جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْـتُفَـعُ بِهِ،
وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُولَهُ .
Artinya:
“Apabila seorang manusia meninggal dunia, amalannya terputus,
kecuali tiga hal (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan
anak shalih yang mendo’akannya.”[10]
b.Membimbing
murid agar merasa membutuhkan ilmu.
Disebutkan
didalam hadits bahwasanya nabi menggunakan metode pengulangan untuk
membimbing muridnya agar merasa membutuhkan ilmu.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ
فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ
لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا
صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى
(
قال:
الشيخ
عماد صالح إبراهيم محم في مقالته(
موجه
التربية الاسلام
باب
إعداد
وتدريب معــــلم التربية الإسلامية
العملية
التعليمية صعبة وشاقة ، والمعلم في عمله
يواجه مواقف مختلفة تحتاج إلى معرفة
بكيفية التعامل مع هذه المواقف حتى يتمكن
من القيام بعمله على أحسن وجه ، من هنا
كان المعلم محتاجا إلى التدريب المناسب
حتى ينجح في عمله .
وقد
أجريت عدة دراسات حول تدريب وتقييم أداء
المعلمين
في التربية العملية ووضع لذلك أدوات خاصة
في عدد من الجامعات منها (
جامعة
منيسونا ، جامعة بوردو،جامعة
كاليفورنيا
، جامعة نبراسكا ، جامعة يومنج ، جامعة
ستانفورد، )
وعلى
الرغم من اختلاف هذه الدراسات في أدواتها
وأساليبه
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ
فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ
وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا
أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ
ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ
الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى
تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ
حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ
حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ
ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا
وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا.
رواه
البخارى
Dari
Abu Hurairah bahwa Rasulullah -Shallallahu 'Alayh wasallam-
masuk masjid,
maka
masuklah seorang laki-laki dan melakukan shalat, lalu ia memberi
salam kepada Nabi -Shallallahu 'Alaih Wasallam- dan
beliau pun menjawab salamnya seraya bersabda. “Kembali dan
shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Kemudian ia
datang memberi salam kepada Nabi n, dan beliau bersabda. Kembali
dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat” (tiga kali).
Laki-Iaki itu berkata, ‘Demi Zat yang mengutusmu dengan benar, aku
tidak dapat melakukan yang lebih baik darinya. maka ajarilah aku.
Beliau n bersabda, “Apabila engkau berdiri untuk shalat maka
bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bugimu
dari Alquran, lalu rukuklah hingga engkau tuma‘ninah (tenang) dalam
rukuk.
Kemudian
bangkitlah hingga engkau berdiri lurus. Kemudian
sujudlah hingga engkau tuma‘ninah dalam sujud, lalu bangkitlah
hingga engkau tuma‘ninah dalam duduk. Lakukun yang demikian
itu pada seluruh shalatmu.[11]
Jelaslah
berbeda antara pengajaran Nabi Shallahu 'Alayh Wasallam kepadanya
secara permulaan dengan pengajaran beliau setelah orang tersebut
merasa membutuhkan ilmu.Ia pun datang mencari dan bertanya
tentangnya.
2.Menggabungkan
antara pengajaran dan pendidikan.
Allah
Ta'ala telah mensifati-nya dengan itu.Firman-Nya,
هُوَ
الَّذِى بَعَثَ فِى الأمِّيِّىنَ رَسولاً
مِِّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءاياتِهِ
وَيُزَكّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَ إِنْ
كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِى ضَلاَلٍ
مُّبِيْنٍٍ
Artinya:
''Dia
lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara
mereka,yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,mensucikan mereka
dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (As-sunnah).Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata.'' (QS.Al Jumuah:2).
Di
antara tugas-tugas Rasulullaah adalah mengajarkan ilmu,tazkiyah
(menyucikan
jiwa),membaca
Al Qur'an kepada sahabat-sahabatnya.Oleh karenanya,Nabi tidak hanya
meluluskan suatu kaum yang semata hafal masalah-masalah.Akan tetapi
beliau mendidik sahabat dengan pendidikan ilmiah.Majlis-majlis selain
sebagai
sarana
transfer ilmu,juga membawa seorang muslim dengan perasaannya ke alam
akherat.
3.Memberi
perhatian terhadap pengajaran manhaj (metode) ilmiyah kepada anak
didik.
Di
antara pengajaran Rasulullah -Shallallahu 'Alayh Wasallam-
tentang
manhaj ilmiah,ialah:
a.Membiasakan
untuk mengetahui alasan dan titik pijakan
hukum.
Ketika
Rasulullah ditanya tentang menjual kurma dengan kurma muda,beliau
bersabda,''Apakah kurma muda akan berkurang jika ia kering?''Para
sahabat menjawab,''ya.'' Maka beliau melarangnya.[11]
Beliau
mengetahui bahwa kurma muda akan berkurang jika ia mengering,akan
tetapi beliau akan mengajarkan mereka untuk mengetahui alasan dan
dasar pijakan hukum tidak sekedar mengetahui pada hukumnya semata.
b.Membiasakan
metode dan etika bertanya.
c.Memberi
jawaban tidak terbatas pada pertanyaan melainkan dengan
menjawab
dengan kaidah umum.
d.Mendidik
sahabat tentang manhaj Tallaqi
e.Mendidik
tentang metode bersikap kepada dalil.
f.Membiasakan
mengambil kesimpulan.
g.Membiasakan
dialog dan muraja'ah (evaluasi)
4.Mendidik
agar memikul kewajiban untuk menuntut ilmu.
5.Mendorong
dan memberi pujian.
6.Memberi
perhatian.
7.Mengetahui
potensi dan kemampuan nalar siswa.
8.Memperhatikan
perbedaan pribadi.
9.Mengarahkan
kepada spesialisasi yang spesial.
10.Menggabungkan
antara pengajaran pribadi dan kolektif.
11.Memberi
perhatian terhadap pengajaran wanita.
12.Menyampaikan
materi dengan menarik dan beragam.
13.Menghubungkan
pengajaran dengan fenomena rill.
14.Menggunakan
sarana penunjang.
- Mengadakan pengajaran pada [kondisi] waktu yang sesuai
[التعليم في كل وقت ملائم].
a.Mengajar selepas shalat isya' [التعليم بعد العشاء].
b.Mengajar saat mendekati pertengahan malam.
c.Mengajar setelah bagun tidur di malam hari.
d.Mengajar setelah berlalunya 2/3 malam. - Mengadakan pengajaran di tempat yang sesuai.
- Mengadakan pengajaran kepada berbagai kelompok manusia.
- Memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan At Ta'lim.
- Menyambut gembira penuntut ilmu.
- Mendekatkan orang yang diajak bicara.
- Menghadap kearah pendengar dan para pendengarpun menghadap kearah Nabi.
- Diam sebelum dibukanya pelajaran.
- Memanggil lawan bicara dengan nama,kunyah atau laqobnya.
- Menyentuh anggota badan murid.
- Menepuk murid dalam rangka memberi peringatan dan menunjukkankeramahan.
- Jelas dan tenang dalam bicara.
- Mengajari dengan praktek perbuatan.
- Metode perbandingan.
- Penyampaian secara umum lalu merinci setelahnya.
- Menyebutkan hal-hal yang keji dan tidak pantas didengar dengan kinayah.
- Tidak malu mengajarkan hal-hal yang dibutuhkan.
- Toleran dalam menanggapi pertanyaan.
- Memuji pertanyaan yang bagus.
- Menjawab dengan metode permisalan atau kiasan.
- Menjawab lebih dari hal yang ditanyakan [jika diperlukan].
- Diam dari hal-hal yang tidak diketahui.
- Marah dengan pertanyaan yang menyusahkan.
- Memberi kelapangan untuk muraja'ah [meminta diulangi] dan berdiskusi dalam rangka memahami serta mendalami suatu ilmu.
- Berlapang dada jika diingatkan.
- Memberi kesempatan murid untuk bercerita dihadapannya.
- Lemah lembut dalam memberi pengajaran.
- Marah kepada kesalahan seseorang yang tidak diperhitungkan yang menimpa dirinya.
- Marah kepada seseorang yang cerdik yang kurang dalam memahami ilmu.
- Mengutamakan murid yang miskin daripada diri dan yang miskin dari pada diri dan keluarganya.
- Mengerti kedudukan murid.
- Memperhatikan keadaan para murid.
- Memuliakan sahabat yang utama.
- Mencermati pengaruh ucapan dan perbuatan terhadap para sahabat.
- Merasa kehilangan murid.
- Memberi kemudahan.
- Menganjurkan untuk mempelajari hal-hal yang mampu dan mudah.
B.Merumuskan masalah [praktek] dakwah pendidikan berupa materi yang akandisampaikan dan persiapan seorang guru. - Merumuskan masalah dan menerapkan metode penyampaian atau berdakwahsangat dibutuhkan dengan harapan bisa diterapkan sesuai maksud dan tujuannya.
Dengan
isyarat.
Dengan
perumpamaan dan permisalan.
Dengan
petunjuk garis dan gambar.
Dengan
kisah.
Dengan
menghubungkan suatu keterangan yang masuk akal dengan gambaran yang
nyata.
15.Menitik
beratkan apa yang harus ditekankan.
16.Menghindari
pemecah konsentrasi
17.Memperhatikan
semangat dan kapasitas siswa.
18.Mengulangi
[ucapan] ilmu dan hafalan.
19.Mendidik
dengan pengajaran-pengajaran yang beragam.
- Persiapan Guru/Da'i.
Sebelum
kita membahas metode maka seorang Guru harus mengetahui kapasitas
dirinya agar ia tidak salah jalan dalam menyampaikan ilmu,karena ilmu
syareat ini akan bermanfaat jika pembawanya memiliki bekal yang
cukup.
(
قال:
الشيخ
عماد صالح إبراهيم محم في مقالته(
موجه
التربية الاسلام
باب
إعداد
وتدريب معــــلم التربية الإسلامية
العملية
التعليمية صعبة وشاقة ، والمعلم في عمله
يواجه مواقف مختلفة تحتاج إلى معرفة
بكيفية التعامل مع هذه المواقف حتى يتمكن
من القيام بعمله على أحسن وجه ، من هنا
كان المعلم محتاجا إلى التدريب المناسب
حتى ينجح في عمله .
وقد
أجريت عدة دراسات حول تدريب وتقييم أداء
المعلمين
في التربية العملية ووضع لذلك أدوات خاصة
في عدد من الجامعات منها (
جامعة
منيسونا ، جامعة بوردو،جامعة
كاليفورنيا
، جامعة نبراسكا ، جامعة يومنج ، جامعة
ستانفورد، )
وعلى
الرغم من اختلاف هذه الدراسات في أدواتها
وأساليبها
ومنهجيتها
إلا أنها أكدت على ضرورة تدريب المعلمين
، واتفقت على أن جوانب
التدريب
يجب أن تركز على الجوانب التالية])
:-
1.
المواصفات
الشخصية للمدرس .
2.
المواصفات
المهنية الفنية .
3.
جوانب
متعلقة بالتدريس كعملية.
4.
العلاقة
بين المدرس والتلاميذ .
5.
قدرة
المدرس على التنظيم .
هذا
وقد أجريت عدة دراسات في البلاد العربية
حول تدريب المعلمين والطلاب في كليات
التربية الذين سيعملون مدرسين في المستقبل
ومن هذه الدراسات :
دراسة
أجريت في الكويت عام1979
بعنوان
:
تقويم
البرنامج التربوي لإعداد المعلم في قسم
التربية بجامعة الكويت ، دراسة أخرى أجريت
قي العراق عام 1982بعنوان
تقويم الإعداد المهني لطلبة كليات التربية
في
الجامعات العراقية ، وهناك دراسة بعنوان
تقويم برنامج الإعداد التربوي لطلاب
اللغة العربية بكلية التربية جامعة الملك
سعود في الرياض، ودراسة أجريت في اليمن
بعنوان تقويم معلمي العلوم في كلية التربية
بجامعة صنعاء ، دراسة أجريت في الإمارات
(1991)
بعنوان
تقويم برنامج الإعداد المهني لمعلمي
المرحلة الثانوية ، أما
في
عُــمان فقد أجريت دراسة (1995)
بعنوان
تقويم برنامج إعداد معلمي التربية
الإسلامية بالكليات المتوسطة بسلطنة
عمان([25])
،
يلاحظ
أن هذه الدراسات على اختلاف أدواتها
وبرامجها تؤكد على أهمية التدريب وضرورته
للمعلمين قبل وأثناء الخدمة ، وتركز على
جوانب مختلفة أهمها :
1.
الجانب
الشخصي والنفسي
2.
الجانب
العلمي التخصصي
3.
الجانب
المهني الميداني
2.0.METODE
PENGAJARAN
2.1.DEFINISI
METODE, DASAR PERTIMBANGAN DAN MACAM-MACAMNYA.
Metode
berasal dari kata method. Dalam bahasa Indonesia metode artinya cara
yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, atau cara
kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna
mencapai tujuan yang ditentukan..
Dalam
menggunakan metode harus mempunyai dasar pertimbangan dalam pemilihan
metode mengajar.
Dasar
pertimbangan itu bertolak dari factor-faktor:
1.
Berpedoman pada Tujuan
Tujuan
adalah keinginan yang hendak dicapai dalam setiap kegiatan interaksi
edukatif. Tujuan mampu memberi garis yang jelas dan pasti ke mana
kegiatan interaksi edukatif akan dibawa. Tujuan dapat memberikan
pedoman yang jelas bagi guru dalam mempersiapkan segala sesuatunya
dalam rangka pengajaran, termasuk pemilihan metode mengajar.
Metode
mengajar yang guru pilih tidak boleh dipertentangkan dengan tujuan
yang telah dirumuskan, tapi metode mengajar yang dipilih itu harus
mendukung ke mana kegiatan interaksi edukatif berproses guna mencapai
tujuannya. Ketidakjelasan
perumusan
tujuan akan menjadi kendala dalam pemilihan metode mengajar. Jadi,
kejelasan dan kepastian dalam perumusan tujuan memudahkan bagi guru
memilih
metode
mengajar.
2.
Perbedaan Individual Anak Didik
Perbedaan
individual anak didik perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode
mengajar. Aspek-aspek perbedaan anak didik yang perlu dipegang adalah
aspek biologis, intelektual, dan psikologis.
3.
Kemampuan Guru
Kemampuan
guru bermacam-macam, disebabkan latar belakang pendidikan dan
pengalaman mengajar. Dari latar belakang pendidikan dan pengalaman
mengajar akan mempengaruhi bagaimana cara pemilihan metode mengajar
baik dan benar.
4.
Sifat Bahan Pelajaran
Setiap
mata pelajaran mempunyai sifat masing-masing. Paling tidak sifat mata
pelajaran ini adalah mudah, sedang, dan sukar. Ketiga sifat ini tidak
bisa diabaikan begitu
saja dalam mempertimbangkan pemilihan metode mengajar. Untuk metode
tertentu barangkali cocok untuk mata pelajaran tertentu, tetai belum
tentu pas untuk mata pelajaran lain. Adalah penting mengenal sifat
mata pelajaran sebelum pemilihan metode dilaksanakan.
5.
Situasi Kelas
Situasi
kelas adalah sisi lain yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan
guru ketika akan melakukan pilihan terhadap metode mengajar. Guru
yang berpengalaman tahu benar bahwa kelas dari hari ke hari dan dari
waktu ke waktu selalu berubah sesuai
kondisi
psikologis anak didik. Dan hal ini patut diperhitungkan oleh guru
dari sudut manapun juga.
6.
Kelengkapan fasilitas
Penggunaan
metode perlu dukungan fasilitas. Fasilitas yang dipilih harus sesuai
dengan karakteristik metode mengajar yang akan dipergunakan. Ada
metode mengajar tertentu yang tidak dapat dipakai, karena ketiadaan
fasilitas di suatu sekolah.
7.
Kelebihan dan Kelemahan Metode
Setiap
metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dua sisi ini perlu
diperhatikan guru. Jumlah anak didik di kelas dan kelengkapan
fasilitas mempunyai andil tepat tidaknya suatu metode dipergunakan
untuk membantu proses pengajaran. Metode yang tepat untuk pengajaran
tergantung dari kecermatan guru dalam memilihnya.
Penggabungan
metode pun tidak luput dari pertimbangan berdasarkan kelebihan dan
kelemahan
metode yang manapun juga. Pemilihan yang terbaik adalah mencari titik
kelemahan suatu metode untuk kemudian dicarikan metode yang dapat
menutupi kelemahan
metode tersebut.
Metode
mengajar yang digunakan guru hampir tidak ada yang sia-sia, karena
metode tersebut mendatangkan hasil dalam waktu dekat dan dalam wktu
yang relative lama. Hasil yang dirasakan dalam waktu dekat dikatakan
sebagai dampak langsung. Sedangkan hasil yang dirasakan dalam waktu
yang relatif lama dikatakan sebagai
dampak
pengiring. Macam-macam Metode Interaksi Edukatif:
1.
Metode proyek
Metode
proyek atau unit ialah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak
dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang
berhubungan sehingga pemecahannya
secara keseluruhan dan bermakna. Atau metode proyek adalah suatu cara
mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk
menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan
pelajarannya. Bertujuan agar anak didik tertarik untuk belajar.
2.
Metode Eksperimen
Metode
Eksperimen adalah metode pemberian kesempatan pada anak didik per-
orangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau
percobaan.
3.
Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
Pemberian
tugas adalah suatu pekerjaan yang harus anak didik selesaikan tanpa
terikat
dengan tempat. Pemberian tugas biasanya dikaitkan dengan resitasi.
Resitasi adalah suatu persoalan yang bergayut dengan masalah
pelaporan anak didik setelah mereka selesai mengerjakan suatu tugas.
Tugas yang diberikan bermacam-macam, tergantung dari kebijakan guru,
yang penting adalah tujuan pembelajaran tercapai.
4.
Metode Diskusi
Diskusi
adalah memberikan alternative jawaban untuk membantu memecahkan
berbagai problem kehidupan. Dengan catatan persoalan yang aka
didiskusikan harus dikuasai secara mendalam.
5.
Metode Bermain Peran
Metode
ini ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melaui pengembangan
dan penghayatan anak didik. Pengembangan imajinasi dan penghayatan
dilakukan oleh anak didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup
atau benda mati. Dengankegiatan
memerankan ini akan membuat anak didik lebih meresapi perolehannya.
Melalui
metode ini dapat dikembangkan keterampilan mengamati, menarik
kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
6.
Metode Sosiodrama
Metode
ini adalah cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik
untuk melakukan kegiatan memainkan peranan tertentu yang terdapat
dalam kehidu- pan masyarakat (kehidupan social). Seperti metode
bermain peran, dalam metode
sosiodrama
anak didik dibina agar terampil mendramatisasikan atau mengekspresi-
kan sesuatu yang dihayati. Ketika sosiodrama berlangsung, penggunaan
lembar
pengamatan
perlu diperhatikan untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran
yang telah dirumuskan.
7.
Metode Demonstrasi
Demonstrasi
ialah suatu metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses
atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
Metode ini menghendaki guru lebih aktif daripada anak didik. Karena
memang gurulah yang memperlihatkan sesuatu kepada anak didik. Guru
yang melakukan kegiatan memperagakan suatu proses dan kerja suatu
benda, misalnya bagaimana cara menggunakan kompor, bel listrik,
penggunaan gunting dan lainnya.
8.
Metode Karyawisata
Metode
ini ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran oleh para anak didik
dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang terdapat di luar
kelas atau di lingkungan
kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati atau mengalami secara
langsung.
9.
Metode Tanya Jawab
Metode
tanya jawab adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui
bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode
ini, antara lain dapat dikembangkan keterampilan mengamati,
menginterpretasi, mengklasifikasi, membuat kesimpulan, menerapkan,
dan mengkomunikasikan.
Penggunaan
metode tanya jawab bermaksud memotivasi anak didik untuk bertanya
selam proses belajar mengajar, atau guru yang bertanya (mengajukan
pertanyaan) dan anak-anak menjawabnya.
10.
Metode Latihan
Metode
ini disebut juga metode training, yaitu suatu cara mengajar untuk
menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga, sebagai sarana
memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini
dapat digunakan untuk
memperoleh
suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
11.
Metode Bercerita
Metode
bercerita ialah cara mengajar dengan bercerita. Pada hakikatnya
metode bercerita
sama dengan metode ceramah. Karena informasi disampaikan melalui
penuturan atau penjelasan lisan dari seseorang kepada orang lain.
12.
Metode Ceramah
Metode
ceramah ialah metode yang boleh dikatakan metode tradisional. Karena
sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi
lisan antara guru
16
dan
anak didik dalam interaksi edukatif.
Dari
penjelasan diatas kita sudah tahu apa itu metode, dasar pertimbangan
memilih metode mengajar, dan macam-macam metode. Sekarang kita masuk
kedalam pembahasan yaitu metode lemah lembut atau kasih sayang. Jadi,
metode lemah lembut atau kasih sayang adalah metode pendidikan atau
cara mendidik anak atau individu atau orang banyak dengan kasih
sayang serta dengan kelembutan.
2.2.METODE
PENGAJARAN YANG LAIN
[Metode
Resitasi].
Ada
beberapa pengertian metode resitasi atau definisi yang dikemukakan
oleh para ahli antara lain sebagai berikut:
1.
Menurut Nana Sudjana:
Tugas
atau resitasi tidak sama dengan pelajaran rumah tetapi jauh lebih
luas dari itu. Tugas dapat merangsang anak untuk lebih aktif belajar
baik secara individual maupun kelompok.[13]
2.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain:
Metode
Penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang diberikan siswa dapat
dilakukan di kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di
perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas
itu dapat dikerjakan.[14]
3.
Menurut Mulyani dan Johan Permana. H:
Metode
pemberian tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksi
belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru yang
dikerjakan peserta didik di sekolah ataupun di rumah secara
perorangan atau kelompok[15]
Berdasarkan
uraian di atas pengertian metode pemberian tugas adalah suatu cara dari
guru dalam proses belajar mengajar untuk mengaktifkan siswa dalam
belajar baik
di sekolah maupun di rumah dan untuk dipertanggung jawabkan kepada
guru.
Dalam Al-Qur’an prinsip metode resitasi dapat dipahami dari ayat yang artinya:
”Sesungguhnya
atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu
pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya
17
maka
ikutilah bacaannya itu”. (QS. Al-Qiyamah [75]: 17-18)[16]
Al-Maraghi
menafsirkan potongan ayat tersebut di atas sebagai berikut:
قرأناه:
اى
قرأة جبريل عليك، فاتبع قرأنه:
اى
فاستمع قرأته وكررها حتى يرسخ فى نفسك.
[17]
Qara’nahu
: dimaksudkan adalah Jibril membacakannya kepadamu.
Fattabi’
qur’anah : maksudnya maka dengarkanlah bacaan dan ulang-ulangilah
agar ia mantap dalam dirimu.[18]
Ayat
tersebut merupakan bentuk pembelajaran al-Qur’an ketika malaikat
Jibril memberikan wahyu (al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad
Shallallahu 'Alayh Wasallam
dengan
membacakannya, maka Nabi Muhammad -Shallallahu 'Alayh Wasallam-
diperintahkan untuk mengulanginya, sehingga Nabi hafal dan bacaan
tersebut dapat membekas dalam dirinya.
Kelebihan
dan Kekurangan Metode Resitasi
1.
Kelebihan Metode Resitasi
Ada
beberapa kelebihan metode resitasi menurut para ahli antara lain:
a.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain kelebihannya:
1)
Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar
individual ataupun
kelompok.
2)
Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru.
3)
Dalam membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
4)
Dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[19]
b.
Menurut Mulyani:
1)
Metode pemberian tugas dapat membuat siswa aktif belajar.
2)
Tugas lebih merangsang siswa untuk lebih banyak, baik waktu
dikelas maupun diluar
kelas atau dengan lain, baik siswa dekat dengan guru maupun jauh dengan
guru.
3)
Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa yang diperlukan
dalam kehidupannya.
4)
Tugas lebih meyakinkan tentang apa yang akan dipelajari dari
guru, lebih memperdalam,
memperkaya, atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.
5)
Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengelola
sendiri informasi
dan komunikasi.
6)
Metode ini dapat membuat siswa bergairah dalam belajar karena
kegiatan-kegiatan
belajar dapat dilakukan dengan berbagai variasi sehingga tidak membosankan.
7)
Metode ini dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
8)
Metode ini dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[20]
2.
Kekurangan Metode Resitasi
Ada
beberapa kekurangan metode Resitasi antara lain :
a)
Siswa sulit dikontrol, apakah benar dia yang mengerjakan tugas
ataukah orang lain.
b)
Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan
dan menyelesaikannya
adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak
berpartisipasi dengan baik.
c)
Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan
individu siswa.
d
) Sering memberikan tugas yang menonton (tak bervariasi) dapat
menimbulkan kebosanan
siswa.[21]
e)
Seringkali anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya
meniru hasil
pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
f)
Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan.[10]
Dari
pengertian diatas tampak bahwa pelaksanaan metode ini banyak menuntut
hakekat siswa sebab anak selalu dituntut oleh guru untuk belajar
sendiri baik itu untuk materi yang sudah diterangkan ataupun yang
belum diterangkan.
Langkah-langkah
Metode Resitasi
Ada
langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode
pembelajaran tugas antara lain :
Fase
Pemberian Tugas
Tugas
yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
a.
Tujuan yang akan dicapai.
b.
Jenis tugas jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang
ditugaskan tersebut
c.
Sesuai dengan kemampuan siswa
d.
Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu siswa.
e.Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
Dalam
fase ini tugas yang diberikan kepada setiap anak didik harus jelas
dan petunjuk-petunjuk
yang diberikan harus terarah.
Langkah
Pelaksanaan Tugas
a.
Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru
b.
Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
c.
Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak orang lain
d.
Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang dia peroleh
dengan baik dan
sistematik.
Dalam
fase ini anak didik belajar (melaksanakan tugas) sesuai tujuan dan
petunjuk- petunjuk guru.
Fase
Mempertanggungjawabkan Tugas
a.
Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah
dikerjakannya.
b.
Ada tanya jawab diskusi kelas
c.
Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes
atau cara lainnya
Dalam
fase ini anak didik mempertanggungjawabkan hasil belajarnya baik
berbentuk laporan lisan maupun tertulis. [22]
Karena
tugas yang dikerjakan pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan maka
siswa akan terdorong untuk mengerjakan secara sungguh-sungguh. Dengan
metode ini sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu lebih
mendalam.
Teknis
Pelaksanaan Metode Resitasi
Tugas
dapat dilaksanakan dalam berbagai kegiatan belajar baik perorangan
atau kelompok.
Adapun pelaksaan yang ditempuh dalam metode ini antara lain:
Adapun pelaksaan yang ditempuh dalam metode ini antara lain:
1.
Pendahuluan [taqdiim]]
Pada
langkah ini perlu mempersiapkan mental murid untuk menerima tugas
yang akan diberikan kepada mereka pada pelajaran inti, Untuk itu
perlu memberikan kejelasan
tentang suatu bahan pelajaran yang dilaksanakan dengan metode ini,
diberikan contoh-contoh yang serupa dengan tugas jika keterangan
telah cukup.
2.
Pelajaran inti:
Guru
memberika tugas, murid melaporkan hasil kerja mereka sementara
gurumengadakan koreksi terhadap tugas-tugas tersebut, da bila
ditemukan kesalahan maka perlu diadakan diskusi.
3.
Penutup:
Pada
langkah ini murid bersama guru mengecek kebenaran sementara murid
disuruh mengulangi tugas itu kembali.[23]
Penerapan
Metode Resitasi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran
pendidikan agama Islam adalah suatu proses yang bertujuan untuk
membantu peserta didik dalam belajar agama Islam.[24]
Dalam
proses belajar mengajar penggunaan satu metode mengajar untuk segala
macam tujuan belajar tentunya tidak efektif . Berbeda tujuan, berbeda
cara mencapainya.
Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dapat menggunakan berbagai
macam metode, antara lain metode resitasi atau metode pemberian
tugas.
Metode
pemberian tugas adalah metode interaksi edukatif dimana murid diberi
tugas khusus (sesuai dengan bahan pelajaran) diluar jam-jam
pelajaran. Dalam pelaksanaannya murid-murid dapat
mengerjakan tugasnya tidak hanya dirumah, tetapi dapat dikerjakan
diperpus, laboratorium, dan lainnya kemudian
dipertanggungjawabkan kepada guru.[25]
Dalam
pendidikan agama Islam, metode interaksi ini sering digunakan,
terutama dalam hal-hal yang bersifat praktis misalnya, setelah
selesai pelajaran berwudhu (di sekolah)
murid-murid
ditugaskan untuk melihat, memperhatikan dan menirukan orangtuannya
atau orang-orang lain dirumah atau masjid yang sedang berwudhu,
kemudian melaporkannya kepada guru di sekolah pada jam pelajaran
berikutnya. Atau contoh lain, menjelang hari raya idul fitri guru
menerangkan tentang masalah zakat fitrah, kemudian murid ditugaskan
untuk membentuk amil zakat yang melaksanakan tugas
mengumpulkan zakat fitrah dan membagikannya kepada orang-orang yang
berhak menerimanya.
Sesuai pelaksanaan tugas ini mereka harus membuat laporan
pertanggungjawaban pelaksanaan tugasnya kepada guru.[26]
4.Kesimpulan.
Metode
artinya cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai
maksud, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan
suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam
menggunakan metode harus mempunyai
dasar
pertimbangan dalam pemilihan metode mengajar.
Ada
beberapa factor yang harus dijadikan dasar pertimbangan pemilihan
metode mengajar.
Dasar
pertimbangan itu bertolak dari factor-faktor:
-
Berpedoman pada Tujuan - Situasi kelas
-
Perbedaan Individual Anak Didik - Kelengakapan fasilitas
-
Kemampuan Guru. - Kelebihan dan
kelemahan
metode
.
-
Sifat Bahan Pelajaran.
Macam-macam
Metode Interaksi Edukatif:
-Metode
proyek - Metode Demonstrasi
-Metode
eksperimen - Metode Karyawisata
-Metode
Pemberian Tugas dan Resitasi - Meode Tanya Jawab
-Metode
Diskusi - Metode Latihan.
-Metode
Bermain Peran - Metode Bercerita.
-Metode
Sosiodrama - Metode Ceramah.
-Metode
Lainnya.
Menyimpulkan
dari isi kandungan hadits Nabi Muhammad -Shallahu 'Alayh Wasallam-
dengan metode pendidikan sekarang.Dengan cara mengintegrasikan antara
komponen metode pendidikan sekarang dan metode shunnah agar bisa
mengevaluasi dan menjalankan amanah pendidikan sesuai shunnah kepada
peserta didik .
3.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) BERKARAKTER.
MENGENAL
EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI
A.
Definisi
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketiga istilah tersebut bermakna
sebagai berikut:
1.
Eksplorasi adalah kegiatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman
baru dari
situasI
yang baru.
2.
Elaborasi adalah penggarapan secara tekun dan cermat.
3.
Konfrimasi adalah pembenaran, penegasan, dan pengesahan
B.
Aplikasi ketiga istilah tersebut dalam rancangan dan proses
pembelajaran.
Pengaplikasian
ketiga istilah tersebut dalam rancangan dan proses pembelajaran
adalah
sebagai
berikut ;
1.
Eksplorasi :
Dalam
kegiatan eksplorasi, guru melibatkan peserta didik dalam mencari dan
menghimpun informasi, menggunakan media untuk memperkaya pengalaman
mengelola informasi,memfasilitasi peserta didik berinteraksi sehingga
peserta didik aktif, medorong peserta didik mengamati berbagai
gejala, menangkap tanda-tanda yang membeda kan dengan gejala pada
peristiwa lain, mengamati objek di lapangan dan labolatorium.Kegiatan
guru dan peserta didik dalam siklus ekplorasi adalah
Peserta
didik :
–
menggali
informasi dengan membaca, berdikusi, atau percobaan
–
mengumpulkan
dan mengolah data
Guru
:
–
menggunakan
berbagai pendekatan dan media
–
memfasilitasi
terjadinya interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru,
dan
peserta
didik dengan sumber belajar
–
melibatkan
peserta didik secara aktif
23
2.
Elaborasi
Dalam
kegiatan elaborasi, guru mendorong peserta didik membaca dan
menuliskan hasil eksplorasi, mendiskusikan, mendengar pendapat, untuk
lebih mendalami sesuatu,menganalisis kekuatan atau kelemahan
argumen, mendalami pengetahuan tentang sesuatu,membangun kesepakatan
melalui kegiatan kooperatif dan kolaborasi,membiasakan
peserta didik membaca dan menulis, menguji prediksi atau hipotesis,
menyimpulkan bersama, dan menyusun laporan atau tulisan, menyajikan
hasil belajar.
Kegiatan
guru dan peserta didik dalam siklus elaborasi adalah
Peserta
didik :
–
melaporkan
hasil eksplorasi secara lisan atau tertulis, baik secara individu
maupun kelompok.
–
menanggapi
laporan atau pendapat teman
–
mengajukan
argumentasi dengan santun.
Guru
:
–
memfasilitasi
peserta didik untuk berpikir kritis,menganalisis,memecahkan masalah,bertindak
tanpa rasa takut [secara wajar]
–
memfasilitasi
peserta didik untuk berkompetisi.
3.
Konfirmasi :
Dalam
kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik terhadap
apa yang dihasilkan peserta didik melalui pengalaman belajar,
memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan kelemahan hasil belajar
dengan menggunakan teori yang dikuasi guru, menambah informasi yang
seharusnya dikuasai peserta didik, mendorong peserta didik untuk
menggunakan pengetahuan lebih lanjut dari sumber yang terpecaya
untuk lebih menguatkan penguasaan kompetensi belajar agar
lebih bermakna.
Setelah
memeperoleh keyakinan, maka peserta didik mengerjakan tugas-tugas
untuk mengasilkan produk belajar yang kongkrit dan kontekstual.Guru
membantu peserta didik menyelesikan masalah dan menerapkan ilmu dalam
aktivitas yang nyata dalam kehidupan
sehari-hari.
Kegiatan
guru dan peserta didik dalam siklus konfirmasi
Peserta
didik :
–
melakukan
refleksi terhadap pengalaman belajarnya
Guru
:
–
memberi
umpan balik positif kepada peserta didik.
–
memberi
konfirmasi melalui berbagai sumber terhadap eksplorasi dan elaborasi.
–
berperan
sebagai narasumber dan fasilitator.
–
memberi
acuan agar peserta didik melakukan pengecekan hasil ekplorasi.
–
memberi
motivasi kepada peserta didik.
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
1.IDENTITAS
MATA PELAJARAN
Sekolah :
Mata
Pelajaran :.
kelas/Modul
:
/
Alokasi
Waktu : 1 x 60
menit
Pertemuan
ke :
Hari,Tgl
/Thn :
| 2.0.STANDAR
KOMPETENSI : |
2.1
|
2.2
|
2.3
|
2.4
|
| 3.0.KOMPETENSI
DASAR : |
3.1
|
3.2
|
3.3
|
3.4
|
4.0.INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI : |
4.1
|
4.2
|
4.3
|
4.4
|
5.0.MATERI
AJAR
|
5.1
|
5.2
|
5.3
|
5.4
|
6.0
|
6.0.METODE
PEMBELAJARAN
|
6.1
|
Tanya
jawab
|
6.2
|
Demontrasi
|
6.3
|
6.4
|
6.5
|
6.6
|
7.
KEGIATAN PEMBELAJARAN
-
Tahap PembelajaranTerlaksanaYaTidak
Pendahuluan- Mengkondisikan siswa untuk menerima pelajaran
- Menghubungkan materi pelajaran lalu dengan pelajaran sekarang
Kegiatan Inti- Eksplorasi
- Memberikan kesempatan kepada siswa
- Memberikan kepada siswa untuk memahami materi
- Memberikan kepada siswa untuk menyebutkan materi.
- Elaborasi
- Dengan penuh percaya diri siswa menyimak penjelasan guru mengenai
- Dengan jujur dan mandiri siswa dapat :
- Menjelaskan pengertian yang dibutuhkan.
- Mampu merinci dan melakukan penggalian materi
- Konfirmasi
- Dengan penuh percaya diri siswa menjawab per tanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru saat pembelajaran berlangsung .
- Dengan semangat tinggi guru memberikan penguatan materi dan pemahaman yang benar.
Penutup :- Secara mandiri menunjuk salah seorang nomor urut siswa untuk merefleksi tentang materi yang telah dibahas bersama.
- Dengan percaya diri menyimpulkan materi untuk memantapkan pemahanan siswa.
- Tindak lanjut (penugasan untuk minggu depan) :
Kerjasama mengerjakan latihan pada LKS/Buku Panduan secara mandiri/berkelompok.
8.0.SUMBER
BELAJAR
|
BENTUK
LATIHAN ATAU UJIAN
|
Demikian
sedikit
yang bisa dipaparkan tentang persiapan KBM semoga
bermanfaat . Wal
ilmu
indallah.
وصلى
الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا
محمد وعلى آله وصحبه
Catatan
kaki:
[1]
Al Mudarris wa Maharratuhut tawjiih karya DR Muhammad bin Abdullah
Ad Duweisy,hal 24.cet DarRisalah
Mesir.
Mesir.
[2]
Sittud Durrar min Ushuli Ahli Atsar Karya Syaikh Abdul Malik bin
Ahmad Ramdhani,hal136 cet Dar
Risalah
Mesir.
[3]
Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 26) dan Menuntut Ilmu
Jalan Menuju Surga (hal. 33)
[4]
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 71, 3116, 7312),
Muslim (no. 1037), Ahmad (IV/92, 95, 96), Ibnu ‘Abdil Barr dalam
Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/122- 123, no. 84), dari Mu’awiyah bin
Abi Sufyan
radhiyallahu’anhu]
[5]
Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 49), Bahjatun Nazhirin
(II/463), Menuntut Ilmu Jalan
Menuju
Surga (hal. 36) dan Syarah Riyadhus -Shalihin (IV/ 286)]
[6]
(Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah
(no. 4112), Al- Baihaqi dalam
Syu’abul
Iman (no. 1708), Ibnu Abi ‘Ashim dalam Az-Zuhd (no. 57), dan
Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’
Bayanil
‘Ilmi (I/150, no. 135), dari AbuHurairah radhiyallahu’anhu]
[7]
Lihat Bahjatun Nazhirin (I/542-543) dan Syarah Riyadhush Shalihin
Terjemah (II/307)
[8]
Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (II/350, 526-527), Ibnu Majah
(no. 227), Ibnu Hibban (no. 87-
At-Ta’liqat),
Ibnu Abi Syaibah (no. 3306), dan Al-Hakim (I/91), dari Abu Hurairah
radhiyallahu’anhu
.-23-
[9]
Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no.
2682 Ibnu Majah (no. 223),
Ahmad
(V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al- Ihsan dan 80 –
Al-Mawarid), Al-Baghawi
dalam
Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’
Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no.
173),
dan Ath-Thahawi dalamMusykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda’
radhiyallahu’anhu
[10]
Hadits shahih, diriwayatkan
oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no.
223),
Ahmad
(V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 –
Al-Mawarid), Al-Baghawi
dalam
Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam
Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no.
173),
dan Ath- Thahawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abud
Darda’ radhiyallahu’anhu.
[11]
HR Al Imam Bukhari
[13]
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar
Baru, 1989), hlm. 81.
[14]
Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar
Mengajar,Jakarta: Rineka Cipta, 2006), edisi
revisi,
hlm. 85.
[15]
Mulyani. S dan Johar Permana, Strategi Belajar Mengajar, (JATENG
DEPDIKBUD Direktorat Jenderal
Pendidikan
Tinggi, 1999), hlm. 151.
[16]
Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam
Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm.
165.
[17]
Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 29, (Beirut: Dar
al-Maraghi, t.th.,), hlm. 150.
[18]
Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, terjemahan,Semarang:
Toha Putra, 1989), hlm. 244.
[19]
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 87.
[20]
Mulyani, op. cit, hlm. 152
[21]
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, loc. cit.,
[22]
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000),
hlm.
198.
[23]
Syaiful Bahri Djamarah,dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 86Arief Armai,
op.cit, hlm. 167
[24]
Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Misaka
Galiza, 2003), hlm. 13
[25]
Zuhirini, dkk, loc. cit
[26]
Zuhairini, dkk, op. cit, hlm.84