Sabtu, 24 November 2018

Fawaid Etika dalam kitab Waratsatul anbiya

Fawaid Etika seorang santri kepada gurunya yang tercantum dalam kitab Waratsatul Anbiyaa karya Syaikh Abdul Malik Al-Qoshim

Berikut akan kami tulis satu bab dari kitab tersebut.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dia berkata,
كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara.” (HR. Bukhari)
Dan inilah ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhu dengan kemuliaan dan kedudukan yang dimilikinya, memegang tali kendali tunggangan Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan berkata,
هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا
“Seperti inilah yang diperintahkan kepada kami untuk berbuat kepada ulama kami.” (dikeluarkan oleh Al-Hakim)
Dan banyak dari kalangan salaf berkata,
ما صليت إلا ودعيت لوالدي ولمشايخي جميعاً
“Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan masyayikhku semuanya.” (As-Siyar: 10/82)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
وإذا كان الرجل قد علمه أستاذ؛ عرف قدر إحسانه إليه وشكره
“Dan jika seseorang telah diajari oleh seorang guru, dia akan tahu kadar kebaikannya dan berterima kasih kepadanya (atas jasa yang telah diberikan -pent).” (Majmu’ Al-Fatawa: 28/17)
Tidaklah akan bersatu antara semangat belajar dengan sifat kesombongan. Tidaklah ilmu itu diperoleh kecuali dengan sikap tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (dengan sungguh-sungguh -pent). Allah berfirman,
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)
Berkata Al-Ghazali,
ومعنى كونه ذا قلب أن يكون قابلاً للعلم والفهم، ثم لا تعنيه القدرة على الفهم حتى يلقي السمع وهو شهيد حاضر القلب؛ ليستقبل كل ما ألقي إليه بحسن الإصغاء والضراعة والشكر والفرح وقبول المنة. وليكن المتعلم لمعلمه كأرض دمثة ـ أي لينة سهلة ـ نالت مطراً غزيراً فتشربت جميع أجزائها وأذعنت لقبوله، ومهما أشار إليه المعلم بطريق في التعلم فليتبعه، وليترك رأيه، إذ التجربة تطلع على دقائق يستغرب سماعها مع أنه يعظم نفعها. فكم من مريض محرور يعالجه الطبيب في بعض أوقاته بالحرارة ليزيد في قوته إلى حد يحتمل صدمة العلاج فيعجب منه من لا خبرة له به
“Dan makna seseorang memiliki hati adalah dia dianugerahi ilmu dan pemahaman. Kemudian tidaklah kemampuan untuk memahami itu bermanfaat sampai mendatangkan pendengaran yang dengannya dia menyaksikan hadirnya hati; untuk menerima semua hal yang disampaikan kepadanya dengan penuh perhatian, rendah hati, rasa terima kasih, suka cita dan menerima pemberian dengan rasa syukur. Dan hendaklah seorang murid terhadap gurunya layaknya tanah yang lunak dan datar, menerima air hujan yang turun sehingga menyerap semuanya dan tunduk menerimanya. Walau bagaimana pun, seorang guru menunjukkan jalan di dalam belajar, maka ikutilah dan tinggalkan pendapat pribadi. Karena dalam percobaan memperlihatkan sesuatu yang rumit untuk mendengarkannya padahal memiliki manfaat yang banyak. Betapa banyak orang yang terkena demam pada suatu waktu diberi obat oleh dokter dengan sesuatu yang panas agar bertambah kekuatannya sampai dapat diobati, sehingga takjub orang yang tidak memiliki pengalaman tentang pengobatan.” (Al-Ihya: 1/50)
Berkata Al-Imam Malik kepada seorang pemuda dari Quraisy,
يا ابن أخي! تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Wahai anak saudaraku! Pelajarilah adab terlebih dahulu sebelum belajar ilmu.” (Hilyah Al-Auliya: 6/330)
Dan ketika Al-Laits bin Sa’d menemui para pencari hadits, kemudian melihat sesuatu yang ada pada mereka dan berkata,
ما هذا؟! أنتم إلى يسير من الأدب أحوج منكم إلى كثير من العلم
“Apa ini?! Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyaknya ilmu.” (Syaraf Ashabul Hadits, hal. 170)
Dan telah berkata Al-Imam Asy-Syafi’i,
لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذل النفس وضيق العيش وخدمة العلماء أفلح
“Tak seorang pun yang menuntut ilmu dengan kekuasaan dan kemuliaan diri kemudian berhasil. Akan tetapi mencarinya dengan kehinaan diri, kesusahan hidup, dan berkhidmat kepada para ulama. Maka dialah yang akan berhasil.” (Majmu’ Al-Fatawa: 1/35)
اصبر على مر الجفا من معلم
فإن رسوب العلم في نفراته
ومن لم يذق مر التعلم ساعة
تجرع ذل الجهل طول حياته
ومن فاته التعليم وقت شبابه
فكبر عليه أربعـاً لوفاته
Bersabarlah atas pedihnya kekerasan seorang guru
Sungguh, kegagalan ilmu jika menjauhinya
Dan barangsiapa yang tidak merasakan pedihnya belajar sesaat
Akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya
Dan barangsiapa hilang (waktunya) menuntut ilmu di waktu muda
Maka bertakbirlah empat kali atas kematiannya.
(Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 29)
Berkata Ar-Rabi’ bin Sulaiman, teman sekaligus murid Asy-Syafi’i yang terkenal,
والله ما اجترأت أن أشرب الماء والشافعي ينظر إلي هيبة له
“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya.”
Berkata Al-Imam Ahmad bin Hanbal,
لزمت هشيماً (ابن بشير) أربع سنين ما سألته عن شيء إلا مرتين هيبة له
“Aku belajar kepada Husyaim (Ibnu Basyir) selama empat tahun dan tidaklah aku bertanya kepadanya tentang sesuatu kecuali hanya dua kali karena segan kepadanya.” (Tadzkirah Al-Huffazh: 1/249)
Dan karena itulah seharusnya seorang yang meminta fatwa menjaga adab kepada orang yang berfatwa, menghormati ketika mengajaknya bicara dan bertanya kepadanya serta hal lainnya. Janganlah menunjuk dengan tangan di hadapannya. Dan janganlah berkata kepadanya, “Apa yang Anda hafal tentang ini dan itu? Apa madzhab imam Anda, Asy-Syafi’i tentang masalah ini dan itu?” Ketika dia telah memberikan jawaban, janganlah berkata kepadanya, “Seperti itulah menurutku.” Atau, “Beginilah yang terpikirkan olehku.” Juga, janganlah berkata, “Telah berfatwa kepadaku Fulan.” Atau, “Telah berfatwa kepada kami dari selain Anda demikian dan demikian.” Janganlah meminta fatwa kepadanya dalam rangka mencela dengan mengatakan, “Jika jawaban Anda sesuai dengan permasalahan tersebut maka tulislah. Jika tidak, maka tak perlu ditulis.” (Adab Al-Mufti wal Mustafti, hal. 168)
Dan kemudian hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kedudukan mereka dan dalam rangka menjaga persatuan serta mengambil faedah dari ilmu yang ada padanya dengan penuh adab dan sikap lembut saat bertanya.
Bahkan telah berkata Asy-Syafi’i,
إذا رأيت رجلاً من أصحاب الحديث كأني رأيت رسول الله
“Jika aku melihat seseorang dari kalangan ashabul hadits, seakan-akan aku melihat Rasulullah.” (Syaraf Ashabul Hadits)
العلم ميراث النبي كـما أتـى
في النص والعلماء هم ورثه
ما خلف المختار غير حديثه فينا
فـذاك مـتاعـه وأثـاثه
Ilmu adalah warisan para Nabi sebagaimana telah datang
di dalam nash, sedangkan ulama adalah pewarisnya
Apa-apa yang Nabi Al-Mukhtar meninggalkan perkataannya kepada kita
Maka itulah harta benda beserta perabotannya
Petunjuk yang baik merupakan sinar dan cahaya dari lentera kenabian. Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الهدى الصالح والسمت الصالح والاقتصاد جزء من خمسة وعشرين جزءاً من النبوة
“Sesungguhnya petunjuk yang baik, baiknya perangai, dan kesederhanaan merupakan bagian dari 25 bagian kenabian.” (HR. Ahmad)
Berkata Yahya bin Mu’adz,
العلماء أرحم بأمة محمد من آبائهم وأمهاتهم
“Ulama lebih sayang terhadap umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka sendiri.”
Dikatakan kepadanya,
كيف ذلك؟
“Bagaimana bisa demikian?”
Beliau berkata,
لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا، وهم يحفظونهم من نار الآخرة
“Dikarenakan ayah dan ibu mereka hanya menjaga dari api dunia sedangkan ulama menjaga mereka dari api akhirat.” (Al-Ihya: 1/22)
Dan ketika seorang Arab Badui melewati Ibnu Mas’ud yang sedang mengajarkan hadits kepada murid-muridnya yang berkumpul di sekitar beliau, berkatalah Arab Badui,
علام اجتمع هؤلاء؟
“Kenapa mereka berkumpul?”
Maka berkatalah Ibnu Mas’ud,
على ميراث محمد يقتسمونه بينهم
“Karena ada warisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka sedang membagi-bagikannya.” (Syaraf Ashabul Hadits)
Berkata Abu Dawud Ath-Thayalisiy,
لولا هذه العصابة (أي الفئة والجماعة وهم أهل العلم) لا ندرس الإسلام
“Sekiranya bukan karena kumpulan orang-orang ini (maksudnya adalah kelompok, jama’ah yakni ahlul ilmi) niscaya Islam tidak akan diajarkan (hilang -pent).”
Berkata Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’dirahimahullah,
Hendaknya seorang penuntut ilmu memiliki adab yang baik terhadap gurunya. Bersyukur kepada Allah atas kemudahan mendapatkan guru yang mengajarinya dari kebodohan, menghidupkan dari kematiannya, dan membangunkan dari tidurnya, serta mengambil kesempatan di setiap waktu dalam mengambil ilmu darinya. Demikian juga, hendaknya dia juga banyak mendoakan gurunya baik saat gurunya dekat atau jauh. Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من صنع إليكم معروفاً فكافئوه، فإن لم تجدوا ما تكافئونه فادعوا له حتى تروا أنكم كافأتموه
“Barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah dengan hal yang serupa. Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu yang serupa untuk membalasnya, maka doakanlah baginya kebaikan sehingga kalian melihat bahwa kalian telah membalas dengan yang sepadan.”
Dan kebaikan mana yang lebih besar dibanding kebaikan ilmu, nasehat, dan bimbingan?! Maka setiap permasalahan yang diambil faedahnya dari seseorang atau sesuatu di atasnya lagi yang terdapat manfaat bagi orang dan yang lainnya, maka hal itu adalah kebaikan dan manfaat yang terus-menerus mengalir bagi pemiliknya. Seorang sahabatku menceritakan kepadaku bahwa dia telah berfatwa mengenai suatu masalah dalam ilmu waris. Sedangkan gurunya telah wafat. Dia bermimpi melihat gurunya membaca di kuburnya dan berkata,
المسألة الفلانية التي أفتيت فيها وصلني أجرها
“Permasalahan yang kamu telah berfatwa padanya, maka pahalanya telah sampai kepadaku.” (Al-Fatawa As-Sa’diyah, hal. 101)
Dan inilah perkara yang telah ma’ruf di dalam syari’at,
من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة
“Barangsiapa yang membuat contoh yang baik maka dia akan mendapatkan pahala orang yang beramal dengannya sampai hari kiamat.”
Saudaraku muslim,
Mencari ilmu itu mudah dan dekat jangkauannya. Dan di antara jalan-jalannya adalah sebagai berikut:
  1. Masuk pada perkualiahan syar’iyyah.
  2. Menghadiri dauroh-dauroh syar’iyyah yang diselenggarakan dari waktu ke waktu.
  3. Selalu mengikuti pelajaran-pelajaran para ulama yang dengannya sebagai balsem bagi luka dan obat bagi penyakit.
  4. Bertanya kepada para ulama baik dengan bertatap muka maupun menghubunginya.
  5. Bersahabat dengan orang-orang baik dan orang-orang shalih.
  6. Mengunjungi para ulama dan mendengarkan ilmu serta nasehat yang disampaikan.
  7. Membaca karya tulis para salafush shalih dan menanyakan perkara yang sulit tentangnya.
  8. Mendengarkan kaset-kaset ceramah ilmiah dari para ulama kita yang mulia.
Janganlah engkau sebagaimana yang dikatakan:
جهلت فعاديت العلوم وأهلهـا
كذا يعادي العلـم من هـو جاهله
ومن كان يهوى أن يرى متصدرا
ويكره «لا أدري» أصيبت مقاتله
Engkau bodoh sehingga engkau memusuhi ilmu dan pemiliknya
Seperti itu juga, ilmu akan memusuhi orang yang bodoh tentangnya
Dan barangsiapa yang ingin terlihat di depannya
Enggan terhadap kata “Aku tidak tahu” maka akan terkena kematiannya.
(Adab Ad-Dunya wad Din, hal. 42)
Dikisahkan, Ibrahim bin Al-Mahdi memasuki tempat Al-Ma’mun yang di sisinya terdapat sekelompok orang yang sedang membahas masalah fikih. Maka beliau berkata,
يا عم، ما عندك فيما يقول هؤلاء؟
“Wahai paman, bagaimana menurutmu tentang ucapan mereka?”
Maka (Ibrahim) menjawab,
يا أمير المؤمنين، شغلونا في الصغر، واشتغلنا في الكبر
“Wahai amirul mukminin, mereka telah menyibukkan kami saat masih kecil, pun di waktu tua kami juga sibuk.”
Maka beliau menjawab,
لم لا تتعلمه اليوم؟
“Tidakkah engkau akan belajar sekarang?”
Dia (Ibrahim) bertanya,
أويحسن بمثلي طلب العلم؟
“Apakah pantas orang sepertiku ini untuk belajar?”
Beliau menjawab,
نعم، والله لأن تموت طالباً للعلم خير من أن تعيش قانعاً بالجهل
“Tentu saja. Demi Allah, engkau meninggal dalam keadaan menuntut ilmu itu lebih baik daripada hidup dalam keadaan rela dengan kebodohan.” (Adab Ad-Dunya wad Din, hal. 49)
Saudaraku yang tercinta,
Berkata Sahl bin ‘Abdillah,
اجهدوا أن لا تلقوا الله إلا ومعكم المحابر
“Bersungguh-sungguhlah kalian agar jangan sampai bertemu dengan Allah kecuali dalam keadaan di sisimu terdapat wadah tinta.” (Syaadzarat Adz-Dzahab: 2/182)
Perhatikanlah perkataan Ibnul Mubarak saat ditanya,
لو أوحي إليك أنك ميت العشية، ما أنت صانع اليوم؟
“Jika diberitahukan kepadamu bahwa anda akan meninggal malam ini, apa yang akan anda lakukan?”
Maka beliau menjawab,
أطلب فيه العلم
“Aku akan mencari ilmu dalam keadaan tersebut.” (Tanbih Al-Ghafilin: 2/467)
Ketika ahli hikmah melihat sesorang yang duduk di atas kitab, maka dia berkata,
سبحان الله! يصون ثيابه ولا يصون كتابه، لصون الكتاب أولى من صون الثياب
“Subhanallah! Dia menjaga pakaiannya akan tetapi tidak menjaga kitabnya. Sungguh menjaga kitab itu lebih utama daripada menjaga pakaian.” (Taqyiid Al-’Ilmhal. 147)
Ketika Ayyub As-Sakhtiyani mendapat kabar tentang kematian seseorang dari ashabul hadits, dia menjadi sedih karena dan terlihat bekasnya. Namun bila sampai kepadanya kabar kematian dari seorang ahlul ibadah, hal tersebut tidak nampak padanya. (Syaraf Ashabul Hadits)
Dan dikatakan,
العلماء سراج الأزمنة، فكل عالم مصباح زمانه يستضيء به أهل عصره. فكن سراج زمانك، بل وسراج بيتك، وسراج نفسك
“Para ulama adalah lentera zaman. Setiap alim adalah lentera bagi zamannya yang dengannya manusia mencarinya. Maka jadilah engkau lentera bagi zamanmu, bahkan lentera bagi rumah dan jiwamu.” (Tanbih Al-Ghafilin: 2/468)
Berkata Abu Darda’,
وكأنه يطل على كثير من الناس في زماننا هذا: اطلبوا العلم فإن لم تطلبوه فحبوا أهله، فإن لم تحبوهم فلا تبغضوهم
“Seolah-olah beliau melihat dengan jelas bahwa kebanyakan manusia di zaman kita ini: Carilah ilmu, jika kalian tidak mencarinya maka cintailah pemiliknya. Jika kalian tidak bisa mencintai mereka maka jangan benci mereka.” (Kitab Az-Zuhud karya Al-Imam Ahmad, hal 200)
Berkata Ali bin Abi Thalib,
العالم أفضل من الصائم القائم الساجد، وإذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها إلا خلف منه
“Seorang ‘alim lebih utama dibandingkan orang yang berpuasa, shalat malam, dan sujud. Jika ada seorang ‘alim yang meninggal dunia maka Islam memiliki satu lubang, yang tidak akan bisa menutupnya kecuali ada penggantinya.” (Al-Ihya: 1/18)
Dan dengan setiap derajat dan kedudukan orang ‘alim, tidaklah semua itu akan terwujud kecuali dengan kemudahan dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Sebagaimana Imam Asy-Syafi’i berkata,
ينبغي للفقيه أن يضع التراب على رأسه تواضعاً لله، وشكراً له
“Hendaknya seorang yang faqih meletakkan tanah di atas kepalanya sebagai bentuk perendahan diri kepada Allah dan bersyukur kepadaNya.” (As-Siyar: 10/53)
Wallahu Ta’ala a’lam

Nasihat, Teguran, dan Pelajaran


[1] Istighfar Palsu
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan,“Orang ini beristighfar akan tetapi hatinya diliputi kefajiran atau dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berdzikir.” (Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, karya al-Khathib al-Baghdadi, Hal. 69)
[2] Niat Menimba Ilmu
Abu Abdillah Ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.” (Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, Hal. 71)
[3] Guru Terbaik
Yusuf bin Al-Husein menceritakan, Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku dengannya,“Kepada siapakah aku duduk atau berteman dan belajar?”. Beliau menjawab, “Hendaknya kamu duduk bersama orang yang dengan melihatnya akan mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya bisa menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Bahkan, kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah selama kamu sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasihat kepadamu dengan perbuatannya, dan tidak menasihatimu dengan ucapannya semata.” (Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, Hal. 71-72)
[4] Rusaknya Hati
Muhammad bin Ya’qub rahimahullah berkata, “Suatu saat aku mendengar Al-Junaid ditanya mengenai hati, ‘faktor apa yang merusak hatiseorang pemuda?” Maka beliau menjawab, “Rasa tamak  atau hawa nafsu dan ambisi.” Lalu beliau ditanya, “Lantas apa yang bisa memperbaiki keadaannya?” Beliau menjawab,“Sikap wara’ atau menjaga diri dari yang diharamkan.” (Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, Hal. 72)
[5] Kenali Dirimu!
Suatu saat ada seorang lelaki berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai orang yang riya’!”. Maka beliau menjawab, “Sejak kapan kamu mengenal namaku? Tidak ada yang mengenal namaku selain kamu.” (Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, Hal. 93)
Beliau tidak menyalahkan seseorang yang merendahkannya denga menyebutnya sebagai pelaku riya’, padahal beliau adalah seorang ulama generasi tabi’in yang terkenal akan keshalehannya. Demikianlah keadaan orang shaleh, mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang penuh dosa. Hati mereka begitu lembut dan suci sehingga setitik dosa pun begitu terasa. Demikian juga Rasulullah, beliau bertaubat kepada Allah 100 kali dalam sehari. Berbeda dengan seseorang yang memiliki hati yang gelap, dosa besar pun tetap membuatnya tersenyum dan berbangga.
[6] Antara Wajah dan Perbuatan
Sebagian orang bijak mengatakan, “Semestinya bagi orang yang berakal untuk senantiasa memperhatikan wajahnya di depan cermin. Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia perburuk dengan perbuatan jelek. Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.” (Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, Hal. 105)
[7] Amalan Setelah Berbuat Dosa
Seorang lelaki menemui seorang ahli ibadah. Ahli ibadah itu bertanya kepadanya, “Apakah kamu pernah melakukan suatu perbuatan dosa?” Dia menjawab, “Iya.” Ahli ibadah itu pun berkata, “Itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa Allah menetapkan hal itu menimpamu?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu ahli ibadah itu berpesan, “Maka sekarang beramallah sampai kamu mengetahui bahwa Allah ‘Azza wa Jallabenar-benar telah menghapus dosa itu darimu.” (Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, Hal. 124)
[8] Kiat Menghafal Hadits
Waqi’ rahimahullah berkata, “Apabila kamu ingin menghafalkan hadis, maka amalkanlah hadis itu.”(Mukadimah az-Zuhd karya Imam Waqi’, Hal. 91)
Waqi’ rahimahullah juga berpesan, “Mintalah pertolongan -kepada Allah- untuk menguatkan hafalan dengan cara mempersedikit dosa.” (Mukadimah az-Zuhd, Hal. 91)
[9] Nikmat dan Adzab
Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 48)
[10] Larut Dalam Pujian dan Celaan
Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian dan membenci celaan dan kritikan.”  (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 51)
[11] Pembersihan Dosa
Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Aku pernah mendapat berita bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang apabila datang waktu shalatmaka dia mengatakan -kepada teman-temannya-, “Berwudhulah kalian, sesungguhnya sebagian ucapan yang tadi kalian katakan lebih kotor daripada hadas.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 53)
[12] Hakikat Syukur
Muhammad bin Ka’ab rahimahullah mengatakan tentang maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 65)
[13] Godaan Perempuan
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Sungguh apabila aku dititipi untuk menjaga sebuah rumah dari permata itu jauh lebih aku senangi daripada harus dititipi seorang perempuan cantik.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 67)
[14] Menimba Ilmu Atau Bekerja
Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi rahimahullah berkata, “Dahulu kami belajar kepada Sufyan Ats-Tsauri. Apabila datang kepadanya seorang lelaki dalam rangka menimba ilmu, maka beliau pun bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu memiliki jalan penghasilan?’ Apabila orang itu mengabarkan bahwa dia dalam keadaan cukup, maka beliau memerintahkannya untuk menimba ilmu. Dan apabila ternyata orang itu belum berkecukupan maka beliau memerintahkannya untuk mencari pekerjaan.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 69-10)
[15] Jangan Sebarkan Kekejian!
Khalid bin Ma’dan rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.” (QS. an-Nuur: 19).” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 71)
[16] Sambutan Yang Indah
Tsabit Al-Bunani rahimahullah berkata, “Dahulu apabila kami datang menemui Anas bin Malik, tatkala beliau melihat kedatangan kami maka beliau minta diambilkan minyak wangi. Kemudian beliau mengusap minyak wangi itu dengan kedua telapak tangannya lalu menyalami saudara-saudaranya yang datang.” (Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 81)
[17] Catat, Hafalkan, dan Sampaikan!
 Yahya bin Khalid Al-Barmaki rahimahullah berkata kepada anaknya, “Dahulu mereka -pendahulu yang salih -mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka dengar. Mereka menghafalkan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka catat. Kemudian mereka menyampaikan sesuatu yang terbaik dari apa yang mereka hafalkan.” (Al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, Hal. 126)
[18] Bukan Amalan Biasa
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Amal yang paling berat ada tiga; dermawan ketika kondisi serba sedikit, bersikap wara’ atau menjauhi keharaman tatkala bersendirian, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang diharapkan dan ditakuti.” (Al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, Hal. 133)
[19] Apalah Artinya Dunia
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seandainya seluruh isi dunia ini dijadikan Halal bagiku, niscaya aku akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan.” (Al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, Hal. 144)
[20] Puncak Syukur
Muhammad bin Al-Hasan rahimahullah menceritakan, As-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?” Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (Al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, Hal. 144)
Ditulis oleh Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi

Senin, 12 November 2018

Ilmu Bahasa Arab

llmu-ilmu Bahasa Arab

         setelah mengemukakan beberapa urgensi tata bahasa arab dan kemajuanya secara ringkas, berikut ini penulis mengetengahkan penjelasan tentang ilmu-ilmu bahasa Arabselain llmu Nahwu.
Bahasa Arab adalah bahasa yang terjaya dari bahasa-bahasa lainnya, terbanyak pramasastranya, hingga ia dapat melayani kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan disegala bidang.
Untuk mengetahui seluk beluk bahasa Arab yang masyhur itu lebih jauh dan untuk menilai keindahan kalimat baik prosa maupun puisi, maka satrawan-sastrawan arab telah menetapkan 13 cabang ilmu yang bertalian dengan bahasa yang disebut dengan “Ulumul Arabiyah
Ulumul Arabiyah” bisa disebut linguistik Arab itu terdiri dari :
1. Ilmu L-ughah : llmu pengetahuan yang menguraikan kata-kata (lafaz) Arab besamaan dengan maknanya. Dengan pengetahuan ini, orang akan dapat mengetahui asal kata dan seluk beluk kata. Tujuan ilmu ini untuk memberikan pedoman dalam percakapan,pidato, surat-menyurat, sehingga seseorang dapat berkata-kata dengan baik dan menulis dengan baik’ pula.
2. Ilmu Nahwu : Ilmu pengetahuan yang membahas prihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini orang dapat mengatahui Arab baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya (mabni), kata yang dapat berubah ( mu’rab).
Tujuanya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan bahasa , untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami AI-Quran dan Hadist, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan.
Alam tata bahasa/ sintaksis Arab, dikenal istilah Fi’iil dan Harf, jumlah Islamiyah dan Fi’liyah serta Syibhu jumlah. Dalam ilmu Nahwu banyak lagi istilah dan persoalan yang dihadapi dapat diteliti dari buku-buku bahwa yang banyak tersebar. Yang dikenal memprakarsai Nahwu adalah Ali bin Ali Thalib beserta sahabatnya.
Peristilahan Nahwu yang berpengaruh kepada bahasa Indonesia adalah yang dikarang oleh Abul Aswat Adduali dan Sibawaihi yang terlebih dahulu dikenal orang Barat. (keterangan lanjutan dapat dilihat dari buku Sejarah Studi bahasa Indonesia oleh Drs. Ahmad Samin 1982. Diktat Fakultas Sastra USU).
3. Ilmu Sarf (morfologi Arab). Ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang bentuk asal kata, maka dengan ilmu ini dapat dikenal kata dasar dan kata bentukan, dikenal pula afiks, Sufiks dan infiks, kata kerja yang sesuai dengan masa. Penciptaan llmu Sarf ini adalah Muaz bin Muslim.
4. Ilmu Isytiqaq : Ilmu pengetahuan tentang asal kata dan pemecahannya, tentang imbuhan pada kata (hampir sama dengan ilmu Sarf)
5. Ilmu L-’arudh : Yang membahas hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra syair dan puisi. llmu Arudh memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair dan tujuanya adalah untuk membedakan proses dalam puisi membedakan syair dan bukan syair .Dengan ilmu arudh ini dikenal bahar syair seperti berikut ini : bahar thawi, bahar madid, bahar basith, bahar wafir, bahar kamil, bahar hijaz, bahar rozaz, bahar sari’ bahar munsarih, bahar khafif, bahar mudhari, bahar muqradmib, bahar mujtas, bahar mutaqarib, bahar Romawi dan bahar mutadarik.
6. Ilmu Qawafi : yang membahas suku terakhir kata dari bait-bait syair sehingga diketahui keindahan syair. Yang memprakarsai adanyaQawafi ialah Muhallil bin Rabi’ah paman Amruul Qaisy.
7. llmu Qardhus Syi’ri yaitu sejenis ilmu pengetahuan tentang karangan yang berirama (lirik), dengan tekanan suara yang tertentu. Gunanya untuk membantu menghafalkan syair dan mempertajam ingatan pembaca syair.
8. Ilmu khat yaitu pengetahuan tentang huruf dan cara merangkaikannya, termasuk bentuk halus kasarnya dan seni menulis dengan indah dapat dibedakan dalam beberapa bentuk mulai dari khat tsulus, Diwan, Parsi dan khat nasakh.Penemu pertama ilmu khat adalah nabi Idriskarena beliaulah yang pertama kali menulis dengan kalam.
9. Ilmu Insyaa yaitu ilmu pengetahuan tentang karang mengarang surat, buku, pidato, cerita artikel, features dan sebagainya. Gunanya untuk menjaga jangan sampai salah dalam dunia karang-mengarang.
10. Ilmu Mukhodarat yaitu pengetahuan tentang cara-cara memperdalam suatu persoalan, untuk diperdebatkan didepan majlis, untu menambah keterampilan berargumentasi, mahir bertutur dan terampil mengungkapkan cerita.
11. Ilmu Badi’ yaitu pengetahuan, tentang seni sastra, Penemu imu ini adalah Abdullah bin Mu’taz. llmu ini ditujukan untuk menguasai seluk beluk sastra sehingga memudahkan seseorang dalam meletakkan kata- sesuai tempatnya sehingga kata-kata tadi berlin bertelindan dengan indah, sedap didengar dan mudah diucapkan.
12. Ilmu Bayan ialah ilmu yang menetapkan beberapa peraturan dan kaedah untuk mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat penemunya adalah Abu Ubaidah yang menyusun pengetahuan ini dalam “Mujazu Al-Quran” kemudian berkembang pada imam Ahu T ,qahir disempurnakan oleh pujangga-pujangga Arab lainnya seperti AI-Jahiz, .lbnu Mu’taz, Qaddamah dan Abu Hilal Al- Asikari. Dengan ilmu ini akan diketahui rahasia bahasa arab dalam prosa dan puisi, keindahan sastra Al-Quran dan Hadist.Tanpa mengetahui ilmu ini seseorang tidak akan dapat menilai apalagi memahami isi AL-Quran dan Sabda nabi dengan sesungguhnya.
13. Ilmu Ma’ani ialah pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai dengan keadaan (situasi dan kondisi) dalam istilah disebutkan “Muthabiq Lil /muqtadhal Hali” tujuannya untuk mengetahui I’jaz Al-Quran, keindahan sastra Al-Quran yang tiada taranya. Demikian pembagian ilmu L-Arabiyah yang disadur dari (pengantar Sastra Arab(Food Said 1985, 98-106).
Jika ditinjau dari segj perbidangan linguistik maka pembagian ilmu bahasa Arab tersebut diatas termasuk bidang interdisiplioner linguistik yang saling terkait satu dan lainnya. Bidang ilmu Balghah (semantik Arab) terangkum dalam komponen ilmu bayan, Ma’ani dan Badi‘.
Maka apabila dilihat dari keterkaitan ilmu-ilmu yang telah disebutkan itu, tak satupun ilmu bahasa Arab itu diabaikan, namun yang terlebih masyhur dikalangan masyarakat Indonesia yang harus benar-benar dipelajari adalah Ilmu Nahwu saja, ini merupakan anggapan yang keliru. Maka untuk mengetahui kebenarannya , penulis mencoba untuk menguraikan sisi keterkaitanya, pada bab- bab yang lain

KARAKTERISTIK BAHASA ARAB

          Bahasa Arab mempunyai ciri-ciri  kekhususan yang tidak terdapat pada bahasa-bahasa lainnya. Kemudian dari kekhususannya ini menjadikan bahasa Arab  sebuh bahasa yang felksibel, mempunyai elastisitas yang tinggi, maka dalam  menjalankan dan mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi, sarana dalam penyampaian tujuan agama, pencatatan berbagai ilmu pengetahua, telah mampu disampaikan dengan mudah dan benar.
Berikut ini adalah yang merupakan keistimewaan bahasa Arab, antara lain :
A. Isytiqaq
            Yang dimaksud dengan isytiqoq adalah pengambilan sighot (bentuk kata) dari sighot yang lain, karena ada persamaan baik dari segi bentuk, maknanya maupun strukturnya dengan beberapa tambahan tertentu yang telah ditetapkan.
Ada dua pendapat ulama mengenai isytiqok ini, antara lain :
1. Ulama Bashrah bahwa sumber isytqoqadalah masdar
2. Ulama Kufah bahwa sumber isytiqaq adala kata kerja (fi`il).
    Isytiqoq menurut ulama bahasa di bagi tiga macam, antara lain:a.      
    a.  Isytiqoq shogir yang aplikasinya melalui tasrif yang kita kenal selama ini yaitu pengembangan lafadz  dari       lafadz  asli dengan syarat adanya kecocokan dari segi makna, huruf dan juga urutannya
Sebagai contoh : 
:    ضرب   -  ضارب  - مضروبbIstiqoq kabirdisebut juga al-qalb al-luqhawi, yaitu adanya persamaan antara dua kata, baik dari segi lafadz maupun dari segi makna, akan tetapi tidak sama dalam urutan huruf sebagai contoh:
حمد – مدح  
  جبد  -  جدب  
c. Isytiqoq Akbar disebut juga al-ibdal al-liqhawi, yaitu menukar suatu huruf yang lain. dalam proses ini huruf yang mengalami pertukaran tidak disyaratkan memiliki makhroj yang sama. Boleh saja terjadi pada setiap hurufkarena yang penting disini adanya kesesuaian makna antara dua lafadz,
sebagai contoh kata :
السراط -  الصراط
yang memiliki makna suatu dengan dua lafadz yang berbeda.
      Isytiqoq al-Kibar atau an-naht(penyingkatan)
An-Naht adalah membuat kata baru yang ambil dari dua unsur kata yang berbeda atau lebih tetapi tetap menunjukan pada makna yang diambil baik berupa isim dan fi`il.Perkembangannya harus sesuai dengan kaidah (wazan) bahasa arab yang terdapat dalam tashrif, sebagai contoh :
بسمله -  حمدله
      Ta`rib (arabisasi)
Yang dimaksud dengan ta`rib disini yakni kata asing yang diambil kedalam bahasa arab, dalam proses ta`rib mungkin terjadi pengurangan, penambahan penukaran sehingga bahasa tersebut menjadi bahasa arab asli sebagai contoh dari kata yang terdapt penambahan dan penukaran : kata (kulit hitam) berasal dari bahasa Persia ditambah alif dan ha ditukar dengan huruf jim.
ارندج  -رند ه
B. Al-Irab
            Keistimewaan bahsa Arab juga disebabkan kehadirannya I`rab, bahkan dapat dikatakan bahwa I`rab adalah ciri khas bahasa  arab. I`rab adalah perubahan bunyi akhir suatu kata dalam kalimat yang disebabkan oleh perbedaan factor (‘amil yang menyertainya, baik amil disebut itu jelas maupun diperkirakan dalam benak’) Perbedaaan tersebut dapt mempengaruhi makna’).
  1. Efek yang di timbulkan terhadap karakat, sebagai contoh :
هدا تلميد  -رأيت تلميدا  - مررت بتلميد
تكتب  - لن تكتب – لم يكتب
  1. Efek ditimbulkan terhadap jumlah sangat elastisitas.
أكل محمد السمك  - السمك أكل محمد – محمد أكل السمك
علي يتعلم اللغة العربية  - جاء ابوه  - حضر المسامون

الجملةالاسمية
الجملة الفعلية
الجملة الخبرية
الجملة الانشائية
الجملة الاستفهامية
الجملة الداعية
Dalam bahasa arab, ada dua gender maskulin dan feminine yang masing-masing mempunyai bentuk yang berbeda-beda, kata ejektif dan kata kerja. Bentuk-bentuk feminin menurut kaidahnya dibentuk dan kata-kata maskulin dengan menambahkan akhiran (sufiks al (atun); kaatib (un) seorang penulis wanita.
Dalam bahasa arab terdapat tiga bentuk bilangan yaitu : Tunggal, ganda dan jamak. Bilangan  dual di bentuk dari kata tunggal dengan menambahkan akhiran aan (aani) untuk kasus nominative dan ayn (ayni) untuk kasus-kasus akusatik dan genetif; untuk maskulin katib kaatibaan (i), dan kaatibyn (i); untuk femini kaatibah (tun)
Kaatibaan (i) dan kaatibayn (i), jika pembentukan kata-kata dual sangat teratur dan sederhana, tetapi tidaklah demikian halnya untuk pembentukan kata-kata jamak.
Dalam bahasa Arab terdapat dua bentuk jamak, yaitu jamak yang beraturan dan jamak yang tidak beraturan. Jamak yang beraturan dengan menambah akhiran pada kata tunggal, sedangkan jamak yang tidak beraturan dibentuk dengan mengadakan perubahan vocal intern kata atau dengan jalan menambahkan prefiks, infiks dan sufiks, sesuai dengan salah satu pola yg terdapat dalam kaidah jamak taksir.
      Jamak maskulin teratur dibentuk dari kata benda tunggal dengan menambahkan akhiran un (una) untuk nominatif dan in (ina) untuk aksatif dan genetif mudaris (guru) mudarrisuun (a). Sebaliknya jamak feminim teratur dibentuk dengan mengganti akhir kata tunggal feminin ah (atun) dengan mengganti akhir kata tunggal feminine ah (atun) dengan aat (atun) dengan alat (aatun) untuk kasus akusatif dan negatif mudarisah, mudarisat (un) dan mudarrisat (in): daftar kata berikut menunjukan beberapa pola kata kerja tak beraturan yang terdiri dari kata benda.
قلم   - أكلام           بيت  - بيوت       كتب  - كتب         رجل -  رجال 
C. Ilmu Balaghah ialah ilmu yang mempelajari gaya bahasa dan rahasia-rahasia yang terkandung dalam bahasa arab, khususnya Al-Qur`an, tegasnya ilmu balaghah ini merupakan ilmu kesustraan bahasa arab.
Sebagai contoh  : di dalam ilmu balaghah ada diterangkan masalah mendahulukan mafulbih, seperti iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iinsedangkan masalah ini adalah ilmu nahwu.
Ilmu balaghah ini mengandung tiga pokok pembahasan :
علم المعاني  - علم البيان  - علم البديع
Ilmu bayan mengandung dua pokok pembahasan .
التشبية  - المجاز  -الكناية
Ilmu Maani  mengandung banyak pokok bahasan, antara lain :
االخبر والانشاء  -  الدكر والحدف   -التقديم والتاخير  -  القصر  -  الوصل  والفصل  -الايجاز والاطناب  - المساواة
Ilmu badi` mengandung dua pokok pembahasan
المحسنات المعنوية  - المحسنات اللفظية
D. Al-Mufrodat
            1.  Setelah al-Qur`an turun, banyak pengertian atau arti kosakata  yang mengalami pergeseran, perubahan makna semantic , seperti dalam contoh  contoh :
لا ريب فيه  -  لا شك
الصبح -  الفجر
قعد  -  جلس
زوج  -  امراة
Kata jauz dan imraah   ditampilkan dalam konteks kehidupan suami istri yang penuh kasih sayang dan memiliki anak keturunan, sedangkan  mempunyai makna istri yang dalam kehidupan suami istri tidak terdapat kasih saying karena ada khianat/ perbedaan akidah dan digambarkan dalam surah yusuf (12;30;51) dan surat at-Tahrim (66;10;11)
            Lafal_lafal dalam al-Qur`an jika diperhatikan dan diteliti secara mendalam akan munculkan kajian baru, sehingga nantinya al-Qur`an bukan hanya sebagai sumber hukum islam antara fiqih dan akhidah tetapi juga merupakan sumber bidang kebahasaan.
            Dalam buku mukjizat Al-Qur`an Quraish shihab hal 97 mengintip pendapat Ibn al Jawzi dalam bukunya dzam –al-Hawa yang menjelaskan peringkat dan macam-macam kata cinta. Kosa kata yang bermakna cinta ini digambarkan dari kata yang paling ringan sampai kepada hal yang paling kuat, sebagai contoh :
علق – ميل -  مودة -  محبة  -  خلة
الهوى  - العشق -  التتيم  -وله 
Demikian contoh tentang kekayaan kosa kata bahasa Arab, serta betapa telitinya bahasa tersebut mamberikan gambaran tentang sesuatu, ini berarti bahwa dalam pemulihan kata untuk menjelaskan atau menjawab sesuatupun  harus dengan kehati-hatian karena jika tidak tepat dalam memilih kata-kata maka boleh jadi membenarkan sesuatu yang sebenarnya menolaknya.
2. Efek Fonologi Terhadap Makna
            Bahasa terdiri atas lambang-lambang, yaitu tanda yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang lain. Didalam bahasa, tanda terdiri dari rangkaian bunyi yang pada ragam tulis dialihkan kedalam tanda-tanda visual yaitu huruf  dan tanda baca. Hubungan antara rangkaian bunyi tertentu dan makna yang dinyatakan bersifat arbiter semata tidak ada hubungan yang wajar antara lambang dan objek yang dilambangkannya (Panuti Sufirman, 1993, hal 9) istetika Al-Qur`an, namun demikian jika ada bunyi lafal yang menyerupai atau menunjuk kepada makna yang dikandung, maka makna itu dianggap lebih Kuba` mudo`ah mengandung arti perulangan.
        Contoh :   Za`za`ah artinya goncangan
                        Qolqalah artinya keributan
                        Solsolah artinya bunyi berderek-derek
Qa`qa`ah artinya gemerincing
Jarjarah artinya bising
                        Qorqorah artinya keroncongan
            Selanjuntnya pengulangan “ain fiil menunjukan kepada makna pengulangan seperti kassara, qatta`a fettaha.
Penyair besar Mesir telah membahas ketertarikan huruf dengan maknanya, misalnya huruf awal fa berkaitan dengan makna jelas atau kejelasan seperti lafal fattaha – fakira, fajara yang mengandung arti membuka gambar dan membelah. Juga huruf awal ha berkaitan dengan makna-makna mulia, seperti hubb, haqq, huriyyah, hayah, hasan, harakah, kikmah.
Tuhan telah menciptakan bahasa Arab sebagai bahasa yang paling mulia dan paling kaya dari segala bahasa. Kekayaan kosa katanya meningkat setelah turunnya Al-Qur`an. Dari kebanyakan bahasa hanya mempunyai kosa kata untuk menyatakan satu barang (benda) maka bahasa arab untuk ‘pedang’ mempunyai delapan ratus kata, untuk ‘surga’ lima ratus kata, untuk ‘ular’ dua ratus kata dan sebagainya.

E.Al-Dalaalah
            Ad-Dalaalah atau Semantic
            Ilmu dalalah disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistic yang memepelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi  linguistik yang mempelajari makna/ arti dalam bahasa arab mengenai jenis-jenis makna. Mukhtar umar membaginya kepada lima jenis
1.      Al-Ma’na al-asasiy adalah makna kata yang melakat pada sebuah kata.
2.      Al-Ma`na al-ishafy adalah makna yang terkandung dalam sebuah kata disamping makna sebenarnya yang melekat pada kata tersebut.
3.      Al-Ma`na al –ushuby makna yang berkenaan dengan gaya pemilihan kata didalam masyarakat sehubungan adanya perbedaan sossial, geografi tingkat pendidikan.
4.      Al-ma`na al-nafsy makna yang terkait pada orang tertentu tetapi tidak untuk umum.
5.      Al-Ma`na al-ihaiy maka yang terkandung dalam sebuah kata yang menunujukan kepada seseorang yang berkenaan adanya kata itu dengan keadaan diluar bahasa.
Dalam kajian ini ada lafal-lafal bahasa Arab yang dihubungkan dengan lafal-lafal lainnya dan dikaitkan dengan pemakaiannya dan kita kenal dengan sebutan at-taraduf al-musytaraq lafdzhi dan at-tadhodz.
Taraduf secara harfiah  berarti sesuatu mengikuti sesuatu sedangkan kata    taraaduf           itu sendiri berarti sesuatu yang saling mengikuti, sedangkan secara etimologi definisi Taraduf menurut Dr. Taufik Muhammad Salim beberapa kata menunjukan arti yang sama.
     Contoh :           Zauj – imara`ah
                             As-subh – al-fajr
                             Al-qamka – an –nabr – al-hantatun
     Al-Musytarak – al-lafidziy
     A-Musytarak al – lafdziy dalam bahasa indonesianya adalah kata-kata yang sama bunyinya tetapi mengandung arti dan pengertian berbeda.
     Contoh : 1. Syahaadah mengandung sepuluh arti/makna
                        Antara lain : Observasi, menyaksikan, melihat, yakni, beraksi, DLL
     Contoh : 2. Quru` yang berarti siang atau siang malam

     At- Tadzodz atau Antonim.
     Para ahli bahasa Arab mendefinisikan antonim dengan menggunakan satu kata untuk dua pengertian yang berlawanan seperti.
الموت  - الحي
البياض  -  البيضاء
Muncul dan berkembangnya ilmu Nahu karena beberapa factor, antara lain ;
1.      Karena adanya … (ujaran yang tidak benar)
Perhatian yang sangat besar untuk melakukan modifikasi bahasa arab menjadi alat komunikasi yang efektif. Perluasan daerah kekuasaan islam yang amat cepat telah menyebabkan banyaknya orang-orang non Arab yang masuk islam, sehingga mengakibatkan terjadinya suatu proses arabisasi yang besar-besaran. Hal ini menimbulkan dan mengakibatkan perkembangan bahasa yang tak diperkirakan sebelumnya. Bahasa Arab yang masih dalam keadaan sederhana, tiba-tiba berada jauh diluar semenanjung Arabia.. Bahkan bahasa Arab telah menjadi bahasa yang dapat memenuhi alat komunikasi antar kabilah. Tetapi hal  itu tidak demikian halnya, ketika bahasa Arab menjadi bahasa untuk sedemikian banyaknya negeri asing, sejak awal situasi ini telah menimbulkan masalah kebahasaan yang sangat pelik tidak hanya bagi orang arab sendiri, tetapi juga bagi orang-orang asing yang baru masuk islam. Dari persoalan tersebut muncul ujaran dalam bahasa Arab yang tidak benar, tidak fasih yang dinamakan (lahn) yang keluar dari kemurnian bahasa Arab Padahal bahasa Arab senantiasa menekankan keserasian, kesempurnaan seperti apa yang dicontohkan oleh struktur Al-Quran, dialek Quraisy dan puisi-puisa lama tanpa ada pengaruh asing.
2.      Munculnya perbedaan Bacaan Al-Qur’an
3.      Pada masa Khalifah Abu Bakr terjadi kemurtadan yang menyebabkan timbulnya perang Ridda, akibat perang ini banyak sekali penghafal Al-Quran yang gugur, lalu atas inisiatif Umar Bin Khattab AlQur’an mulai ditulis dan dikumpulkan. Pada masa Ustman bin Affan, perhatian terhadap Al –Quran semakin besar terbukti banyaknya pembaca Al-Qur’an dan mereka saling menganggap benar hafalannya,sehingga mereka mengatakan bacaan saya lebih utama/benar daripada bacaan kamu. Keadaan ini membuat Ustman merasa khawatir akan kemurnian Al-Qur’an karena perbedaan tersebut. Kemudian Ustman menjadikan Al-Quran yang ada sekarang merupakan karya besar dimasa pemerintahannya.
  1.  Keinginan memahami Al-Qur’an
Dokumen yang paling baik dan terpercaya tentang keadaan AlQur’an yang berisi ajaran Islam. Penyebaran dan perkembangan islam menyebabkanAl-Quran menjadi kitab yang paling sempurna dan paling dimuliakan, Al-Qur’an telah membawa seperangkat nilai-nilai baru,ungkapan-ungkapan baru dan konsep-konsep tentang kehidupan yang belum ada sebelumnya. Dan AlQuran telah memberikan cakupan dan wawasan dalam akidah ritual, hokum politik dan sebagainya. Dari fenomena ini semua kaum muslimin mempunyai ambisi yang luar biasa keinginan memahami Al-Qur’an.
  1. Kesadaran  muncul dari kalangan orang Arab
     Kesadaran yang muncul dari orang-orang arab ini bahwa mereka menyadari peran     bahasa Arab yang sangat luar biasa dalam berbagai sarana dan juga bahasa Arab merupakan mukjat Al-Quran dari aspek kebahasaannya. Dari keutamaan itulah bangsa arab berupaya agar bahasa Arab selalu exis dalam menghadapi berbagai kemajuan zaman.

F.Balaghah.
 Balaghah adalah merupakan ilmu yang ada dalam ilmu kabahasaan dan berfungsi sebagai alat untuk  memahami kandungan-kandungan  maknaAl-Qur’an secara benar yang merupakan Kalamullah bukan syair yang berpatokan kepada ar-rudh dan qawafi tetapi Al-Qur’an diciptakan Allah dengan memancarakan keindahan nada dan langgamnya, susunannya singkat dan padat, memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan, memuaskan akal dan jiwa kemudahan dan ketetapan maknanya. Tanpa memahami ilmu Balaghah ini, orang tidak mungkin dapat memahami secara pasti yang terkandung pada isi ayat-ayat yang mulia itu.
-         Pada masa Jahiliyah tercermin kesempurnaan bahasa yang terdapat pada syair mereka yang dinamakan Al-Muallaqat.
-         Pada masa permulaan Islam dalam pidato banyak menirukan uslub-ushub Al-Qur’an dan memakai kata-kata yang bersifat religius
-         Pada masa Daulah Umayyah berlomba-lomba berpidato dan  para ahli pidato ini bermunculan yang menirukan ushlub-ushlub Al-Qur’an sebagai pidatonya.
-          Contoh An-Nushush al –Adabiyah.
       Anta syamsun anta badrun
       Anta nuurun fauqo nuurin
Pada masa Daulah Abasiyyah pembakuan ilmu balaghah dengan   munculnya                                     penemuanAl-Jahiz,           Abd Qahir, Al-Jurzain,  Al-Badi”    Al-khatib  Qazwaini

D  Ilmu Dalalah muncul karena keanekaragaman lafadh dalam Al Qur’an yang membuat mereka berusaha memahami makna yang terkandung dalam kitab yang mulia itu.Tidak berbeda dengan tumbuhnya ilmu nahwu, untuk menjaga kemurnian Al-Quran dan hal ini sudah banyak dilakukan oleh para ahli bahasa Arab . Dengan banyaknya perhatian terhadap studi makna ini juga dalam rangka menjaga kemurnian bahasa Arab, hal ini dapat dilihat dari dua aspek.
Tataran teoritis yakni adanya hubungan semantic damn mufradat
Tataran praktis adanya upaya penyusunan kamus yang dilakukan oleh Al-KHalil bin Ahmad al-Farahidi