Senin, 12 November 2018

Ilmu Bahasa Arab

llmu-ilmu Bahasa Arab

         setelah mengemukakan beberapa urgensi tata bahasa arab dan kemajuanya secara ringkas, berikut ini penulis mengetengahkan penjelasan tentang ilmu-ilmu bahasa Arabselain llmu Nahwu.
Bahasa Arab adalah bahasa yang terjaya dari bahasa-bahasa lainnya, terbanyak pramasastranya, hingga ia dapat melayani kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan disegala bidang.
Untuk mengetahui seluk beluk bahasa Arab yang masyhur itu lebih jauh dan untuk menilai keindahan kalimat baik prosa maupun puisi, maka satrawan-sastrawan arab telah menetapkan 13 cabang ilmu yang bertalian dengan bahasa yang disebut dengan “Ulumul Arabiyah
Ulumul Arabiyah” bisa disebut linguistik Arab itu terdiri dari :
1. Ilmu L-ughah : llmu pengetahuan yang menguraikan kata-kata (lafaz) Arab besamaan dengan maknanya. Dengan pengetahuan ini, orang akan dapat mengetahui asal kata dan seluk beluk kata. Tujuan ilmu ini untuk memberikan pedoman dalam percakapan,pidato, surat-menyurat, sehingga seseorang dapat berkata-kata dengan baik dan menulis dengan baik’ pula.
2. Ilmu Nahwu : Ilmu pengetahuan yang membahas prihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini orang dapat mengatahui Arab baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya (mabni), kata yang dapat berubah ( mu’rab).
Tujuanya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan bahasa , untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami AI-Quran dan Hadist, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan.
Alam tata bahasa/ sintaksis Arab, dikenal istilah Fi’iil dan Harf, jumlah Islamiyah dan Fi’liyah serta Syibhu jumlah. Dalam ilmu Nahwu banyak lagi istilah dan persoalan yang dihadapi dapat diteliti dari buku-buku bahwa yang banyak tersebar. Yang dikenal memprakarsai Nahwu adalah Ali bin Ali Thalib beserta sahabatnya.
Peristilahan Nahwu yang berpengaruh kepada bahasa Indonesia adalah yang dikarang oleh Abul Aswat Adduali dan Sibawaihi yang terlebih dahulu dikenal orang Barat. (keterangan lanjutan dapat dilihat dari buku Sejarah Studi bahasa Indonesia oleh Drs. Ahmad Samin 1982. Diktat Fakultas Sastra USU).
3. Ilmu Sarf (morfologi Arab). Ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang bentuk asal kata, maka dengan ilmu ini dapat dikenal kata dasar dan kata bentukan, dikenal pula afiks, Sufiks dan infiks, kata kerja yang sesuai dengan masa. Penciptaan llmu Sarf ini adalah Muaz bin Muslim.
4. Ilmu Isytiqaq : Ilmu pengetahuan tentang asal kata dan pemecahannya, tentang imbuhan pada kata (hampir sama dengan ilmu Sarf)
5. Ilmu L-’arudh : Yang membahas hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra syair dan puisi. llmu Arudh memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair dan tujuanya adalah untuk membedakan proses dalam puisi membedakan syair dan bukan syair .Dengan ilmu arudh ini dikenal bahar syair seperti berikut ini : bahar thawi, bahar madid, bahar basith, bahar wafir, bahar kamil, bahar hijaz, bahar rozaz, bahar sari’ bahar munsarih, bahar khafif, bahar mudhari, bahar muqradmib, bahar mujtas, bahar mutaqarib, bahar Romawi dan bahar mutadarik.
6. Ilmu Qawafi : yang membahas suku terakhir kata dari bait-bait syair sehingga diketahui keindahan syair. Yang memprakarsai adanyaQawafi ialah Muhallil bin Rabi’ah paman Amruul Qaisy.
7. llmu Qardhus Syi’ri yaitu sejenis ilmu pengetahuan tentang karangan yang berirama (lirik), dengan tekanan suara yang tertentu. Gunanya untuk membantu menghafalkan syair dan mempertajam ingatan pembaca syair.
8. Ilmu khat yaitu pengetahuan tentang huruf dan cara merangkaikannya, termasuk bentuk halus kasarnya dan seni menulis dengan indah dapat dibedakan dalam beberapa bentuk mulai dari khat tsulus, Diwan, Parsi dan khat nasakh.Penemu pertama ilmu khat adalah nabi Idriskarena beliaulah yang pertama kali menulis dengan kalam.
9. Ilmu Insyaa yaitu ilmu pengetahuan tentang karang mengarang surat, buku, pidato, cerita artikel, features dan sebagainya. Gunanya untuk menjaga jangan sampai salah dalam dunia karang-mengarang.
10. Ilmu Mukhodarat yaitu pengetahuan tentang cara-cara memperdalam suatu persoalan, untuk diperdebatkan didepan majlis, untu menambah keterampilan berargumentasi, mahir bertutur dan terampil mengungkapkan cerita.
11. Ilmu Badi’ yaitu pengetahuan, tentang seni sastra, Penemu imu ini adalah Abdullah bin Mu’taz. llmu ini ditujukan untuk menguasai seluk beluk sastra sehingga memudahkan seseorang dalam meletakkan kata- sesuai tempatnya sehingga kata-kata tadi berlin bertelindan dengan indah, sedap didengar dan mudah diucapkan.
12. Ilmu Bayan ialah ilmu yang menetapkan beberapa peraturan dan kaedah untuk mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat penemunya adalah Abu Ubaidah yang menyusun pengetahuan ini dalam “Mujazu Al-Quran” kemudian berkembang pada imam Ahu T ,qahir disempurnakan oleh pujangga-pujangga Arab lainnya seperti AI-Jahiz, .lbnu Mu’taz, Qaddamah dan Abu Hilal Al- Asikari. Dengan ilmu ini akan diketahui rahasia bahasa arab dalam prosa dan puisi, keindahan sastra Al-Quran dan Hadist.Tanpa mengetahui ilmu ini seseorang tidak akan dapat menilai apalagi memahami isi AL-Quran dan Sabda nabi dengan sesungguhnya.
13. Ilmu Ma’ani ialah pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai dengan keadaan (situasi dan kondisi) dalam istilah disebutkan “Muthabiq Lil /muqtadhal Hali” tujuannya untuk mengetahui I’jaz Al-Quran, keindahan sastra Al-Quran yang tiada taranya. Demikian pembagian ilmu L-Arabiyah yang disadur dari (pengantar Sastra Arab(Food Said 1985, 98-106).
Jika ditinjau dari segj perbidangan linguistik maka pembagian ilmu bahasa Arab tersebut diatas termasuk bidang interdisiplioner linguistik yang saling terkait satu dan lainnya. Bidang ilmu Balghah (semantik Arab) terangkum dalam komponen ilmu bayan, Ma’ani dan Badi‘.
Maka apabila dilihat dari keterkaitan ilmu-ilmu yang telah disebutkan itu, tak satupun ilmu bahasa Arab itu diabaikan, namun yang terlebih masyhur dikalangan masyarakat Indonesia yang harus benar-benar dipelajari adalah Ilmu Nahwu saja, ini merupakan anggapan yang keliru. Maka untuk mengetahui kebenarannya , penulis mencoba untuk menguraikan sisi keterkaitanya, pada bab- bab yang lain

KARAKTERISTIK BAHASA ARAB

          Bahasa Arab mempunyai ciri-ciri  kekhususan yang tidak terdapat pada bahasa-bahasa lainnya. Kemudian dari kekhususannya ini menjadikan bahasa Arab  sebuh bahasa yang felksibel, mempunyai elastisitas yang tinggi, maka dalam  menjalankan dan mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi, sarana dalam penyampaian tujuan agama, pencatatan berbagai ilmu pengetahua, telah mampu disampaikan dengan mudah dan benar.
Berikut ini adalah yang merupakan keistimewaan bahasa Arab, antara lain :
A. Isytiqaq
            Yang dimaksud dengan isytiqoq adalah pengambilan sighot (bentuk kata) dari sighot yang lain, karena ada persamaan baik dari segi bentuk, maknanya maupun strukturnya dengan beberapa tambahan tertentu yang telah ditetapkan.
Ada dua pendapat ulama mengenai isytiqok ini, antara lain :
1. Ulama Bashrah bahwa sumber isytqoqadalah masdar
2. Ulama Kufah bahwa sumber isytiqaq adala kata kerja (fi`il).
    Isytiqoq menurut ulama bahasa di bagi tiga macam, antara lain:a.      
    a.  Isytiqoq shogir yang aplikasinya melalui tasrif yang kita kenal selama ini yaitu pengembangan lafadz  dari       lafadz  asli dengan syarat adanya kecocokan dari segi makna, huruf dan juga urutannya
Sebagai contoh : 
:    ضرب   -  ضارب  - مضروبbIstiqoq kabirdisebut juga al-qalb al-luqhawi, yaitu adanya persamaan antara dua kata, baik dari segi lafadz maupun dari segi makna, akan tetapi tidak sama dalam urutan huruf sebagai contoh:
حمد – مدح  
  جبد  -  جدب  
c. Isytiqoq Akbar disebut juga al-ibdal al-liqhawi, yaitu menukar suatu huruf yang lain. dalam proses ini huruf yang mengalami pertukaran tidak disyaratkan memiliki makhroj yang sama. Boleh saja terjadi pada setiap hurufkarena yang penting disini adanya kesesuaian makna antara dua lafadz,
sebagai contoh kata :
السراط -  الصراط
yang memiliki makna suatu dengan dua lafadz yang berbeda.
      Isytiqoq al-Kibar atau an-naht(penyingkatan)
An-Naht adalah membuat kata baru yang ambil dari dua unsur kata yang berbeda atau lebih tetapi tetap menunjukan pada makna yang diambil baik berupa isim dan fi`il.Perkembangannya harus sesuai dengan kaidah (wazan) bahasa arab yang terdapat dalam tashrif, sebagai contoh :
بسمله -  حمدله
      Ta`rib (arabisasi)
Yang dimaksud dengan ta`rib disini yakni kata asing yang diambil kedalam bahasa arab, dalam proses ta`rib mungkin terjadi pengurangan, penambahan penukaran sehingga bahasa tersebut menjadi bahasa arab asli sebagai contoh dari kata yang terdapt penambahan dan penukaran : kata (kulit hitam) berasal dari bahasa Persia ditambah alif dan ha ditukar dengan huruf jim.
ارندج  -رند ه
B. Al-Irab
            Keistimewaan bahsa Arab juga disebabkan kehadirannya I`rab, bahkan dapat dikatakan bahwa I`rab adalah ciri khas bahasa  arab. I`rab adalah perubahan bunyi akhir suatu kata dalam kalimat yang disebabkan oleh perbedaan factor (‘amil yang menyertainya, baik amil disebut itu jelas maupun diperkirakan dalam benak’) Perbedaaan tersebut dapt mempengaruhi makna’).
  1. Efek yang di timbulkan terhadap karakat, sebagai contoh :
هدا تلميد  -رأيت تلميدا  - مررت بتلميد
تكتب  - لن تكتب – لم يكتب
  1. Efek ditimbulkan terhadap jumlah sangat elastisitas.
أكل محمد السمك  - السمك أكل محمد – محمد أكل السمك
علي يتعلم اللغة العربية  - جاء ابوه  - حضر المسامون

الجملةالاسمية
الجملة الفعلية
الجملة الخبرية
الجملة الانشائية
الجملة الاستفهامية
الجملة الداعية
Dalam bahasa arab, ada dua gender maskulin dan feminine yang masing-masing mempunyai bentuk yang berbeda-beda, kata ejektif dan kata kerja. Bentuk-bentuk feminin menurut kaidahnya dibentuk dan kata-kata maskulin dengan menambahkan akhiran (sufiks al (atun); kaatib (un) seorang penulis wanita.
Dalam bahasa arab terdapat tiga bentuk bilangan yaitu : Tunggal, ganda dan jamak. Bilangan  dual di bentuk dari kata tunggal dengan menambahkan akhiran aan (aani) untuk kasus nominative dan ayn (ayni) untuk kasus-kasus akusatik dan genetif; untuk maskulin katib kaatibaan (i), dan kaatibyn (i); untuk femini kaatibah (tun)
Kaatibaan (i) dan kaatibayn (i), jika pembentukan kata-kata dual sangat teratur dan sederhana, tetapi tidaklah demikian halnya untuk pembentukan kata-kata jamak.
Dalam bahasa Arab terdapat dua bentuk jamak, yaitu jamak yang beraturan dan jamak yang tidak beraturan. Jamak yang beraturan dengan menambah akhiran pada kata tunggal, sedangkan jamak yang tidak beraturan dibentuk dengan mengadakan perubahan vocal intern kata atau dengan jalan menambahkan prefiks, infiks dan sufiks, sesuai dengan salah satu pola yg terdapat dalam kaidah jamak taksir.
      Jamak maskulin teratur dibentuk dari kata benda tunggal dengan menambahkan akhiran un (una) untuk nominatif dan in (ina) untuk aksatif dan genetif mudaris (guru) mudarrisuun (a). Sebaliknya jamak feminim teratur dibentuk dengan mengganti akhir kata tunggal feminin ah (atun) dengan mengganti akhir kata tunggal feminine ah (atun) dengan aat (atun) dengan alat (aatun) untuk kasus akusatif dan negatif mudarisah, mudarisat (un) dan mudarrisat (in): daftar kata berikut menunjukan beberapa pola kata kerja tak beraturan yang terdiri dari kata benda.
قلم   - أكلام           بيت  - بيوت       كتب  - كتب         رجل -  رجال 
C. Ilmu Balaghah ialah ilmu yang mempelajari gaya bahasa dan rahasia-rahasia yang terkandung dalam bahasa arab, khususnya Al-Qur`an, tegasnya ilmu balaghah ini merupakan ilmu kesustraan bahasa arab.
Sebagai contoh  : di dalam ilmu balaghah ada diterangkan masalah mendahulukan mafulbih, seperti iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iinsedangkan masalah ini adalah ilmu nahwu.
Ilmu balaghah ini mengandung tiga pokok pembahasan :
علم المعاني  - علم البيان  - علم البديع
Ilmu bayan mengandung dua pokok pembahasan .
التشبية  - المجاز  -الكناية
Ilmu Maani  mengandung banyak pokok bahasan, antara lain :
االخبر والانشاء  -  الدكر والحدف   -التقديم والتاخير  -  القصر  -  الوصل  والفصل  -الايجاز والاطناب  - المساواة
Ilmu badi` mengandung dua pokok pembahasan
المحسنات المعنوية  - المحسنات اللفظية
D. Al-Mufrodat
            1.  Setelah al-Qur`an turun, banyak pengertian atau arti kosakata  yang mengalami pergeseran, perubahan makna semantic , seperti dalam contoh  contoh :
لا ريب فيه  -  لا شك
الصبح -  الفجر
قعد  -  جلس
زوج  -  امراة
Kata jauz dan imraah   ditampilkan dalam konteks kehidupan suami istri yang penuh kasih sayang dan memiliki anak keturunan, sedangkan  mempunyai makna istri yang dalam kehidupan suami istri tidak terdapat kasih saying karena ada khianat/ perbedaan akidah dan digambarkan dalam surah yusuf (12;30;51) dan surat at-Tahrim (66;10;11)
            Lafal_lafal dalam al-Qur`an jika diperhatikan dan diteliti secara mendalam akan munculkan kajian baru, sehingga nantinya al-Qur`an bukan hanya sebagai sumber hukum islam antara fiqih dan akhidah tetapi juga merupakan sumber bidang kebahasaan.
            Dalam buku mukjizat Al-Qur`an Quraish shihab hal 97 mengintip pendapat Ibn al Jawzi dalam bukunya dzam –al-Hawa yang menjelaskan peringkat dan macam-macam kata cinta. Kosa kata yang bermakna cinta ini digambarkan dari kata yang paling ringan sampai kepada hal yang paling kuat, sebagai contoh :
علق – ميل -  مودة -  محبة  -  خلة
الهوى  - العشق -  التتيم  -وله 
Demikian contoh tentang kekayaan kosa kata bahasa Arab, serta betapa telitinya bahasa tersebut mamberikan gambaran tentang sesuatu, ini berarti bahwa dalam pemulihan kata untuk menjelaskan atau menjawab sesuatupun  harus dengan kehati-hatian karena jika tidak tepat dalam memilih kata-kata maka boleh jadi membenarkan sesuatu yang sebenarnya menolaknya.
2. Efek Fonologi Terhadap Makna
            Bahasa terdiri atas lambang-lambang, yaitu tanda yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang lain. Didalam bahasa, tanda terdiri dari rangkaian bunyi yang pada ragam tulis dialihkan kedalam tanda-tanda visual yaitu huruf  dan tanda baca. Hubungan antara rangkaian bunyi tertentu dan makna yang dinyatakan bersifat arbiter semata tidak ada hubungan yang wajar antara lambang dan objek yang dilambangkannya (Panuti Sufirman, 1993, hal 9) istetika Al-Qur`an, namun demikian jika ada bunyi lafal yang menyerupai atau menunjuk kepada makna yang dikandung, maka makna itu dianggap lebih Kuba` mudo`ah mengandung arti perulangan.
        Contoh :   Za`za`ah artinya goncangan
                        Qolqalah artinya keributan
                        Solsolah artinya bunyi berderek-derek
Qa`qa`ah artinya gemerincing
Jarjarah artinya bising
                        Qorqorah artinya keroncongan
            Selanjuntnya pengulangan “ain fiil menunjukan kepada makna pengulangan seperti kassara, qatta`a fettaha.
Penyair besar Mesir telah membahas ketertarikan huruf dengan maknanya, misalnya huruf awal fa berkaitan dengan makna jelas atau kejelasan seperti lafal fattaha – fakira, fajara yang mengandung arti membuka gambar dan membelah. Juga huruf awal ha berkaitan dengan makna-makna mulia, seperti hubb, haqq, huriyyah, hayah, hasan, harakah, kikmah.
Tuhan telah menciptakan bahasa Arab sebagai bahasa yang paling mulia dan paling kaya dari segala bahasa. Kekayaan kosa katanya meningkat setelah turunnya Al-Qur`an. Dari kebanyakan bahasa hanya mempunyai kosa kata untuk menyatakan satu barang (benda) maka bahasa arab untuk ‘pedang’ mempunyai delapan ratus kata, untuk ‘surga’ lima ratus kata, untuk ‘ular’ dua ratus kata dan sebagainya.

E.Al-Dalaalah
            Ad-Dalaalah atau Semantic
            Ilmu dalalah disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistic yang memepelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi  linguistik yang mempelajari makna/ arti dalam bahasa arab mengenai jenis-jenis makna. Mukhtar umar membaginya kepada lima jenis
1.      Al-Ma’na al-asasiy adalah makna kata yang melakat pada sebuah kata.
2.      Al-Ma`na al-ishafy adalah makna yang terkandung dalam sebuah kata disamping makna sebenarnya yang melekat pada kata tersebut.
3.      Al-Ma`na al –ushuby makna yang berkenaan dengan gaya pemilihan kata didalam masyarakat sehubungan adanya perbedaan sossial, geografi tingkat pendidikan.
4.      Al-ma`na al-nafsy makna yang terkait pada orang tertentu tetapi tidak untuk umum.
5.      Al-Ma`na al-ihaiy maka yang terkandung dalam sebuah kata yang menunujukan kepada seseorang yang berkenaan adanya kata itu dengan keadaan diluar bahasa.
Dalam kajian ini ada lafal-lafal bahasa Arab yang dihubungkan dengan lafal-lafal lainnya dan dikaitkan dengan pemakaiannya dan kita kenal dengan sebutan at-taraduf al-musytaraq lafdzhi dan at-tadhodz.
Taraduf secara harfiah  berarti sesuatu mengikuti sesuatu sedangkan kata    taraaduf           itu sendiri berarti sesuatu yang saling mengikuti, sedangkan secara etimologi definisi Taraduf menurut Dr. Taufik Muhammad Salim beberapa kata menunjukan arti yang sama.
     Contoh :           Zauj – imara`ah
                             As-subh – al-fajr
                             Al-qamka – an –nabr – al-hantatun
     Al-Musytarak – al-lafidziy
     A-Musytarak al – lafdziy dalam bahasa indonesianya adalah kata-kata yang sama bunyinya tetapi mengandung arti dan pengertian berbeda.
     Contoh : 1. Syahaadah mengandung sepuluh arti/makna
                        Antara lain : Observasi, menyaksikan, melihat, yakni, beraksi, DLL
     Contoh : 2. Quru` yang berarti siang atau siang malam

     At- Tadzodz atau Antonim.
     Para ahli bahasa Arab mendefinisikan antonim dengan menggunakan satu kata untuk dua pengertian yang berlawanan seperti.
الموت  - الحي
البياض  -  البيضاء
Muncul dan berkembangnya ilmu Nahu karena beberapa factor, antara lain ;
1.      Karena adanya … (ujaran yang tidak benar)
Perhatian yang sangat besar untuk melakukan modifikasi bahasa arab menjadi alat komunikasi yang efektif. Perluasan daerah kekuasaan islam yang amat cepat telah menyebabkan banyaknya orang-orang non Arab yang masuk islam, sehingga mengakibatkan terjadinya suatu proses arabisasi yang besar-besaran. Hal ini menimbulkan dan mengakibatkan perkembangan bahasa yang tak diperkirakan sebelumnya. Bahasa Arab yang masih dalam keadaan sederhana, tiba-tiba berada jauh diluar semenanjung Arabia.. Bahkan bahasa Arab telah menjadi bahasa yang dapat memenuhi alat komunikasi antar kabilah. Tetapi hal  itu tidak demikian halnya, ketika bahasa Arab menjadi bahasa untuk sedemikian banyaknya negeri asing, sejak awal situasi ini telah menimbulkan masalah kebahasaan yang sangat pelik tidak hanya bagi orang arab sendiri, tetapi juga bagi orang-orang asing yang baru masuk islam. Dari persoalan tersebut muncul ujaran dalam bahasa Arab yang tidak benar, tidak fasih yang dinamakan (lahn) yang keluar dari kemurnian bahasa Arab Padahal bahasa Arab senantiasa menekankan keserasian, kesempurnaan seperti apa yang dicontohkan oleh struktur Al-Quran, dialek Quraisy dan puisi-puisa lama tanpa ada pengaruh asing.
2.      Munculnya perbedaan Bacaan Al-Qur’an
3.      Pada masa Khalifah Abu Bakr terjadi kemurtadan yang menyebabkan timbulnya perang Ridda, akibat perang ini banyak sekali penghafal Al-Quran yang gugur, lalu atas inisiatif Umar Bin Khattab AlQur’an mulai ditulis dan dikumpulkan. Pada masa Ustman bin Affan, perhatian terhadap Al –Quran semakin besar terbukti banyaknya pembaca Al-Qur’an dan mereka saling menganggap benar hafalannya,sehingga mereka mengatakan bacaan saya lebih utama/benar daripada bacaan kamu. Keadaan ini membuat Ustman merasa khawatir akan kemurnian Al-Qur’an karena perbedaan tersebut. Kemudian Ustman menjadikan Al-Quran yang ada sekarang merupakan karya besar dimasa pemerintahannya.
  1.  Keinginan memahami Al-Qur’an
Dokumen yang paling baik dan terpercaya tentang keadaan AlQur’an yang berisi ajaran Islam. Penyebaran dan perkembangan islam menyebabkanAl-Quran menjadi kitab yang paling sempurna dan paling dimuliakan, Al-Qur’an telah membawa seperangkat nilai-nilai baru,ungkapan-ungkapan baru dan konsep-konsep tentang kehidupan yang belum ada sebelumnya. Dan AlQuran telah memberikan cakupan dan wawasan dalam akidah ritual, hokum politik dan sebagainya. Dari fenomena ini semua kaum muslimin mempunyai ambisi yang luar biasa keinginan memahami Al-Qur’an.
  1. Kesadaran  muncul dari kalangan orang Arab
     Kesadaran yang muncul dari orang-orang arab ini bahwa mereka menyadari peran     bahasa Arab yang sangat luar biasa dalam berbagai sarana dan juga bahasa Arab merupakan mukjat Al-Quran dari aspek kebahasaannya. Dari keutamaan itulah bangsa arab berupaya agar bahasa Arab selalu exis dalam menghadapi berbagai kemajuan zaman.

F.Balaghah.
 Balaghah adalah merupakan ilmu yang ada dalam ilmu kabahasaan dan berfungsi sebagai alat untuk  memahami kandungan-kandungan  maknaAl-Qur’an secara benar yang merupakan Kalamullah bukan syair yang berpatokan kepada ar-rudh dan qawafi tetapi Al-Qur’an diciptakan Allah dengan memancarakan keindahan nada dan langgamnya, susunannya singkat dan padat, memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan, memuaskan akal dan jiwa kemudahan dan ketetapan maknanya. Tanpa memahami ilmu Balaghah ini, orang tidak mungkin dapat memahami secara pasti yang terkandung pada isi ayat-ayat yang mulia itu.
-         Pada masa Jahiliyah tercermin kesempurnaan bahasa yang terdapat pada syair mereka yang dinamakan Al-Muallaqat.
-         Pada masa permulaan Islam dalam pidato banyak menirukan uslub-ushub Al-Qur’an dan memakai kata-kata yang bersifat religius
-         Pada masa Daulah Umayyah berlomba-lomba berpidato dan  para ahli pidato ini bermunculan yang menirukan ushlub-ushlub Al-Qur’an sebagai pidatonya.
-          Contoh An-Nushush al –Adabiyah.
       Anta syamsun anta badrun
       Anta nuurun fauqo nuurin
Pada masa Daulah Abasiyyah pembakuan ilmu balaghah dengan   munculnya                                     penemuanAl-Jahiz,           Abd Qahir, Al-Jurzain,  Al-Badi”    Al-khatib  Qazwaini

D  Ilmu Dalalah muncul karena keanekaragaman lafadh dalam Al Qur’an yang membuat mereka berusaha memahami makna yang terkandung dalam kitab yang mulia itu.Tidak berbeda dengan tumbuhnya ilmu nahwu, untuk menjaga kemurnian Al-Quran dan hal ini sudah banyak dilakukan oleh para ahli bahasa Arab . Dengan banyaknya perhatian terhadap studi makna ini juga dalam rangka menjaga kemurnian bahasa Arab, hal ini dapat dilihat dari dua aspek.
Tataran teoritis yakni adanya hubungan semantic damn mufradat
Tataran praktis adanya upaya penyusunan kamus yang dilakukan oleh Al-KHalil bin Ahmad al-Farahidi

Rabu, 03 Oktober 2018

Silsilah Dakwah Tashfiyyah (16) BAGAIMANA MENDIDIK GENERASI DI ZAMAN NOW...??

🔰 Silsilah Dakwah Tashfiyyah (16)
BAGAIMANA MENDIDIK GENERASI DI ZAMAN NOW...??
Ilmu Parenting berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Mendidik generasi zaman now jauh berbeda dengan cara mendidik orangtua kita di jaman old. Mendidik generasi Digital zaman NOW membutuhkan lebih banyak ikatan hati (kelekatan) diantara orangtua dan anak.
Kenapa?
Karena tantangan zaman hari ini jauh lebih banyak...!
Ada jaringan internet dengan google, youtube, instagram, facebook, dan lain lain, ada jaringan media dengan berbagai materi tontonan televisi dan lainnya yang bisa memberi dampak buruk bagi tumbuh kembang mental spiritual anak anak kita.
Kemudahan fasilitas internet ini menjadi jalan pintas bagi anak anak untuk mengakses sendiri berbagai informasi yang mereka inginkan. Tentunya semua ini menjadi rival yang sangat kuat bagi  para orangtua dalam pengasuhan anak.
Orangtua perlu meng-upgrade kemampuan mendidiknya seoptimal mungkin. Butuh menjadi orangtua yang cerdas untuk mendidik anak hari ini, menjadi orangtua pembelajar, bermental pemberani, dan yang utama memiliki interaksi yang ‘dalam’ dengan Allah sang Maha Pendidik.
Maka Ilmu parenting hari ini seharusnya TIDAK membuat orangtua menjadi bertambah bingung dan galau.
Ilmu parenting hari ini seharusnya TIDAK membuat orangtua semakin takut dan gelisah dengan begitu beratnya tantangan zaman yang mereka hadapi.
Ilmu parenting hari ini mestinya JUSTRU membuat orangtua lebih pede dalam  mendidik anaknya sendiri, TIDAK tergantung kepada para ahli parenting, tidak lagi terpancang dengan berbagai tips dan trik dalam mendidik anak. Karena setiap anak unik, setiap anak berbeda, setiap anak adalah limited edition. Tidak bisa kita menggunakan tips dan trik yang sama pada anak yang berbeda meski permasalahannya seolah sama.
Ilmu parenting hari ini mestinya JUSTRU membuat para orangtua lebih berani dan optimis dalam menyikapi perkembangan zaman. Lebih rileks, sebab yakin sekali bahwa zaman ini sesungguhnya adalah karunia yang istimewa untuk kita dan untuk anak anak kita jika bisa mensikapinya dengan baik dan mau kembali kepada fitrahNya.
Dan yang utama....
Ilmu parenting hari ini semestinya membuat para orangtua menjadi lebih yakin bahwa merekalah PENDIDIK TERBAIK bagi anak anak mereka sendiri, tidak ada lainnya...
KENAPA ORANG TUA PENDIDIK TERBAIK BAGI ANAK ANAKNYA....?
Temukan jawabannya pada buku ini...!
Buku ini hadir untuk memberikan gambaran kepada para orangtua Muslim, bagaimana Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri teladan terbaik mendidik anak anak...
Juga gambaran jelas bagaimana pendidikan terbaik tersebut akan menghasilkan Peradaban Terbaik...
Dilengkapi dengan berbagai dalil, baik dari Kitabullah maupun Hadist Shahih, agar menguatkan keyakinan kita dalam mempraktekkannya saat mendidik anak anak kita.
                                 **
Semoga buku ini bisa memberi manfaat bagi para orangtua Muslim hari ini, membangkitkan kembali “kesadaran Mendidik” dihati kita semua.
Semoga Allah memberkahi upaya kecil kami untuk ikut memberi solusi dan kontribusi agar terjadi perubahan atas umat ini, menjadi KHAIRUL UMMAH sebagaimana yang di janjikan Allah dalam KitabNya.
Semoga Allah memberikan Hidayah dan Taufiq Nya kepada kita semua ...Aamiin



   https://m.facebook.com/groups/1710815548993624?view=permalink&id=2075893989152443

هل الفطرة دليل؟



يحمين الجاوي


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه ومن والاه وبعد :
فقد درج البعض على الاستدلال بالفطرة عند تقرير المسائل العقدية أو غيرها وعند محاجة الخصوم فتجد البعض يقرر أمراً في العقيدة ثم يقول: وقد دل على ذلك دليل الفطرة
فهل الفطرة دليل شرعي يعتمد عليه ؟
إن علماء الأصول قد ذكروا الأدلة الشرعية المجمع عليها والمختلف فيها ولم يذكروا دليل الفطرة أبدا فليست الفطرة من الأدلة لا المجمع عليها ولا المختلف فيها, وقد يستدل من يقول بأن الفطرة حجة ودليل يعتمد عليه بما يلي:

1- حديث أبي هريرة رضي الله عنه :
في صحيح البخاري 1/465 ومسلم 4/2047: ( عن أبي هريرة أنه كان يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء ) اهـ
زاد مسلم : ( ثم يقول أبو هريرة واقرؤوا إن شئتم { فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله الآية } ) اهـ

2- حديث عياض بن حمار رضي الله عنه :
في صحيح مسلم 4/2197 : ( عن عياض بن حمار المجاشعي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ذات يوم في خطبته : ألا إن ربي أمرني أن أعلمكم ما جهلتم مما علمني يومي هذا، كل مال نحلته عبداً حلال وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا ... ) اهـ
ورواه النسائي 5/26 وابن حبان 2/425
قالوا : فالفطرة والحنيفية هي الإسلام ويدل عليه أنه قال يهودانه .. ولم يقل يسلمانه وإذا كانت الفطرة هي الإسلام فهي دليل يحتج به.
وليس في هذين الحديثين ما يدل على أن الفطرة دليل وذلك من وجهين:
الوجه الأول:
أن تفسير الفطرة بالإسلام غير صحيح والتفسير الصحيح هو: أن الفطرة هي السلامة والقابلية والاستعداد والتهيؤ ويدل على ذلك أدلة ومنها:

من القرآن :
قول الله تعالى : ( والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا ... ) وشيئا نكرة في سياق النفي فتفيد العموم قال ابن جرير 7/625:
(يقول تعالى ذكره : والله تعالى أعلمكم ما لم تكونوا تعلمون من بعد ما أخرجكم من بطون أمهاتكم ، لا تعقلون شيئاً ولا تعلمون ، فرزقكم عقولاً تفقهون بها ، وتميزون بها الخير من الشر وبصركم بها ما لم تكونوا تبصرون ، وجعل لكم السمع الذي تسمعون به الأصوات ، فيفقه بعضكم عن بعض ما تتحاورون به بينكم ، والأبصار التي تبصرون بها الأشخاص ، فتتعارفون  بها ، وتميزون بها بعضاً من بعض ) اهـ

وقال القرطبي 10/132 : ( قوله تعالى : والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا , ذكر أن من نعمه أن أخرجكم من بطون أمهاتكم أطفالاً لا علم لكم بشيء . وفيه ثلاثة أقاويل :

أحدها : لا تعلمون شيئاً مما أخذ عليكم من الميثاق في أصلاب آبائكم .

الثاني: لا تعلمون شيئا مما قضى عليكم من السعادة والشقاء.

الثالث : لا تعلمون شيئا من منافعكم ) اهـ

وقال ابن عبد البر في التمهيد 18/59 : ( ويستحيل في المعقول أن يكون الطفل في حين ولادته يعقل كفراً أو إيماناً ، لأن الله أخرجهم في حالٍ لا يفقهون معها شيئاً ، قال الله تعالى : ( والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا ) فمن لا يعلم شيئاً استحال منه كفر أو إيمان ، أو معرفة أو إنكار ) اهـ

ومن الأحاديث :

1- حديث أبي هريرة رضي الله عنه :

في صحيح مسلم 4/2048: ( عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : كل إنسان تلده أمه على الفطرة وأبواه بعد يهودانه وينصرانه ويمجسانه فإن كانا مسلمين فمسلم كل إنسان تلده أمه يلكزه الشيطان في حضنيه إلا مريم وابنها ) اهـ

ففي هذا الحديث جعل الإسلام بالنسبة للفطرة كغيره من الأديان مما يدل على أن الفطرة هي السلامة والقابلية والاستعداد والتهيؤ

قال النووي في شرح مسلم 16/207 : ( الأصح أن معناه أن كل مولود يولد متهيئاً للإسلام فمن كان أبواه أو أحدهما مسلما استمر على الإسلام في أحكام الآخرة والدنيا وإن كان أبواه كافرين جرى عليه حكمهما في أحكام الدنيا وهذا معنى يهودانه وينصرانه ويمجسانه أي يحكم له بحكمهما في الدنيا فإن بلغ استمر عليه حكم الكفر ودينهما فان كانت سبقت له سعادة أسلم وإلا مات على كفره ) اهـ

وقال ابن الأثير في النهاية 1/247: ( ومعنى الحديث : أن المولود يولد على نوع من الجبلة , وهي فطرة الله تعالى وكونه متهيئا لقبول الحق طبعا وطوعا ,لو خلته شياطين الإنس والجن وما يختار لم يختر غيرها,فضرب لذلك الجمعاء و الجدعاء مثلا . يعني أن البهيمة تولد مجتمعة الخلق , سوية الأطراف , سليمة من الجدع ,لولا تعرض الناس إليها لبقية كما ولدت سليمة .) اهـ

2- حديث أبي سعيد رضي الله عنه :

في سنن ا لترمذي 4/483 : ( عن أبي سعيد قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما صلاة العصر بنهار ثم قام خطيبا فلم يدع شيئا يكون إلى قيام الساعة إلا أخبرنا به حفظه من حفظه ونسيه من نسيه ...

فكان فيما حفظنا يومئذ ألا إن بني آدم خلقوا على طبقات شتى فمنهم من يولد مؤمنا ويحيا مؤمنا ويموت مؤمنا ومنهم من يولد كافرا ويحيا كافرا ويموت كافرا ومنهم من يولد مؤمنا ويحيا مؤمنا ويموت كافرا ومنهم من يولد كافرا ويحيا كافرا ويموت مؤمنا ... ) الحديث قال الترمذي : حسن صحيح

قال المباركفوري في تحفة الأحوذي 6/357 : ( فمنهم من يولد مؤمنا ) أي من أبويه المؤمنين أو في بلاد المؤمنين فإنه حين يولد قبل التمييز لا ينسب إليه الإيمان إلا باعتبار ما علم الله فيه من الأزل أو باعتبار ما يؤول إليه أمره في الاستقبال ( يحيى ) أي يعيش في جميع عمره من حين تمييزه إلى انتهاء عمره ( مؤمنا ) أي كاملا أو ناقصا ( ويموت مؤمنا ) أي وكذلك جعلنا الله منهم ( ومنهم من يولد كافرا ) أي بخلاف ما سبق وهو لا ينافي ما ورد كل مولود يولد على الفطرة فإن المراد بها قابلية قبول الهداية لولا مانع من بواعث الضلالة كما يشهد له قوله فأبواه يهودانه الحديث ) اهـ

3- حديث أبي بن كعب رضي الله عنه :

في سنن الترمذي 5/312: ( عن أبي بن كعب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : الغلام الذي قتله الخضر طبع يوم طبع كافرا , قال أبو عيسى : هذا حديث حسن صحيح غريب ) اهـ
ورواه أبو داود 4/227والنسائي في الكبرى 3/427وابن حبان 14/108

قال المباركفوري 8/473 : ( قوله ( طبع يوم طبع كافرا ) أي خلق يوم خلق كافرا يعني خلق على أنه يختار الكفر فلا ينافي خبر كل مولود يولد على الفطرة إذ المراد بالفطرة استعداد قبول الإسلام وهو لا ينافي كونه شقيا في جبلته ) اهـ

وقال ابن القيم في شفاء العليل ص 443 : ( فإن قيل : فالغلام الذي قتله الخضر طبع يوم طبع كافرا ، وقال نوح عن قومه : ولا يلدوا إلا فاجرا كفارا

وفي الحديث الذي رواه الإمام أحمد والترمذي مرفوعا : إن بني آدم خلقوا على طبقات شتى فمنهم من يولد مؤمنا ويحيى مؤمنا ويموت مؤمنا ، ومنهم من يولد كافرا ويحيى كافرا ويموت كافرا ... الحديث

قيل : هذا لا يناقض كونه مولودا على الفطرة ، فإنه طبع وولد مقدرا كفره إذا عقل ، وإلا ففي حال ولادته لا يعرف كفرا ولا إيمانا ، فهي حال مقدرة لا مقارنة للعامل ، فهو مولود على الفطرة ومولود كافرا باعتبارين صحيحين ثابتين له ، هذا بالقبول وإيثار الإسلام لو خلي ، وهذا بالفعل والإرادة إذا عقل . ) اهـ

4- حديث أبي ذر رضي الله عنه:

في صحيح مسلم 4/1994 : ( عن أبي ذر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما روى عن الله تبارك وتعالى أنه : قال يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا يا عبادي كلكم ضال إلا من هديته فاستهدونى أهدكم ... )

قال ابن رجب في جامع العلوم والحكم 1/225: ( قوله كلكم ضال إلا من هديته قد ظن بعضهم أنه معارض لحديث عياض بن حمار عن النبي صلى الله عليه وسلم يقول الله عز وجل خلقت عبادي حنفاء وفي رواية مسلمين فاجتالتهم الشياطين وليس كذلك فإن الله خلق بني آدم وفطرهم على قبول الإسلام والميل إليه دون غيره والتهيؤ والاستعداد له بالقوة لكن لا بد للعبد من تعليم الإسلام بالفعل فإنه قبل التعلم جاهل لا يعلم كما قال عز وجل والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا ) اهـ

5- حديث جابر بن عبد الله رضي الله عنهما:

في مسند الإمام أحمد 3/ 353 : ( عن جابر بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل مولود يولد على الفطرة حتى يعرب عنه لسانه فإذا أعرب عنه لسانه إما شاكرا وإما كفورا ) اهـ

قال الهثمي في المجمع 7/218 : (رواه أحمد وفيه أبو جعفر الرازي وهو ثقة وفيه خلاف وبقية رجاله ثقات ) اهـ
وممن ذهب إلى أن الفطرة بمعنى السلامة والقابلية والتهيؤ والاستعداد غير من سبق:

ابن عبد البر في التمهيد حيث اختار ذلك من بين عشرة أقوال حكاها في المسألة فقال عمن اختار ذلك 18/59 : ( قالوا فالفطرة الخلقة والفاطر الخالق وأنكروا أن يكون المولود يفطر على كفر أو إيمان أو معرفة أو إنكار قالوا وإنما يولد المولود على السلامة في الأغلب خلقة وطبعا وبنية ليس معها إيمان ولا كفر ولا إنكار ولا معرفة ثم يعتقدون الكفر أو الإيمان بعد البلوغ إذا ميزوا

قالوا ولو كان الأطفال قد فطروا على شيء على الكفر أو الإيمان في أولية أمرهم ما انتقلوا عنه أبدا وقد نجدهم يؤمنون ثم يكفرون

قالوا ويستحيل في المعقول أن يكون الطفل في حين ولادته يعقل كفرا أو إيمانا لأن الله أخرجهم في حال لا يفقهون معها شيئا قال الله عز وجل : ( والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا ) فمن لا يعلم شيئا استحال منه كفر أو إيمان أو معرفة أو إنكار

قال أبو عمر : هذا القول أصح ما قيل في معنى الفطرة التي يولد الناس عليها والله أعلم وذلك أن الفطرة السلامة والاستقامة بدليل حديث عياض بن حمار عن النبي عليه السلام حاكياً عن ربه عز وجل إني خلقت عبادي حنفاء يعني على استقامة وسلامة والحنيف في كلام العرب المستقيم السالم ) اهـ

وقال القرطبي في تفسيره 14/24 : ( قلت : وإلى ما اختاره أبو عمر واحتج له ، ذهب غير واحد من المحققين منهم : ابن عطية في تفسيره في معنى الفطرة وشيخنا ابن العباس .

قال ابن عطية : والذي يعتمد عليه في تفسير هذه اللفظة أنها الخلقة والهيئة التي في نفس الطفل التي هي معدة ومهيأة لأن يميز بها مصنوعات الله تعالى ، ويستدل بها على ربه ويعرف شرائعه ويؤمن به ، فكأنه تعالى قال : أقم وجهك للدين الذي هو الحنيف ، وهو فطرة الله الذي على الإعداد له فطر البشر لكن تعرضهم العوارض ومنه قول النبي صلى الله عليه وسلم : [ كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو يصرانه ] فذكر الأبوين إنما هو مثال للعوارض التي هي كثيرة

وقال شيخنا في عبارته : إن الله تعالى خلق قلوب بني آدم مؤهلة لقبول الحق ، كما خلق أعينهم وأسماعهم قابلة للمرئيات والمسموعات ، فما دامت باقية على ذلك القبول وعلى تلك الأهلية أدركت الحق ودين الإسلام وهو الدين الحق ) اهـ

وإلى ذلك ذهب أيضا : - ابن قتيبة في تأول مختلف الحديث ص 129 - وأبو شامة كما في فتح الباري 10/339 - والبدر العيني في عمدة القاري 8/178 – وآخرون

والوجه الثاني:

أنه على التسليم بأن الفطرة في الحديث هي الإسلام - وهو ما ذهب إليه طائفة من أهل العلم وهو قول الأكثر في معنى قول الله ( فطرة الله التي فطر الناس عليها ) (2) - فليس في ذلك ما يدل على أن الفطرة دليل يعتمد عليه في تقرير العقائد أو غيرها لأن من قال الفطرة هي الإسلام لم يقصد الشرائع أو تفاصيل العقيدة وإنما يريد بالفطرة الإقرار بالخالق

قال ابن القيم في شفاء العليل ص 288-289 : ( ومما ينبغي أن يعلم أنه إذا قيل أنه ولد على الفطرة أو على الإسلام أو على هذه الملة أو خلق حنيفا فليس المراد به أنه حين خرج من بطن أمه يعلم هذا الدين ويريده فإنه الله يقول والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا ولكن فطرته موجبة مقتضية لدين الإسلام لقروبه ومحبته فنفس الفطرة تستلزم الإقرار بخالقه ومحبته وإخلاص الدين له
وموجبات الفطرة ومقتضياتها تحصل شيئا بعد شيء بحسب كمال الفطرة إذا سلمت من المعارض وليس المراد أيضا مجرد قبول الفطرة لذلك فإن هذا القبول تغير بتهويد الأبوين وتنصيرهما بحيث يخرجان الفطرة عن قبولها وإن سعيا بين بينهما ودعائهما في امتناع حصول المقبول أيضا ليس هو الإسلام وليس هو هذه الملة وليس هو الحنيفية وأيضا فإنه شبه تغيير الفطرة بجدع البهيمة الجمعاء ومعلوم أنهم لم يغيروا قبوله ولو تغير القبول وزال لم تقم عليه الحجة بإرسال الرسل وإنزال الكتب
بل المراد أن كل مولود فإنه يولد على محبته لفاطره وإقراره له بربوبيته وادعائه له بالعبودية فلو خلي وعدم المعارض لم يعدل عن ذلك إلى غيره كما أنه يولد على محبة ما يلائم بدنه من الأغذية والأشربة فيشتهي اللبن الذي يناسبه ويغذيه ...) اهـ

وهذا مما يقوي القول بأن المراد بالفطرة القابلية والاستعداد والتهيؤ للإسلام لا الإسلام ذاته لأنه لو كان المراد بها الإقرار بالربوبية لما كان لذكر اليهود والنصارى معنى لأن اليهود والنصارى مقرون بالربوبية فهم أيضا على الفطرة

وعلى كلا القولين فلا يمكن أن يستدل بالفطرة لأن المراد بها عند من يقول بأنها الإسلام هو الإقرار بالربوبية وهذه ليست من خصائص المسلمين فاليهود والنصارى مقرون بأن الله هو الخالق فيمكن أن يستدل اليهود والنصارى على عقائدهم بالفطرة ويمكن أن يستدل أهل العقائد الباطلة عليها بالفطرة فكل يقول فطرتي تدل على كذا , فسقط بذلك اعتبار كون الفطرة دليلا شرعيا وذلك لا يخفى على ذي لب

تتمة:

الفطرة في اللغة: هي الخلقة والجبلة
قال ابن منظور في لسان العرب 5/56 : ( و فَطَرَ الله الـخـلق يَفْطُرُهم: خـلقهم وبدأَهم .
و الفطْرةُ: الابتداء والاختراع . وفـي التنزيل العزيز: { الـحمد فاطِرِ السمواتِ والأَرضِ } ) اهـ

وفي فتح الباري 10/339 : ( قال الراغب : أصل الفَطر بفتح الفاء الشق طولا ويطلق على الوهي وعلى الاختراع وعلى الإيجاد والفطرة الإيجاد على غير مثال
وقال أبو شامة : أصل الفطرة الخلقة المبتدأة ومنه فاطر السماوات والأرض أي المبتدئ خلقهن ) اهـ

أما في الشرع فلها معان :
- منها السنة: ومن ذلك حديث ( خمس من الفطرة )
- ومنها السلامة : ومن ذلك حديث ( كل مولود يولد على الفطرة ) كما تقدم
- ومنها الاعتراف بالخالق: ومن ذلك ( فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها )

وعلى كل الاحتمالات لا يمكن أن تكون الفطرة دليلا شرعيا حتى على القول بأنها الإقرار بالربوبية كما تقدم

فائدة:

ذكر ابن عبد البر في التمهيد 18/59 وما بعدها : أقوالاً كثيرةً في معنى الفطرة في حديث ( كل مولود يولد على الفطرة ) وكل من جاء بعده من شراح الحديث وأهل التفسير فقد اعتمد عليه في حكاية تلك الأقوال ومنهم القرطبي في تفسيره وكذا البغوي في تفسيره وابن حجر في الفتح والعيني في عمدة القاري وغيرهم

وتلك الأقوال على الإجمال هي:
1- أن الفطرة هي السلامة والقابلية والاستعداد والتهيؤ
2- أنها الإسلام بمعنى الإقرار بالخالق والربوبية
3- أنها العهد والميثاق الذي أخذه الله على بني آدم وهم في صلب أبيهم آدم عليه السلام
4- أن المراد بها إجراء أحكام الظاهر على الصبي ذي الأبوين الكافرين وأنه يعامل معاملة المسلم وأن ذلك كان في أول الأمر قبل فرض الجهاد ثم نسخ
5- وذهب بعض أهل العلم إلى أنه لم ينسخ وأن المراد به الحكم بإسلامه إذا مات أبواه
6- أنها ما ابتدأه الله وكتبه على ابن آدم من سعادة أو شقاوة فكأنه قال كل مولود يولد على ما ابتدأه الله عليه من الشقاء والسعادة مما يصير إليه
7- أن اللام في الفطرة للعهد أي فطرة أبويه
8- أنها ما فطرهم الله تعالى عليه من الإنكار والمعرفة والكفر والإيمان
9- الفطرة ما يقلب الله تعالى قلوب الخلق إليه بما يريد ويشاء

هذا آخر المطاف والحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وآله وصحب وأتباعه.

يحمين الجاوي

بوجور- اندونيسيا

بريد إلكتروني : yaminabukhalid@gmail.com