Kamis, 23 Juli 2015

Bekal Seorang Mukmin Dengan Dunianya Sebelum Ajal



Bekal Seorang Mukmin Dengan Dunianya Sebelum Ajal


Kalau kita ingin menyempatkan diri untuk bertanya kepada kerabat kita atau segelintir orang yang mengenal masa kecil kita,bertanyalah,apakah dulu banyak yang senang dan tertawa riang melihat kehadiran kita dari rahim sang bunda?

Ingatan kita tidak bisa mengulang kembali ungkapan kegembiraan mereka yang tertumpah penuh dengan harapan.

Andai masa remajapun telah kita lalui,tentu kita masih ingat tentang harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita dulu dalam menyambut masa depan atau mungkin kita tidak pernah sama sekali memikirkan hal itu karena masa muda nan ceria sangat melalaikan?

Kini usia semakin senja ,sebagian kita telah mendapatkan berbagai kenikmatan dunia,kesibukkan dunia dan warna-warna yang lainnya.
Sebagian orang merasa hartanya pas-pasan,gali lubang tutup lubang,sehingga menuntutnya untuk lebih giat lagi bekerja.
Sebagian lagi merasa hartanya serba kekurangan,sehingga berbagai kebutuhan telah melilitnya.
Dan masih banyak lagi yang mereka disibukkan dengan kebutuhan keduniawiaan mereka..

Itulah penggalan kehidupan kita dalam menyambut kematian,janganlah kita menjadi orang yang menyesal disisi-Nya,sementara cahaya datang kepada kita jauh-jauh hari.....


Di dalam surat At Takatsur Allah Ta’ala berfirman,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3)

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4)
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5)

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6)
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takatsur: 1-8).

Surat ini menjelaskan tentang orang-orang yang lalai dari beribadah kepada Allah. Padahal ibadah itulah tujuan diciptakannya manusia. Yang dimaksud di sini adalah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain Allah, mengenal-Nya dan mendahulukan cinta Allah dari lainnya.

Manusia Menjadi Lalai

Manusia menjadi lalai karena waktunya hanya dihabiskan untuk membanggakan diri dengan harta. Berbangga di sini bisa jadi pada anak, harta, dan kedudukan. Sedangkan berlomba-lomba atau saling mengejar untuk meraih ridho Allah tidak termasuk di sini.

Sebagian orang ada yang asyik dengan dunia dan hartanya lalu lupa dengan ibadahnya,ia merasa telah mendapatkan nikmat yang sebenarnya,tiba-tiba kematian datang menjemput seperti halilintar menyambarnya hingga menyadarkan urat syaraf,nadi denyut nadi dan akalnya,namun sia-sialah kesadarannya karena nafas sudah berada ditenggorokannya.Nas-alullah al 'afwa wal 'afiyyah was salamah...

Terus Berbangga Hingga Ke Liang Lahat

Manusia akan terus berbangga satu dan lainnya hingga mereka masuk ke dalam kubur. Artinya, ketika mereka merasakan kematian, barulah mereka berhenti dari berbangga-bangga dengan harta.

Namun perlu diketahui bahwa alam kubur hanyalah tempat mampir sebelum sampai ke alam berikutnya. Alam kubur bukanlah tempat mukim selamanya. Dalam ayat ini pun dikatakan demikian, yaitu disebut alam kubur sebagai tempat ziarah, artinya berkunjung dan itu sifatnya sementara. Negeri yang kekal abadi adalah di akhirat kelak.

Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa amalan itu akan dibalas di negeri yang kekal abadi (bukan negeri yang akan fana).

Jika Mereka Tahu …

Seandainya mereka tahu apa yang terjadi di depan mereka yaitu mengetahui dengan ilmu yang sampai ke hati, tentu mereka tidak lalai sehingga terus-terusan berbangga-bangga dengan harta. Jika mereka tahu, tentu mereka akan segera beramal sholeh.

Namun sayangnya, mereka benar-benar tidak tahu sehingga mereka pun akan melihat neraka Jahim yang dijanjikan pada orang-orang kafir.

Mereka akan Melihat dengan ‘Ainul Yakin

Yang dimaksud dengan ayat,

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

“dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”. Maksudnya mereka benar-benar akan melihat dengan penglihatan mereka. Sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat yang lain,

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

“Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya. ” (QS. Al Kahfi: 53).

‘Ilmu Yakin, ‘Ainul Yakin dan Haqqul Yakin

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya mengenai ‘ainul yakin dan ilmu yakin. ‘Ilmu yakin adalah sesuatu yang diketahui dengan mendengar, kabar berita, pengqiyasan (permisalan) dan berpikir tanpa melihat secara langsung. Sedangkan ‘ainul yakin adalah menyaksikan langsung dengan penglihatan. Ada juga haqqul yakin, yaitu dengan merasakan secara langsung.

Ibnu Taimiyah mencontohkan ketiga hal di atas dengan memberi permisalan madu. Jika madu tersebut hanya diketahui lewat berita, maka disebut ‘ilmu yakin. Jika diketahui lewat melihat langsung, maka disebut ‘ainul yakin. Jika dirasakan manisnya madu tersebut, maka disebut dengan haqqul yakin.

Akan Ditanya Berbagai Macam Nikmat

Setiap orang akan ditanya berbagai macam nikmat yang mereka rasakan di dunia. Apakah mereka benar-benar telah bersyukur atas nikmat tersebut? Apakah benar mereka telah menunaikan hak Allah? Apakah mereka benar tidak menggunakan nikmat tersebut untuk maksiat? Jika benar, maka mereka akan diberi nikmat yang lebih lagi dari yang sebelumnya.

Ataukah mereka jadi orang yang terperdaya dengan nikmat? Atau mungkin mereka gunakan dalam maksiat? Jika demikian, tentu kelak mereka akan dibalas dengan siksa yang pedih. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri d muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik.” (QS. Al Ahqaf: 20).

Banyak Ziarah Kubur

Tentang ayat,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Yang dimaksud ayat ini, kata Ibnu Taimiyah adalah ‘yatakatsaruna biquburil mawtaa‘, yaitu mereka memperbanyak ziarah kubur pada orang yang mati. Hal ini disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah dalam tafsirnya.

Beliau berkata bahwa ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang banyak ziarah kubur sehingga mereka lalai dari ibadah dan belajar agama. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih membolehkan ziarah kubur setelah itu, namun dengan maksud mengingat mati. Bukan untuk maksud untuk berbangga diri dan membangun kubur.

Demikian perkataan Ibnu ‘Athiyyah secara ringkas yang dinukil dari perkataan Ibnu Taimiyyah [1].

Allah Ta'ala berfirman didalam Surat Al Munafiqun Ayat 9-11


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٩)

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

(١٠)

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١١)



9. [2]Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah [3]. Dan barang siapa berbuat demikian[4], maka mereka itulah orang-orang yang rugi[5].


10. Dan infakkanlah [6] sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu [7] sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali) [8], "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi [9], maka aku dapat bersedekah [10] dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh [11]."


11. Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan[12][13].


عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( يتبع الميت ثلاث فيرجع اثنان ويبقى واحد يتبعه أهله وماله وعمله فيرجع أهله وماله ويبقى عمله ) رواه البخاري ومسلم .

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:

“ Si mati itu diikuti oleh tiga golongan. Akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya. Dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya ”. [14]

Hadits ini telah dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali -Rahimahullah- di dalam risalah yang sangat berharga. Dia berkata: “Tafsir hadith ini adalah bahawa anak Adam mesti memiliki keluarga yang selalu bergaul dengan dirinya dan juga harta sebagai bekal hidupnya. Dua teman ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai jalan untuk berzikir kepada Allah Shallallahu 'Alaih Wasallam, dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu untuk kehidupan akhirat, dia mencari isteri yang solehah yang boleh menjaga keimanannya. Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah Ta'ala maka dia temasuk orang yang rugi.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang orang-orang Badui:

شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا

"Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampun untuk kami…”. (QS. Al-Fath: 11).

Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak dari hadith Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaih Wasallam bersabda:

أتاني جبريل فقال : يا محمد ! عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس

“Jibril datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau pasti akan mati, cintailah siapa yang engkau kehendaki sebab engkau akan meninggalkannya, dan berbuatlah apa yang engkau kehendaki sebab engkau akan mendapat balasannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhamad kemulian seorang mu’min ada pada saat qiamullail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya pada manusia”.[15].

Maka apabila anak Adam mati, dan meninggalkan dunia ini maka dia tidak mengambil manfaat apapun dari keluarga dan hartanya kecuali do’a keluarga baginya, permohonan ampun mereka untuk dirinya dan perbuatan-perbuatan yang dijelaskan oleh syara’ yang boleh mendatangkan manfaat untuk dirinya serta apa yang di keluarkan dari hartanya untuk manfaat dirinya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(iaitu) di hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Al-Asyu’ara: 88-89.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاء ظُهُورِكُمْ

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu;…”.

(QS. Al-An’am: 94).

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Abi Hurairah Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:
Apabila anak Adam meninggal maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal Sedekah jariah, ilmu yang bermanafaat dan anak soleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya”.[16]

Adapun teman pertama adalah keluarga, maka keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun baginya setelah kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun baginya dan berdo’a baginya seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Boleh jadi keluaraganya tidak berdo’a baginya, sebab boleh jadi orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang soleh: Keluargamu sibuk membahagi warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih dengan kematianmu dan berdo’a untukmu pada saat dirimu berada di antara himpitan lubang-lubang dalam tanah, dan di antara keluarga itu ada yang menjadi musuh bagimu.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (QS. Al-Tagabun: 14).

Adapun teman yang kedua adalah harta, maka dia tidak mengikuti pemiliknya dan tidak pula masuk ke dalam kuburnya, dan kembalinya harta tersebut sebagai kalimat kiasan bahawa harta itu tidak menemani pemiliknya di dalam kuburnya dan tidak masuk ke dalam liang kubur pemiliknya.

Diriwayatkan oleh Muslim dari hadith Abi Hurairah Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:

Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rosak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”.[17]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:

“Siapakah di antara kamu yang harta pewarisnya lebih dicintainya daripada harta dirinya sendiri?. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun di antara kita kecuali hartanya lebih dicintainya. Baginda saw bersabda: Sesungguhnya harta miliknya yang sebenarnya adalah apa yang telah dipersembahkan (sebagai amal soleh) sementara harta pewarisnya adalah apa yang ditinggalkan”.[18]

Seorang pembesar berkata kepada Abi Hazim -Rahimahullah- yang hidup zuhud: Kenapa kita membenci kematian? Dia menjawab: Kerana engkau mengagungkan dunia, engkau telah menjadikan hartamu di hadapan kedua matamu maka engkau pasti benci meninggalkannya dan seandainya engkau mempersiapkannya untuk akhiratmu nescaya engkau akan senang menggunakannya untuk mengejarnya.

Allah Ta'ala berfirman,

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imron: 92)

Ibnu Umar tidak bangga kepada hartanya kecuali apa yang telah dipersembahkannya sebagai amal soleh kerana Allah Ta'ala, sehingga pada suatu ketika pada saat dia menunggang seekor unta, lalu dia kagum dengannya, maka diapun segera turun darinya dan mengheretnya lalu menjadikannya sebagai sedekah di jalan AllahTa'ala.

Adapun teman yang ketiga, ia adalah amal yang mengikuti pemiliknya ke dalam kubur dan hidup bersamanya dalam kubur tersebut, dia bersamanya pada saat dibangkitkan menghadap Allah Ta'ala. Amal itu menyertainya pada saat dikumpulkan di padang mahsyar, di atas shirat, pada saat ditimbang dan dengan amal itu pula seseorang akan memperolehi tingkat kedudukannya di syurga atau di neraka. Allah Ta'ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Siapa yang mengerjakan amal yang soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).

(QS. Fushilat: 46).

Allah Ta'ala berfirman,

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Siapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barang siapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).

(QS. Al-Rum: 44)

Sebahagian ulama salaf berkata:

“Bekerjalah untuk kepentingan duniamu sebatas lamanya masa kamu menetap padanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu selama kamu tinggal padanya.

Al-Hasan berkata:

“Seorang lelaki dari kaum muslimin mengikuti jenazah saudaranya lalu pada saat jenazah diturunkan di dalam liang kuburnya lelaki itu berkata: Aku tidak mengetahui yang mengikutimu dari dunia ini kecuali tiga helai kain, demi Allah aku meningalkan rumahku dengan barang-barang yang begitu banyak, demi Allah seandainya aku diberi kesempatan untuk pulang ke rumah nescaya aku akan sedekahkan rumahku untuk kepentingan diriku. Al-Hasan berkata: Maka lelaki itupun kembali dan mensedekahkannya. Dan mereka tahu bahawa orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz”.


Bekal seorang mukmin agar tidak menyesal disaat ajal menjemputnya diantaranya ialah selalu meningkatkan kualitas ketakwaannya kepada Allah Ta'ala,menjadikan kematian sebagai pengingat akhirat dan memperbanyak amal kebajikan serta berinfaq dijalan-Nya,selalu mensyukuri segala nikmat-Nya baik yang nampak maupun yang tersembunyi,tidak terlalu menyibukkan dunia sehingga ia lalai terhadap kehidupan akherat nan abadi.
Semoga Allah Ta'ala selalu membimbing kita menuju jalan yang lurus dan menjadikan seluruh amalan kita ikhlas karena-Nya.

Wallahu Ta'ala A'lam

Ba'da Isya Bogor 22 Pebruari 2015 M/4 Jumadil Awwal 1436 H

Catatan kaki.
[1]Majmu’ Al Fatawa, 2: 375-376
[2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk banyak mengingat-Nya, karena di sana terdapat keberuntungan dan kebaikan yang banyak, dan melarang mereka dibuat sibuk oleh harta dan anak-anak mereka sampai lalai mengingat Allah. Hal itu, karena jiwa manusia diciptakan dengan keadaannya yang senang kepada harta dan anak, namun jika sampai diutamakan di atas kecintaan dan ketaatan kepada Allah, maka dapat mengakibatkan kerugian yang besar seperti saat dikumandangkan azan Jum’at untuk shalat Jum’at, tetapi ia masih saja sibuk berdagang.
[3] Seperti dari shalat yang lima waktu.
[4] Yakni harta dan anaknya membuat lalai dari mengingat Allah.
[5] Tidak mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal karena mengutamakan kenikmatan yang fana’ (sebentar). Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At Taghaabun: 15)
[6] Termasuk dalam hal ini nafkah/infak yang wajib maupun yang sunat. Yang wajib seperti zakat, kaffarat, nafkah kepada istri, dsb. Sedangkan yang sunat seperti mengorbankan harta untuk segala yang bermaslahat.
[7] Hal ini menunjukkan bahwa nafkah yang Allah bebankan agar hamba mengeluarkannya tidaklah menyusahkan mereka, bahkan Allah memerintahkan mereka agar mengeluarkan sebagian dari rezeki yang Allah karuniakan kepada mereka, dimana Dia telah mempermudahnya untuk mereka dan mempermudah sebab-sebabnya. Oleh karena itu, hendaknya mereka bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada mereka rezeki itu, yaitu dengan membantu saudara-saudara mereka yang memerlukan dan bersegera kepadanya sebelum datang kematian yang jika tiba, maka seorang hamba tidak dapat mengejar lagi amal saleh yang telah dilalaikannya.
[8] Meminta agar dikembalikan lagi ke dunia.
[9] Agar aku dapat mengejar amal saleh yang telah aku lalaikan seperti zakat ketika hartanya telah mencapai nishab (ukuran wajib zakat) dan haji ketika sudah mampu.
[10] Sehingga aku dapat selamat dari azab dan dapat memperoleh banyak pahala.
[11] Dengan mengerjakan perkara yang diperintahkan dan menjauhi larangan.
[12] Baik atau buruk, lalu Dia membalasnya sesuai yang Dia ketahui dari kamu, yakni dari niat dan amalmu.
[14] Sahih Bukhari: 4/194 no: 6514 dan shahih Muslim: 4/2273
[15] Mustadrakul hakim: 4/360 dan Al-Mundziri di dalam kitab: Al-Targib wat tarhib 1/485: HR. Thabrani fil awsath dengan sanad yang hasan, dan sahihkan oleh Al-Bani rahimhullah di dalam sahihul jami’: 1/76 no: 73.
[16] Sahih Muslim, halaman: 670 o: 1631
[17] Sahih Muslim, halaman: 1187 no: 2958
[18] Sahihul Al-Bukhari, halaman: 1236 no: 6442


Selasa, 21 Juli 2015

Takdir ini mau dibawa kemana?[1]





Sebagai
seorang ahlusunnah ia harus betul-betul meyakini dan memahami takdir
dengan keyakinan dan pemahaman yang benar,karena mengimani atau
meyakini takdir merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan
dalam beragama.

Untuk
mendapatkan pemahaman yang benar maka seorang muslim harus mengenal
apa itu iman?,dan apa itu takdir?

Iman
menurut Ahlus Sunnah mencakup perkataan dan perbuatan, yaitu meyakini
dengan hati, meng-ikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan
anggota badan, dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang
dengan sebab perbuatan dosa dan maksiyat.

Sedangkan,Qadar
ialah : Takdir, ketentuan Ilahi, yaitu : iman bahwa segala sesuatu
yang terjadi di alam semesta ini adalah diketahui, dicatat,
dikehendaki dan dijadikan oleh Allah ta’aala.
Sehingga
diantara keimanan yang wajib diketahui dan diamalkan adalah beriman
terhadap takdir.Rasulullah bersabda:


أن
تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم
الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Yaitu
: beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
Rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta beriman kepada qadar yang baik
dan yang buruk.”[1]

Bisyr
bin Musa -Rahimahullah- menceritakan kepada kami, beliau berkata,
al-Humaidi-Rahimahullah-  menceritakan kepada kami, beliau
mengatakan: “As-Sunnah menurut kami adalah:

Seseorang
beriman kepada al-Qadar (takdir) yang baik ataukah yang jelek, yang
menyenangkan ataukah yang menyusahkan. Dan sepatutnya dia mengetahui
bahwa musibah yang Allah tetapkan atas dirinya tidak akan meleset
darinya, dan apa yang Allah tidak tetapkan atasnya, tidak akan
mengenainya. Kesemuanya itu adalah Qadha (ketentuan) dari Allah ‘Azza
wa Jalla.”

Ada
Apa Dengan  Takdir?

Ada
7 hal pokok yang wajib diyakini pada masalah takdir [2],
antara lain:

Pokok
pertama, wajib meyakini segala yang ditakdirkan oleh Allah,Allah
mengetahuinya.


Dia-lah
Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar)
selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata … .” [QS
Al-Hasyr: 22]


“…Allah
mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka…
.” [QS Al-Baqarah: 255]


“…(Rabb-ku)
Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada yang ter-sembunyi dari-Nya
seberat dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan
tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar,
melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” 
[QS
Saba': 3]


“… Allah
lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan… .” [QS
Al-An’aam: 124]

Juga
firman-Nya:

Sesungguhnya
Rabb-mu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari
jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” [QS Al-Qalam : 7]


Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan
Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam
kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [QS
Al-An’aam: 59]


Jika
mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kepadamu
selain dari kerusakan belaka… .” [QS At-Taubah: 47]

“… Sekiranya
mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang
mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu
adalah pendusta-pendusta belaka.” [QS Al-An’am: 28]

Kalau
kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah
menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan
mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang
mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” [QS
Al-Anfaal: 23]

 Pokok
ke 2,wajib meyakini bahwa segala yang ditakdirkan,
telah
      tercatat
di Lauhul-Mahfudz.


Apakah
kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja
yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat
dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat
mudah bagi Allah.” [QS Al-Hajj: 70]


“…Dan
segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh
Mahfuzh).” [QS Yaasiin: 12]

Katakanlah,
‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah
ditetapkan oleh Allah bagi kami… .’” [QS At-Taubah: 51]

Allah
Azza wa Jalla juga berfirman tentang do’a Nabi Musa Alaihissalam:

Dan
tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia … .” [QS Al-A’raaf:
156]

Dia
berfirman tentang bantahan Nabi Musa Alaihissalam kepada Fir’aun:

Berkata
Fir’aun, ‘Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’
Musa menjawab, ‘Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabb-ku, di
dalam sebuah kitab, Rabb-ku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa…
.’” [QS Thaahaa: 51-52]

          Pokok
ke 3,wajib meyakini bahwa segala yang ditakdirkan, Allah
          
menghendakinya.

  • Masa-masa
     ketika Allah Ta'ala menurunkan takdir kepada para makhluk.

a.
Di lauhul Mahfudz, dengan kata lain dia disebut At-Taqdiirul ‘Aam
(Takdir yang bersifat umum)Jenis ini ditunjukkan oleh berbagai dalil,
di antaranya firman Allah Ta’ala:

Apakah
kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja
yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat
dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat
mudah bagi Allah”. [QS Al-Hajj: 70]

Dalam
Shahiih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma
bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Allah
menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum
menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah
‘Arsy-Nya di atas air.”

b.
Ketika diambil janji di alam ruh/At-Taqdiirul Basyari (Takdir yang
berlaku untuk manusia)Allah berfirman:

Dan
(ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman), Bukankah Aku ini Rabb-mu. Mereka menjawab, Betul
(Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian
itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami
(Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Rabb).” [Al-A’raaf:172]

c.
Ketika ditiupkan ruh di janin pada saat berumur 120 hari/
At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia)
Hal
tersebut ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq (Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam Shahiihain dari Ibnu Mas’ud
secara marfu':

Sesungguhnya
salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut
ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah
seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging
seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk
meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat
kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau
bahagia(nya).[3]


d.
Pada saat Lailatul Qadar/ At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku
tahunan)Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

Pada
malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
   [QS
Ad-Dukhaan:4]

Dan
dalam firman-Nya:

Pada
malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin
Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.” [QS Al-Qadr: 4-5]

Disebutkan,
bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang akan terjadi dalam setahun
(ke depan,-ed.) mengenai kematian, kehidupan, kemuliaan dan kehinaan,
juga rizki dan hujan, hingga (mengenai siapakah) orang-orang yang
(akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir itu), fulan akan berhaji dan
fulan akan berhaji.

Dijelaskan
dalam riwayat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,
demikian juga al-Hasan serta Sa’id bin Jubair.[4]


e.
Pentakdiran harian/ At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian)
Dalilnya
ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

Setiap
waktu Dia dalam kesibukan.” [QS Ar-Rahmaan: 29]

Disebutkan
mengenai tafsir ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan
menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat), memberi dan
menghalangi, menjadikan kaya dan fakir, membuat tertawa dan menangis,
mematikan dan menghidupkan, dan seterusnya.[5]

 Pokok
ke 4,wajib meyakini bahwa apa yang Allah takdirkan, Allah
yang    mengadakannya dan yang menciptakannya.


 firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dan
Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya… .” [QS
Al-Qashash: 68]

Firman
Allah yang lain:

Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [QS At-Takwiir: 29]

Dan
firman Allah:

Dan
jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya
aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut),
‘Insya Allah… .’” [QS Al-Kahfi: 23-24]

Juga
firman-Nya:

Kalau
sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang
telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala
sesuatu kehadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman,
kecuali jika Allah menghendaki… .” [QS Al-An’aam: 111]

Serta
firman-Nya:

“…Barangsiapa
yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya, dan
barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), niscaya
Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” [ QS Al-An’aam:
39]

“…Seandainya
Allah menghendaki, tidaklah mereka saling mem-bunuh. Akan tetapi
Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [QS Al-Baqarah: 253]

“…Kalau
Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam
petunjuk … .” [QS Al-An’aam: 35]

Firman
Allah yang lain:

Dan
kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak memper-sekutukan(-Nya)…
.” [QS Al-An’aam: 107]

Juga
firman-Nya:

Dan
jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di
muka bumi seluruhnya… .” [QS Yunus: 99] 

 Pokok
ke 5,wajib meyakini bahwa makhluk punya kehendak dan
keinginan, namun   
 kehendak
dan keinginannya tidak keluar dari kehendak Allah.


 Dalil-dalil
mengenai tingkatan ini nyaris tidak terbilang, di antaranya firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah
Yang menciptakan segala sesuatu… .” QS [Az-Zumar: 62]

Firman
Allah yang lain:

Segala
puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan
mengadakan gelap dan terang … .” [QS Al-An’aam: 1]

Dan
firman-Nya:

Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia mengujimu, siapa-kah di
antaramu yang terbaik amalnya… .” [QS Al-Mulk: 2]

Serta
firman Allah:

Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu
dari yang satu, dan daripadanya Allah mencip-takan isterinya, dan
dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak… .” 
[QS
An-Nisaa': 1]

Juga
firman Allah:

Dan
Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
[QS Al-Anbiyaa': 33]

Dan
firman-Nya:

“…Adakah
pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari
langit dan dari bumi… .” [QS Faathir: 3]
 kehendak
dan keinginannya tidak keluar dari kehendak Allah.

Pokok
ke 6,meyakini keumuman hikmah Allah atas apa yang Dia
takdirkan.

Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [QS At-Takwiir: 29]

 Pokok
ke 7,meyakini bahwa tidak ada pertentangan antara syariat
dan takdir Allah.
  
Maka
telah menyelisihi syariat orang yang mengatakan,  “Kalau memang
sudah ditakdirkan, untuk apa kita beramal?”

Saya
berbuat dosa ini karena ditakdirkan oleh Allah.” Kemudian dia tetap
melakukan dosa tersebut dan tidak menghentikannya.[6]

Pada
pembahasan masalah takdir, ada dua kelompok yang menyimpang dari
syariat

1.
Qodariyah

Pada
qodari [pengikut pemahaman kelompok Qodariyah]  ekstrim, mereka
mengingkari pokok pertama dan kedua, yang dengan hal ini menyebabkan 
mereka keluar dari Islam [murtad]. Jika kita hendak membantah dengan
seorang qodari, tanyakan terlebih dahulu kepada mereka, “Apakah
Allah mengilmui apa yang Dia takdirkan?” Jika mereka membenarkan
keIlmuan Allah, maka lanjutkan diskusi, karena masih diharapkan dia
menyadari penyimpangannya, tapi jika mengingkari keIlmuan Allah atas
takdir-Nya, maka tinggalkan mereka. Karena tidak layak berjidal pada
orang kafir.

Sedangkan
dari pihak qodari yang pertengahan, mereka mengingkari pokok ke-3 dan
ke-4. 

2.
Jabriyah

Mereka
melepaskan perbuatan hamba dari kehendak hamba. Yang bebuat dan
berkehendak [kata mereka, ed-] adalah dari Allah semata. Sedangkan
secara terperinci, jabriyah ekstrim menisbatkan dzahir dan batin
kepada Allah. Dan pada jabriyah yang pertengahan, dzahir amalan
dinisbatkan kepada hamba, sedangkan kehendak batinnya dinisbatkan
kepada Allah.

Sebab-sebab
manusia menyimpang pada masalah takdir

1.
Karena mereka mengkiyaskan perbuatan hamba pada
   perbuatan
Allah. Letak penyimpangan syariatnya ada
   pada
mempersamakan Allah dengan makhluk.

2.
Dia tidak membedakan antara dua jenis Iradah Allah,
    yaitu
kauniyah dan syar’iyah.

  • Letak
     perbedaan mendasar antara Iradah Kauniyah {Hukum Alam}  dan Iradah
     Syar’iyah {Hukum agama} adalah:

    A.Iradah
Kauni bermakna kehendak Allah, dan Iradah Syar’i bermakna kecintaan
 
       Allah
Ta'ala.
    B.Iradah
Kauni pasti terjadi, tapi iradah syar’i  tidak harus terjadi.
    C.Iradah
kauni kadang dicintai Allah dan kadang tidak, sedangkan iradah syar’i

        pasti
dicintai oleh Allah.
    D.Iradah
kauniyah berkaitan dengan Rububiyah  [Kehendak pemeliharaan]  Allah
      dan
Iradah syar’iyah  berkaitan dengan Uluhiyah
      Allah.Maka
 orang yang mengatakan, “Semua kehendak Allah harus bersifat
      baik”,
adalah  pemahaman yang menyimpang dari tuntunan agama.

3.
Akal dijadikan sebagai sumber patokan di dalam  menghukumi baik
buruknya
    perbuatan.

Maka
kelompok Mu’tazilah mengatakan, “Akal adalah sumber hukum
mutlak.”
Sementara,
kelompok Jabriyah mengatakan, “Apa yang disyariatkan baik itu baik
di sisi kami, dan apa yang dikatakan syariat jelek, itu jelek menurut
kami.” Mereka menghendaki dengan ucapan tersebut bahwa akal tidak
berperan sama sekali dalam hal ini.

Sedangkan
Ahlis Sunnah mengatakan, “Akal adalah  anugerah dari Allah, dan
akal mampu memahami al-Qur’an dan as-Sunnah, tapi tidak dipakai
untuk menghukumi al-Qur’an dan as-Sunnah bila betentangan dengan
akal.


4.
Terlalu banyak mencari-cari hikmah dari takdir yang terjadi.
     Kita
tidak disyariatkan tentang bagaiamana bagaimanapun takdir-Nya,apalagi
mencari-cari takdir yang akan/telah terjadi.Bahkan mereka akan
ditanya tentang ibadahnya dihari qiyamah kelak.Allah Ta'ala
berfirman,

''Dia
tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, tapi mereka manusia yang bakalan
ditanya''
[QS.
Al Anbiyaa: 23]
  
Keimanan
kepada Takdir tidaklah menghalangi kehendak Manusia.
 
Mengimani
[meyakini][7]kepada
takdir tidaklah berarti bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan
kemampuan dalam perbuatan-perbuatan yang ia perbuat.

 Allah
Ta'ala berfirman,

''
Maka barangsiapa yang menghendaki,niscaya dia menempuh jalan
kembali kepada Rabb nya'' [QS An Naba 39]

 ''Maka
bertakwallah kepada Allah menurut kesanggupanmu [kemampuanmu]
dengar dan taatlah... [QS At Taghabun 16]

Realita
memberikan pandangan bagi manusia bahwa setiap manusia mengetahui
bahwa dia memiliki kehendak dan kemampuan.Dengan kehendak dan
kemampuannya,manusia dapat melakukan dan meninggalkan suatu
perbuatan.Bahkan ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi
dengan kehendaknya seperti makan,minum,berjalan,maupun sesuatu diluar
kehendaknya seperti gemetar,kaget dan lain-lain.Akan tetapi,kehendak
dan kemampuan manusia itu bergantung dengan kehendak dan kekuasaan
Allah Ta'ala.

Allah
Ta'ala berfirman,


فَأَيْنَ
تَذْهَبُونَ (٢٦)
إِنْ
هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (٢٧)
لِمَنْ
شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (٢٨)
وَمَا
تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
رَبُّ الْعَالَمِينَ (٢٩)

 
26.
Maka ke manakah kamu akan pergi?[8]

27.
(Al Qur'an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.[9]

28.
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan
yang
      lurus.[10]

29.
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam. [11]
 (QS At Takwir Ayat 26-29)[12]

Oleh
karena itu sungguh merupakan suatu yang sangat jauh dari ilmu jika
ada yang memilki keyakinan bahwa manusia itu dipaksa oleh Allah
Ta'ala dalam perbuatan-perbuatannya,tidak memiliki kehendak dan
kemampuan terhadap perbuatannya itu.

Berbuat
Maksiyat karena takdir?

Berbuat
maksiyat karena takdir,sungguh ini merupakan diantara keyakinan yang
jauh dari kebenaran.Karena jika ini dijadikan alasan betapa banyak
yang berbuat maksiyat karena didukung dengan pernyataan ini.

Mereka
berdalih,perbuatan maksiyat yang dia lakukan adalah memang karena
demikianlah takdir,kehendak atau 'paksaan' yang Allah Ta'ala tetapkan
atas mereka.Kalaulah Allah akan memaksa dia untuk menjadi seorang
hamba yang sangat tunduk dan patuh kepada-Nya.

Alasan
mereka serupa dengan perkataan orang-orang musyrik ketika berdalih
atas perbuatan syirik yang mereka lakukan.Allah Ta'ala berfirman,

سَيَقُولُ
 
 الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّه
مَا أَشْرَكْنَا وَلا آبَاؤُنَا وَلا
حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ
الَّذِينَ
 مِنْ
قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا
قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ
فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ
إِلا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلا
تَخْرُصُونَ (١٤٨)



148.Orang-orang
musyrik akan berkata, "Jika Allah menghendaki, tentu Kami tidak
akan mempersekutukan-Nya, begitu (pula) nenek moyang kami, dan kami
tidak akan mengharamkan apa pun." Demikian pula orang-orang
sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka
merasakan azab kami. Katakanlah (Muhammad), "Apakah kamu
mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami[13]?"
Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.


Pada
Ayat ini merupakan berita dari Allah, bahwa kaum musyrik akan
beralasan dengan qadar terhadap syirk mereka agar mereka tidak
disalahkan dan ternyata mereka mengatakannya. Di ayat ini, Allah
memberitahukan bahwa alasan tersebut juga dipakai oleh umat-umat
terdahulu yang sama mendustakan, namun hal itu tidaklah bermanfaat
dan berguna bagi mereka. Yang demikian adalah karena kalau memang
alasan mereka benar tentu dapat menghindarkan siksa dari mereka, dan
Allah tidak akan menimpakan siksa kepada mereka. Dari sini diketahui
bahwa alasan tersebut adalah keliru. 

Kekeliruan
Orang yang bermaksiyat beralasan dengan qadar [takdir] adalah karena
beberapa alasan.

-
Alasan harus bersandar kepada ilmu dan bukti, bukan kepada
persangkaan atau perkiraan. Jika bersandar kepada perkiraan yang
sesungguhnya tidak membuahkan kebenaran, maka alasan tersebut batil.

-
Alasan yang kuat hanya pada Allah, di mana alasan-Nya disepakati oleh
semua nabi dan rasul, semua kitab yang diurunkan, riwayat-riwayat
dari Nabi, akal yang sehat, dan fitrah yang lurus.

-
Allah Ta’ala telah memberikan kepada setiap makhluk kemampuan dan
kehendak yang dengannya ia dapat melakukan perbuatan yang dibebankan.
Allah tidaklah mewajibkan di luar kemampuannya dan tidaklah
mengharamkan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Oleh karena itu,
beralasan dengan qadar ketika bermaksiat merupakan kezaliman murni.

-
Allah Ta’ala telah memerintah dan melarang manusia serta tidak
membebani-Nya kecuali sesuai kesanggupannya, kalau sekiranya manusia
dipaksa dalam mengerjakan sesuatu tentu ia tidak bisa berbuat apa-apa
atau tidak bisa menolaknya, karena orang yang dipaksa tidak mampu
melepaskan diri darinya dan hal ini jelas batil, oleh karena itu
dalam Islam bila terjadi maksiat karena ketidaktahuan, lupa atau
dipaksa maka ia tidak berdosa.

-
Allah tidaklah memaksa hamba, bahkan Dia menjadikan perbuatan mereka
mengikuti pilihan mereka. Hal ini merupakan perkara yang sudah maklum
dan dapat dirasakan, karena seseorang dapat membedakan antara
perbuatan yang terjadi dengan pilihannya seperti berjalan, bekerja,
dsb. dengan perbatan yang terjadi bukan atas pilihannya, seperti
gemetar, terjatuh, dsb. meskipun semuanya terjadi atas kehendak Allah
dan iradah-Nya. Jika Dia kehendaki akan terjadi, dan jika tidak maka
tidak akan terjadi. Namun yang demikian bukanlah menunjukkan bahwa
Alah ridha dengan perbuatan tersebut. Dan Allah hanyalah membalas
perbuatan yang terjadi atas dasar pilihannya, dan tidak menghukum
perbuatan yang terjadi bukan karena pilihan dan kehendaknya.

-
Jika sekiranya ada orang yang memukul mereka (orang yang beralasan
dengan qadar ketika maksiat) atau mengambil hartanya, lalu orang yang
memukul dan mengambil hartanya beralasan dengan qadar, tentu mereka
akan menolaknya dan tidak akan menerima alasan itu.[14]


Bantahan
orang yang bermaksiyat karena takdir

1.Allah Ta'ala berfirman,

( رُسُلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (١٦٥

''[Mereka diutus ] sebagai Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana''.[QS An Nisaa' :165]


Ayat ini menerangkan bahwa bagi orang yang menaati Allah dan mengikuti para Rasul-Nya maka akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.Sementara bagi orang yang durhaka kepada Allah dan menyelisihi mereka, bahwa mereka akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan akhirat.
Seandainya takdir itu dapat dijadikan sebagai alasan oleh orang-orang yang berbuat maksiyat,maka alasan itu seharusnya tetap berlaku walaupun Allah telah mengutus para Rasul-Nya.Tapi ayat ini Allah Ta'ala menolak alasan manusia yang bermaksiyat setelah diutusnya para Rasul-Nya,termasuk didalamanya masalah takdir.
2.Allah Ta'ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ

الْمُفْلِحُونَ (١٦) -

''Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah ; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung''.
[QS At Taghabun :16]
Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sesuai dengan kemampuan. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban yang seorang hamba tidak dapat melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, dan bahwa jika seseorang mampu melakukan sebagian perintah dan tidak bisa melakukan sebagian lagi, maka yang bisa ia lakukan dilakukannya dan yang tidak bisa maka gugur darinya sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apabila aku memerintahkan suatu perintah, maka lakukanlah sesuai kesanggupanmu.”[15]


Allah telah membebankan seorang hamba untuk meninggalkan kemaksiatan ,maka berarti hamba tersebut seharusnya mampu dan sanggup untuk meninggalkannya.Dan apabila ia berbuat maksiat karena tidak tau,lupa atau terpaksa, maka ia tidak berdosa dan dimaafkan.
3.Dikisahkan bahwa sahabat yang mulia Umar bin Al -Khattab-Rahiyallahu 'Anhu- pernah menerima pencuri yang berhak dipotong tangannya,Umar pun memerintahkan agar tangan pencuri tersebut dipotong.Pencuri tersebut kemudian berkata,''Sabar dulu wahai Amirul Mukminin!Aku mencuri ini hanya karena takdir Allah''.Maka Umar menjawab,''ya ,kamipun memotong tanagnmu hanya karena takdir Allah juga''.
Seandainya orang yang beralasan dengan takdir atas kemaksiatan yang dilakukannya itu dianiaya,dirampas hartanya,dirusak kehormatannya.Kemudian orang yang menganiaya tersebut beralasan dengan takdir Allah.Apakah orang yang dianiaya tersebut menerima alasan tersebut?Tentu tidak.Dengan demikian tidak bisa kita menghukumi sepihak, sehingga beralasan dengan takdir tidak bisa dijadikan landasan dalam menetapkan hukum.


4.Rasulullah bersabda: 
 
رواية علي ، رضي الله عنه : قال البخاري ، حدثنا أبو نعيم : حدثنا سفيان ، عن الأعمش ، عن
سعد بن عبيدة ، عن أبي عبد الرحمن السلمي ، عن علي بن أبي طالب قال : كنا مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم - في بقيع الغرقد في جنازة ، فقال : " ما منكم من أحد إلا وقد كتب مقعده من الجنة ومقعده من النار " . فقالوا : يا رسول الله ، أفلا نتكل ؟ فقال : " اعملوا ، فكل ميسر لما خلق له " . قال : ثم قرأ : ( فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى ) إلى قوله : ( للعسرى ) .

Dalam suatu riwayat dari jalur sahabat Ali bin Abi Thalib-Radhiyyallahu 'Anhu- ,Al Imam Bukhari berkata,Telah menceritakan kepada kami Abu Nuaim:Telah menceritakan kepada kami Al 'A'masy,dari Sa'd bin Ubaidah,dari Abi 'Abdirrahman As Sulami,dari 'Ali bin Abi Thalib-Radhiyyallahu 'Anhu- beliau berkata; ''Dulu kami bersama Rasulullah dihadapan janazah, di dalam pemakaman Baqii' al ghorqod, kemudian datanglah Rasulullah- Shallallahu 'Alaih Wasallam- [seraya] bersabda: ''Tiada dari setiap diri kamu semua kecuali telah di tuliskan tempat duduknya di neraka atau di surga''. Kemudian para sahabat bertanya:'' wahai Rasulullah, apa kita tidak bisa berusaha atas kepastian tersebut? Rasulullah bersabda:''beramallah karena tiap sesuatu akan dimudahkan sesuai penciptaannya''.Kemudian beliau membaca surat Al Lail ayat 5-10


فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (٨)
( وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (٩)فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (١٠


5.'' Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah)dan bertakwa'',
6. ''dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga)'',


7. ''maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)''
8. ''Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah)''
9. ''serta mendustakan (pahala) yang terbaik''
10. ''maka akan Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)''
[HR Bukhari-Muslim]
Dalam hadits diatas ,Rasulullah-Shallallahu 'Alaih Wasallam- memerintahkan para sahabat untuk beramal dan melarang pasrah [menyerah] begitu saja kepada takdir.Kalau pasrah kepada takdir saja dilarang ,bagaimana dengan beralasan dengan takdir untuk mendukung bermaksiyat?
Bahaya mengingkari [tidak mau mengimani atau meremehkan ] Takdir.
عن
يحيى بن يَعمر قال:
((كان
أول من قال في القدر بالبصرة معبد الجهني،
فانطلقت أنا وحميد ابن عبد الرحمن الحميري
حاجَّين أو معتمرَين، فقلنا:
لو
لقينا أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله
عليه وسلم فسألناه عمَّا يقول هؤلاء في
القدر، فوُفِّق لنا عبد الله بن عمر بن
الخطاب داخلاً المسجد، فاكتنفته أنا
وصاحبي، أحدنا عن يَمينه والآخر عن شماله،
فظننت أنَّ صاحبي سيَكِل الكلامَ إليَّ،
فقلت:
أبا
عبد الرحمن!
إنَّه
قد ظهر قِبَلَنا ناسٌ يقرؤون القرآن
ويتقفَّرون العلمَ، وذكر من شأنهم،
وأنَّهم يزعمون أن لا قَدر، وأنَّ الأمرَ
أُنُف، قال:
فإذا
لقيت أولئك فأخبرْهم أنِّي بريء منهم،
وأنَّهم بُرآء منِّي، والذي يحلف به عبد
الله بن عمر!
لو
أنَّ لأحدهم مثل أُحُد ذهباً فأنفقه ما
قَبل الله منه حتى يؤمنَ بالقدر،

Dari
Yahya bin Ya’mar, dia berkata:

Orang
pertama yang membicarakan masalah takdir di Bashrah adalah Ma’bad
al-Juhani, lalu aku pun berangkat bersama Humaid bin ‘Abd ar-Rahman
al-Himyari untuk melaksanakan haji -atau ‘umrah. Kami berdua
berkata, “Kalau kita bertemu dengan salah seorang shahabat
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tanyakan
kepadanya apa yang diperbincangkan oleh orang-orang itu mengenai
takdir.” Sungguh kebetulan sekali, kami dan ‘Abdullah bin ‘Umar
bin al-Khaththab memasuki masjid, maka aku dan temanku pun
mengapitnya sehingga salah seorang dari kami berada di sebelah
kanannya sedangkan seorang lagi di sebelah kirinya. Aku menduga bahwa
temanku menyerahkan pembicaraan kepadaku.

Maka
aku pun berkata, “Wahai Abu ‘Abd ar-Rahman (yakni Ibn ‘Umar
-pent)! Sesungguhnya telah muncul di hadapan kami orang-orang yang
membaca al-Quran dan menuntut ilmu –lalu dia menyebutkan perihal
dan kedudukan mereka- dan bahwa mereka itu beranggapan bahwa takdir
itu tidak ada dan suatu perkara itu bersifat unuf (tidak didahului
oleh takdir dan ilmu Allah).”

Ibn
‘Umar pun berkata, “Jika kau bertemu dengan mereka, maka kau
kabarkanlah kepada mereka bahwa sungguh aku berlepas diri dari mereka
dan mereka pun berlepas diri dariku. Dan demi (Allah) yang ‘Abdullah
bin ‘Umar bersumpah dengan (nama)-Nya, seandainya salah seorang
dari mereka itu memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu dia
menginfakkannya, maka tidaklah Allah akan menerimanya sampai dia
beriman kepada takdir.”

 
Imam
Muslim meriwayatkan dengan sanadnya hingga ke tabi'i Yahya bin Ya'mar
beliau berkata:"Orang yang pertama kali berbicara tentang takdir
di Bashrahadalah Ma'bad Al Juhani. Maka aku (Yahya) dan Humaid
binAbdurrahman Al Himyari berangkat haji atau umroh, dan kamiberkata:
Jika kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullahradhiallahu 'anhu
maka kita bertanya tentang apa yang dikatakanoleh mereka (Ma'bad Al
Juhani dan pengikutnya) tentang takdir.Maka Allah memberi taufiq
kepada kami untuk bertemu denganAbdullah bin Umar radhiyallahu
'anhuma yang sedang masuk kemasjid, maka aku dan temanku
mendekatinya; salah seorang darikami di sebelah kanannya yang lain di
sebelah kiri beliau. Makasaya menduga bahwa teman saya akan
menyerahkan kepada sayauntuk berbicara, maka saya berkata: Wahai Abu
Abdirrahman,sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang
jugamembaca Al Quran dan mengumpulkan ilmu -lalu beliaumenyebutkan
beberapa ciri-ciri yang lain- mereka itu menganggaptidak ada takdir
yang ditetapkan sebelumnya dan semua urusan itubaru terjadi (tanpa
takdir sebelumnya). Maka beliau radhiallahu'anhu berkata : "Jika
engkau bertemu mereka (orang-orang yangmengingkari takdir) maka
sampaikan kepada mereka bahwa aku(Abdullah bin Umar) berlepas diri
dari mereka dan mereka punberlepas diri dari saya, demi Dzat yang
Abdullah bin Umarbersumpah atas nama-Nya, walaupun mereka
menginfakkan emassebesar bukit Uhud, Allah tidak akan menerima infak
merekasampai mereka mau beriman kepada qadar. Kemudian beliau
(IbnuUmar radhiyallahu 'anhuma) mengatakan bapak saya Umar
binKhaththab -Radhiallahu 'Anhu menceritakan kepada
kami.....(kemudian beliau membaca hadits ini).[16]

Dari
kisah ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran dan kesimpulan,
diantaranya:

1.Ajaran
baru kelompok Qadariyah-Jabriyyah   [bukan dari Rasulullah] sudah
muncul pada masa tabi'in dan ketika itu sebagian sahabat Rasulullah
shalallahu 'alaihi wasallam masih hidup.Ini menunjukkan ajaran
tersebut dilarang dalam agama bahkan pelakunya bisa murtad.

2.Bahaya
menyelisihi Rasulullah tidak diragukan lagi ia akan mendapatkan
    ancaman
neraka-wal iyyadzu billah-.

[Dan
bahaya-bahaya yang lainnya yang sangat mengkhawatirkan bagi
kejiwaan,mentalitas dan aqidah kaum muslimin]

Keimanan
pada Takdir Memberikan Banyak Manfaat,antara lain:
  • Dalam
     rangka merealisasikan
     rukun iman yang ke-6 yang sangat urgen dan
     semakin kokohnya keimanan seorang muslim.
  • Membuat
     hati dan kejiwaan seorang muslim menjadi tentram.
  • Mendidik
     dan menumbuhkan keberanian seorang hamba.

Bercerita
tentang takdir laksana lautan yang tak bertepi,demikian ilmu Allah
Ta'ala.Mudah-mudahan
yang
sedikit ulasan ini
bermanfaat bagi kaum muslimin.Semoga Allah Ta'ala melindungi diri
kita dari perbuatan maksiyat baik yang nampak maupun yang terang,dan
dari tipu daya syaithan lainnya.


Wallaahu Ta'ala A'lam.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه

Bogor,19 Maret 2015 M/ 18 Jumadil -Ula 1436 H



Abo Khaleed Yahmin Al Andunisii




Footnote
[1]Hadits riwayat Muslim dalam shahih-nya, kitab al-Iman, bab 1 hadits ke-1.
    Dan diriwayatkan juga hadits dengn lafazh seperti ini dari Abu Hurairah
   oleh Al-Bukhari dalam shahihnya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke-1.
 
[2] Ushul As-Sunnah karya Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin
       Hanbal,edisi Ulas Tuntas Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah,KAJIAN ISLAM
       INTENSIF         [Daurah 3 hari] 23-25 Desember/9-11 Shafar 1434 H Ust Dzulqarnain.

[3][HR.Al-Bukhari, (VII/210, no. 3208), Muslim, (VIII/44, no. 2643), dan
   Ibnu Majah,(I/29, no. 76). (Dan lafazhnya adalah dari riwayat Muslim,-ed.)]
 
[4][Lihat, Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VII/338), Tafsiir al-Qur-aanil
  ‘Azhiim,IbnuKatsir, (IV/140), dan Fat-hul Qadiir, asy-Syaukani, (IV/572).]
[5] Lihat, Zaadul Masiir, (VIII/114), Tafsiir al-Qur-aanil Azhiim, Ibnu
    Katsir,(IV/275),dan Fat-hul Qadiir, (V/136).
[6]Akan datang penjelasan terhadap orang yang bermaksiyat beralasan dengan
   takdir.
[7] Meyakini maksudnya sesuai makna yang benar dalam definisi iman
    [mengimani]sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
[8] Maksudnya, setelah diterangkan bahwa Al Quran itu benar-benar datang
   dari Allah dan di dalamnya berisi pelajaran dan petunjuk yang memimpin manusia
    ke jalan yang lurus dengan diperkuat bukti-buktinya, ditanyakanlah kepada  
    orang-orang kafir itu, "Maka ke manakah kamu akan pergi?” Padahal tidak ada
    setelah kebenaran selain kebatilan.
[9] Dengan Al Qur’an, mereka dapat mengingat Tuhan mereka, sifat-sifat sempurna
    yang dimiliki-Nya, bersihnya Dia dari segala kekurangan dan tandingan.
    Demikian pula dengan Al Qur’an, mereka dapat mengingat perintah dan
    larangan-Nya,mengingat hukum-hukum qadari-Nya, hukum-hukum syar’i-Nya dan
    hukum-hukum jaza’i(balasan)-Nya. Singkatnya, dengan Al Qur’an, mereka dapat
    mengenal dan mengingat segala yang bermaslahat bagi mereka di dunia dan
    akhirat,dan dengan mengamalkannya mereka akan memperoleh kebahagiaan.

[10 Setelah jelas mana yang benar dan mana yang salah, petunjuk daripada
     kesesatan.

     Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan Jabriyyah yang
     mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak.

[11] Kehendak-Nya berlaku, tidak mungkin ditolak atau dihalangi. Allah
     Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan demikian, adalah agar manusia tidak
     bersandar kepada dirinya, bahkan hendaknya ia mengetahui bahwa hal itu
     terkait dengan kehendak Allah sehingga ia pun meminta kepada Allah hidayah-
     Nya kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.

    Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan Qadariyyah yang 
    beranggapan bahwa manusia berkuasa mutlak terhadap tindakannya dan bahwa  
    Allah sama sekali tidak berkuasa. Yang benar adalah jalan yang ditempuh
    Ahlussunnah wal jama'ah, di mana jalan tersebut merupakan jalan As Salafush
    Shalih,yakni bahwa manusia berbuat sesuai kehendak dan pilihannya, namun 
    kehendak dan pilihannya mengikuti kehendak Allah Ta'ala, jika Dia
    menghendaki,maka akan terjadi perbuatan itu dan jika tidak menghendaki,
    maka tidak akan terjadi perbuatan itu.
[12]http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-at-takwir.html#sthash.3MgBQ6Hh.dpuf
[13] Yang menunjukkan bahwa Allah ridha dengan perbuatan itu.
[14]http://www.tafsir.web.id/2013/02/tafsir-al-anaam-ayat-143-

151.html#sthash.lQ0yG07t.dpuf
[16] http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura92-aya10.htmlالقرآن الكريم - تفسير ابن كثير - تفسير سورة الليل - الآية10:
[16].Syarhul Arba'in oleh Ibnu Daqiq (hal.31)وLihat:Jami'ul Ulum wa AlHikam(1:97,134,135)