Kamis, 23 Juli 2015

Bekal Seorang Mukmin Dengan Dunianya Sebelum Ajal



Bekal Seorang Mukmin Dengan Dunianya Sebelum Ajal


Kalau kita ingin menyempatkan diri untuk bertanya kepada kerabat kita atau segelintir orang yang mengenal masa kecil kita,bertanyalah,apakah dulu banyak yang senang dan tertawa riang melihat kehadiran kita dari rahim sang bunda?

Ingatan kita tidak bisa mengulang kembali ungkapan kegembiraan mereka yang tertumpah penuh dengan harapan.

Andai masa remajapun telah kita lalui,tentu kita masih ingat tentang harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita dulu dalam menyambut masa depan atau mungkin kita tidak pernah sama sekali memikirkan hal itu karena masa muda nan ceria sangat melalaikan?

Kini usia semakin senja ,sebagian kita telah mendapatkan berbagai kenikmatan dunia,kesibukkan dunia dan warna-warna yang lainnya.
Sebagian orang merasa hartanya pas-pasan,gali lubang tutup lubang,sehingga menuntutnya untuk lebih giat lagi bekerja.
Sebagian lagi merasa hartanya serba kekurangan,sehingga berbagai kebutuhan telah melilitnya.
Dan masih banyak lagi yang mereka disibukkan dengan kebutuhan keduniawiaan mereka..

Itulah penggalan kehidupan kita dalam menyambut kematian,janganlah kita menjadi orang yang menyesal disisi-Nya,sementara cahaya datang kepada kita jauh-jauh hari.....


Di dalam surat At Takatsur Allah Ta’ala berfirman,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3)

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4)
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5)

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6)
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takatsur: 1-8).

Surat ini menjelaskan tentang orang-orang yang lalai dari beribadah kepada Allah. Padahal ibadah itulah tujuan diciptakannya manusia. Yang dimaksud di sini adalah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain Allah, mengenal-Nya dan mendahulukan cinta Allah dari lainnya.

Manusia Menjadi Lalai

Manusia menjadi lalai karena waktunya hanya dihabiskan untuk membanggakan diri dengan harta. Berbangga di sini bisa jadi pada anak, harta, dan kedudukan. Sedangkan berlomba-lomba atau saling mengejar untuk meraih ridho Allah tidak termasuk di sini.

Sebagian orang ada yang asyik dengan dunia dan hartanya lalu lupa dengan ibadahnya,ia merasa telah mendapatkan nikmat yang sebenarnya,tiba-tiba kematian datang menjemput seperti halilintar menyambarnya hingga menyadarkan urat syaraf,nadi denyut nadi dan akalnya,namun sia-sialah kesadarannya karena nafas sudah berada ditenggorokannya.Nas-alullah al 'afwa wal 'afiyyah was salamah...

Terus Berbangga Hingga Ke Liang Lahat

Manusia akan terus berbangga satu dan lainnya hingga mereka masuk ke dalam kubur. Artinya, ketika mereka merasakan kematian, barulah mereka berhenti dari berbangga-bangga dengan harta.

Namun perlu diketahui bahwa alam kubur hanyalah tempat mampir sebelum sampai ke alam berikutnya. Alam kubur bukanlah tempat mukim selamanya. Dalam ayat ini pun dikatakan demikian, yaitu disebut alam kubur sebagai tempat ziarah, artinya berkunjung dan itu sifatnya sementara. Negeri yang kekal abadi adalah di akhirat kelak.

Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa amalan itu akan dibalas di negeri yang kekal abadi (bukan negeri yang akan fana).

Jika Mereka Tahu …

Seandainya mereka tahu apa yang terjadi di depan mereka yaitu mengetahui dengan ilmu yang sampai ke hati, tentu mereka tidak lalai sehingga terus-terusan berbangga-bangga dengan harta. Jika mereka tahu, tentu mereka akan segera beramal sholeh.

Namun sayangnya, mereka benar-benar tidak tahu sehingga mereka pun akan melihat neraka Jahim yang dijanjikan pada orang-orang kafir.

Mereka akan Melihat dengan ‘Ainul Yakin

Yang dimaksud dengan ayat,

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

“dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”. Maksudnya mereka benar-benar akan melihat dengan penglihatan mereka. Sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat yang lain,

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

“Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya. ” (QS. Al Kahfi: 53).

‘Ilmu Yakin, ‘Ainul Yakin dan Haqqul Yakin

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya mengenai ‘ainul yakin dan ilmu yakin. ‘Ilmu yakin adalah sesuatu yang diketahui dengan mendengar, kabar berita, pengqiyasan (permisalan) dan berpikir tanpa melihat secara langsung. Sedangkan ‘ainul yakin adalah menyaksikan langsung dengan penglihatan. Ada juga haqqul yakin, yaitu dengan merasakan secara langsung.

Ibnu Taimiyah mencontohkan ketiga hal di atas dengan memberi permisalan madu. Jika madu tersebut hanya diketahui lewat berita, maka disebut ‘ilmu yakin. Jika diketahui lewat melihat langsung, maka disebut ‘ainul yakin. Jika dirasakan manisnya madu tersebut, maka disebut dengan haqqul yakin.

Akan Ditanya Berbagai Macam Nikmat

Setiap orang akan ditanya berbagai macam nikmat yang mereka rasakan di dunia. Apakah mereka benar-benar telah bersyukur atas nikmat tersebut? Apakah benar mereka telah menunaikan hak Allah? Apakah mereka benar tidak menggunakan nikmat tersebut untuk maksiat? Jika benar, maka mereka akan diberi nikmat yang lebih lagi dari yang sebelumnya.

Ataukah mereka jadi orang yang terperdaya dengan nikmat? Atau mungkin mereka gunakan dalam maksiat? Jika demikian, tentu kelak mereka akan dibalas dengan siksa yang pedih. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri d muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik.” (QS. Al Ahqaf: 20).

Banyak Ziarah Kubur

Tentang ayat,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Yang dimaksud ayat ini, kata Ibnu Taimiyah adalah ‘yatakatsaruna biquburil mawtaa‘, yaitu mereka memperbanyak ziarah kubur pada orang yang mati. Hal ini disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah dalam tafsirnya.

Beliau berkata bahwa ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang banyak ziarah kubur sehingga mereka lalai dari ibadah dan belajar agama. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih membolehkan ziarah kubur setelah itu, namun dengan maksud mengingat mati. Bukan untuk maksud untuk berbangga diri dan membangun kubur.

Demikian perkataan Ibnu ‘Athiyyah secara ringkas yang dinukil dari perkataan Ibnu Taimiyyah [1].

Allah Ta'ala berfirman didalam Surat Al Munafiqun Ayat 9-11


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٩)

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

(١٠)

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١١)



9. [2]Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah [3]. Dan barang siapa berbuat demikian[4], maka mereka itulah orang-orang yang rugi[5].


10. Dan infakkanlah [6] sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu [7] sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali) [8], "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi [9], maka aku dapat bersedekah [10] dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh [11]."


11. Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan[12][13].


عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( يتبع الميت ثلاث فيرجع اثنان ويبقى واحد يتبعه أهله وماله وعمله فيرجع أهله وماله ويبقى عمله ) رواه البخاري ومسلم .

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:

“ Si mati itu diikuti oleh tiga golongan. Akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya. Dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya ”. [14]

Hadits ini telah dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali -Rahimahullah- di dalam risalah yang sangat berharga. Dia berkata: “Tafsir hadith ini adalah bahawa anak Adam mesti memiliki keluarga yang selalu bergaul dengan dirinya dan juga harta sebagai bekal hidupnya. Dua teman ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai jalan untuk berzikir kepada Allah Shallallahu 'Alaih Wasallam, dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu untuk kehidupan akhirat, dia mencari isteri yang solehah yang boleh menjaga keimanannya. Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah Ta'ala maka dia temasuk orang yang rugi.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang orang-orang Badui:

شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا

"Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampun untuk kami…”. (QS. Al-Fath: 11).

Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak dari hadith Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaih Wasallam bersabda:

أتاني جبريل فقال : يا محمد ! عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس

“Jibril datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau pasti akan mati, cintailah siapa yang engkau kehendaki sebab engkau akan meninggalkannya, dan berbuatlah apa yang engkau kehendaki sebab engkau akan mendapat balasannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhamad kemulian seorang mu’min ada pada saat qiamullail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya pada manusia”.[15].

Maka apabila anak Adam mati, dan meninggalkan dunia ini maka dia tidak mengambil manfaat apapun dari keluarga dan hartanya kecuali do’a keluarga baginya, permohonan ampun mereka untuk dirinya dan perbuatan-perbuatan yang dijelaskan oleh syara’ yang boleh mendatangkan manfaat untuk dirinya serta apa yang di keluarkan dari hartanya untuk manfaat dirinya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(iaitu) di hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Al-Asyu’ara: 88-89.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاء ظُهُورِكُمْ

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu;…”.

(QS. Al-An’am: 94).

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Abi Hurairah Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:
Apabila anak Adam meninggal maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal Sedekah jariah, ilmu yang bermanafaat dan anak soleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya”.[16]

Adapun teman pertama adalah keluarga, maka keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun baginya setelah kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun baginya dan berdo’a baginya seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Boleh jadi keluaraganya tidak berdo’a baginya, sebab boleh jadi orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang soleh: Keluargamu sibuk membahagi warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih dengan kematianmu dan berdo’a untukmu pada saat dirimu berada di antara himpitan lubang-lubang dalam tanah, dan di antara keluarga itu ada yang menjadi musuh bagimu.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (QS. Al-Tagabun: 14).

Adapun teman yang kedua adalah harta, maka dia tidak mengikuti pemiliknya dan tidak pula masuk ke dalam kuburnya, dan kembalinya harta tersebut sebagai kalimat kiasan bahawa harta itu tidak menemani pemiliknya di dalam kuburnya dan tidak masuk ke dalam liang kubur pemiliknya.

Diriwayatkan oleh Muslim dari hadith Abi Hurairah Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:

Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rosak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”.[17]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:

“Siapakah di antara kamu yang harta pewarisnya lebih dicintainya daripada harta dirinya sendiri?. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun di antara kita kecuali hartanya lebih dicintainya. Baginda saw bersabda: Sesungguhnya harta miliknya yang sebenarnya adalah apa yang telah dipersembahkan (sebagai amal soleh) sementara harta pewarisnya adalah apa yang ditinggalkan”.[18]

Seorang pembesar berkata kepada Abi Hazim -Rahimahullah- yang hidup zuhud: Kenapa kita membenci kematian? Dia menjawab: Kerana engkau mengagungkan dunia, engkau telah menjadikan hartamu di hadapan kedua matamu maka engkau pasti benci meninggalkannya dan seandainya engkau mempersiapkannya untuk akhiratmu nescaya engkau akan senang menggunakannya untuk mengejarnya.

Allah Ta'ala berfirman,

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imron: 92)

Ibnu Umar tidak bangga kepada hartanya kecuali apa yang telah dipersembahkannya sebagai amal soleh kerana Allah Ta'ala, sehingga pada suatu ketika pada saat dia menunggang seekor unta, lalu dia kagum dengannya, maka diapun segera turun darinya dan mengheretnya lalu menjadikannya sebagai sedekah di jalan AllahTa'ala.

Adapun teman yang ketiga, ia adalah amal yang mengikuti pemiliknya ke dalam kubur dan hidup bersamanya dalam kubur tersebut, dia bersamanya pada saat dibangkitkan menghadap Allah Ta'ala. Amal itu menyertainya pada saat dikumpulkan di padang mahsyar, di atas shirat, pada saat ditimbang dan dengan amal itu pula seseorang akan memperolehi tingkat kedudukannya di syurga atau di neraka. Allah Ta'ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Siapa yang mengerjakan amal yang soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).

(QS. Fushilat: 46).

Allah Ta'ala berfirman,

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Siapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barang siapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).

(QS. Al-Rum: 44)

Sebahagian ulama salaf berkata:

“Bekerjalah untuk kepentingan duniamu sebatas lamanya masa kamu menetap padanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu selama kamu tinggal padanya.

Al-Hasan berkata:

“Seorang lelaki dari kaum muslimin mengikuti jenazah saudaranya lalu pada saat jenazah diturunkan di dalam liang kuburnya lelaki itu berkata: Aku tidak mengetahui yang mengikutimu dari dunia ini kecuali tiga helai kain, demi Allah aku meningalkan rumahku dengan barang-barang yang begitu banyak, demi Allah seandainya aku diberi kesempatan untuk pulang ke rumah nescaya aku akan sedekahkan rumahku untuk kepentingan diriku. Al-Hasan berkata: Maka lelaki itupun kembali dan mensedekahkannya. Dan mereka tahu bahawa orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz”.


Bekal seorang mukmin agar tidak menyesal disaat ajal menjemputnya diantaranya ialah selalu meningkatkan kualitas ketakwaannya kepada Allah Ta'ala,menjadikan kematian sebagai pengingat akhirat dan memperbanyak amal kebajikan serta berinfaq dijalan-Nya,selalu mensyukuri segala nikmat-Nya baik yang nampak maupun yang tersembunyi,tidak terlalu menyibukkan dunia sehingga ia lalai terhadap kehidupan akherat nan abadi.
Semoga Allah Ta'ala selalu membimbing kita menuju jalan yang lurus dan menjadikan seluruh amalan kita ikhlas karena-Nya.

Wallahu Ta'ala A'lam

Ba'da Isya Bogor 22 Pebruari 2015 M/4 Jumadil Awwal 1436 H

Catatan kaki.
[1]Majmu’ Al Fatawa, 2: 375-376
[2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk banyak mengingat-Nya, karena di sana terdapat keberuntungan dan kebaikan yang banyak, dan melarang mereka dibuat sibuk oleh harta dan anak-anak mereka sampai lalai mengingat Allah. Hal itu, karena jiwa manusia diciptakan dengan keadaannya yang senang kepada harta dan anak, namun jika sampai diutamakan di atas kecintaan dan ketaatan kepada Allah, maka dapat mengakibatkan kerugian yang besar seperti saat dikumandangkan azan Jum’at untuk shalat Jum’at, tetapi ia masih saja sibuk berdagang.
[3] Seperti dari shalat yang lima waktu.
[4] Yakni harta dan anaknya membuat lalai dari mengingat Allah.
[5] Tidak mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal karena mengutamakan kenikmatan yang fana’ (sebentar). Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At Taghaabun: 15)
[6] Termasuk dalam hal ini nafkah/infak yang wajib maupun yang sunat. Yang wajib seperti zakat, kaffarat, nafkah kepada istri, dsb. Sedangkan yang sunat seperti mengorbankan harta untuk segala yang bermaslahat.
[7] Hal ini menunjukkan bahwa nafkah yang Allah bebankan agar hamba mengeluarkannya tidaklah menyusahkan mereka, bahkan Allah memerintahkan mereka agar mengeluarkan sebagian dari rezeki yang Allah karuniakan kepada mereka, dimana Dia telah mempermudahnya untuk mereka dan mempermudah sebab-sebabnya. Oleh karena itu, hendaknya mereka bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada mereka rezeki itu, yaitu dengan membantu saudara-saudara mereka yang memerlukan dan bersegera kepadanya sebelum datang kematian yang jika tiba, maka seorang hamba tidak dapat mengejar lagi amal saleh yang telah dilalaikannya.
[8] Meminta agar dikembalikan lagi ke dunia.
[9] Agar aku dapat mengejar amal saleh yang telah aku lalaikan seperti zakat ketika hartanya telah mencapai nishab (ukuran wajib zakat) dan haji ketika sudah mampu.
[10] Sehingga aku dapat selamat dari azab dan dapat memperoleh banyak pahala.
[11] Dengan mengerjakan perkara yang diperintahkan dan menjauhi larangan.
[12] Baik atau buruk, lalu Dia membalasnya sesuai yang Dia ketahui dari kamu, yakni dari niat dan amalmu.
[14] Sahih Bukhari: 4/194 no: 6514 dan shahih Muslim: 4/2273
[15] Mustadrakul hakim: 4/360 dan Al-Mundziri di dalam kitab: Al-Targib wat tarhib 1/485: HR. Thabrani fil awsath dengan sanad yang hasan, dan sahihkan oleh Al-Bani rahimhullah di dalam sahihul jami’: 1/76 no: 73.
[16] Sahih Muslim, halaman: 670 o: 1631
[17] Sahih Muslim, halaman: 1187 no: 2958
[18] Sahihul Al-Bukhari, halaman: 1236 no: 6442


Tidak ada komentar:

Posting Komentar