Bekal Seorang
Mukmin Dengan Dunianya Sebelum Ajal
Kalau kita ingin
menyempatkan diri untuk bertanya kepada kerabat kita atau segelintir
orang yang mengenal masa kecil kita,bertanyalah,apakah dulu banyak
yang senang dan tertawa riang melihat kehadiran kita dari rahim sang
bunda?
Ingatan kita tidak
bisa mengulang kembali ungkapan kegembiraan mereka yang tertumpah
penuh dengan harapan.
Andai masa remajapun
telah kita lalui,tentu kita masih ingat tentang harapan-harapan dan
keinginan-keinginan kita dulu dalam menyambut masa depan atau mungkin
kita tidak pernah sama sekali memikirkan hal itu karena masa muda nan
ceria sangat melalaikan?
Kini usia semakin
senja ,sebagian kita telah mendapatkan berbagai kenikmatan
dunia,kesibukkan dunia dan warna-warna yang lainnya.
Sebagian orang
merasa hartanya pas-pasan,gali lubang tutup lubang,sehingga
menuntutnya untuk lebih giat lagi bekerja.
Sebagian lagi merasa
hartanya serba kekurangan,sehingga berbagai kebutuhan telah
melilitnya.
Dan masih banyak
lagi yang mereka disibukkan dengan kebutuhan keduniawiaan mereka..
Itulah penggalan
kehidupan kita dalam menyambut kematian,janganlah kita menjadi orang
yang menyesal disisi-Nya,sementara cahaya datang kepada kita
jauh-jauh hari.....
Di dalam surat At
Takatsur Allah Ta’ala berfirman,
أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ (1
حَتَّى زُرْتُمُ
الْمَقَابِرَ (2)
كَلَّا سَوْفَ
تَعْلَمُونَ (3)
ثُمَّ
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4)
كَلَّا
لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5)
لَتَرَوُنَّ
الْجَحِيمَ (6)
ثُمَّ
لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)
ثُمَّ
لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
(8)
“Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah
begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan
janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika
kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu
benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu
benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu
pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu
megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At Takatsur: 1-8).
Surat ini
menjelaskan tentang orang-orang yang lalai dari beribadah kepada
Allah. Padahal ibadah itulah tujuan diciptakannya manusia. Yang
dimaksud di sini adalah beribadah kepada Allah semata dan
meninggalkan ibadah kepada selain Allah, mengenal-Nya dan
mendahulukan cinta Allah dari lainnya.
Manusia Menjadi
Lalai
Manusia menjadi
lalai karena waktunya hanya dihabiskan untuk membanggakan diri dengan
harta. Berbangga di sini bisa jadi pada anak, harta, dan kedudukan.
Sedangkan berlomba-lomba atau saling mengejar untuk meraih ridho
Allah tidak termasuk di sini.
Sebagian orang ada
yang asyik dengan dunia dan hartanya lalu lupa dengan ibadahnya,ia
merasa telah mendapatkan nikmat yang sebenarnya,tiba-tiba kematian
datang menjemput seperti halilintar menyambarnya hingga menyadarkan
urat syaraf,nadi denyut nadi dan akalnya,namun sia-sialah
kesadarannya karena nafas sudah berada ditenggorokannya.Nas-alullah
al 'afwa wal 'afiyyah was salamah...
Terus Berbangga
Hingga Ke Liang Lahat
Manusia akan terus
berbangga satu dan lainnya hingga mereka masuk ke dalam kubur.
Artinya, ketika mereka merasakan kematian, barulah mereka berhenti
dari berbangga-bangga dengan harta.
Namun perlu
diketahui bahwa alam kubur hanyalah tempat mampir sebelum sampai ke
alam berikutnya. Alam kubur bukanlah tempat mukim selamanya. Dalam
ayat ini pun dikatakan demikian, yaitu disebut alam kubur sebagai
tempat ziarah, artinya berkunjung dan itu sifatnya sementara. Negeri
yang kekal abadi adalah di akhirat kelak.
Ayat ini sekaligus
menunjukkan bahwa amalan itu akan dibalas di negeri yang kekal abadi
(bukan negeri yang akan fana).
Jika Mereka Tahu …
Seandainya mereka
tahu apa yang terjadi di depan mereka yaitu mengetahui dengan ilmu
yang sampai ke hati, tentu mereka tidak lalai sehingga terus-terusan
berbangga-bangga dengan harta. Jika mereka tahu, tentu mereka akan
segera beramal sholeh.
Namun sayangnya,
mereka benar-benar tidak tahu sehingga mereka pun akan melihat neraka
Jahim yang dijanjikan pada orang-orang kafir.
Mereka akan Melihat
dengan ‘Ainul Yakin
Yang dimaksud dengan
ayat,
كَلَّا
لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
“dan sesungguhnya
kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”. Maksudnya
mereka benar-benar akan melihat dengan penglihatan mereka.
Sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat yang lain,
وَرَأَى
الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا
أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا
عَنْهَا مَصْرِفًا
“Dan orang-orang
yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan
jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari
padanya. ” (QS. Al Kahfi: 53).
‘Ilmu Yakin,
‘Ainul Yakin dan Haqqul Yakin
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah pernah ditanya mengenai ‘ainul yakin dan ilmu yakin. ‘Ilmu
yakin adalah sesuatu yang diketahui dengan mendengar, kabar berita,
pengqiyasan (permisalan) dan berpikir tanpa melihat secara langsung.
Sedangkan ‘ainul yakin adalah menyaksikan langsung dengan
penglihatan. Ada juga haqqul yakin, yaitu dengan merasakan secara
langsung.
Ibnu Taimiyah
mencontohkan ketiga hal di atas dengan memberi permisalan madu. Jika
madu tersebut hanya diketahui lewat berita, maka disebut ‘ilmu
yakin. Jika diketahui lewat melihat langsung, maka disebut ‘ainul
yakin. Jika dirasakan manisnya madu tersebut, maka disebut dengan
haqqul yakin.
Akan Ditanya
Berbagai Macam Nikmat
Setiap orang akan
ditanya berbagai macam nikmat yang mereka rasakan di dunia. Apakah
mereka benar-benar telah bersyukur atas nikmat tersebut? Apakah benar
mereka telah menunaikan hak Allah? Apakah mereka benar tidak
menggunakan nikmat tersebut untuk maksiat? Jika benar, maka mereka
akan diberi nikmat yang lebih lagi dari yang sebelumnya.
Ataukah mereka jadi
orang yang terperdaya dengan nikmat? Atau mungkin mereka gunakan
dalam maksiat? Jika demikian, tentu kelak mereka akan dibalas dengan
siksa yang pedih. Allah Ta’ala berfirman,
وَيَوْمَ
يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى
النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ
فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ
بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ
الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ
فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا
كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ
“Dan (ingatlah)
hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka
dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam
kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya;
maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena
kamu telah menyombongkan diri d muka bumi tanpa hak dan karena kamu
telah fasik.” (QS. Al Ahqaf: 20).
Banyak Ziarah Kubur
Tentang ayat,
أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى
زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
“Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Yang dimaksud ayat
ini, kata Ibnu Taimiyah adalah ‘yatakatsaruna biquburil mawtaa‘,
yaitu mereka memperbanyak ziarah kubur pada orang yang mati. Hal ini
disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah dalam tafsirnya.
Beliau berkata bahwa
ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang banyak ziarah kubur
sehingga mereka lalai dari ibadah dan belajar agama. Namun Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam masih membolehkan ziarah kubur
setelah itu, namun dengan maksud mengingat mati. Bukan untuk maksud
untuk berbangga diri dan membangun kubur.
Demikian perkataan
Ibnu ‘Athiyyah secara ringkas yang dinukil dari perkataan Ibnu
Taimiyyah [1].
Allah Ta'ala
berfirman didalam Surat Al Munafiqun Ayat 9-11
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ
أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ
ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٩)
وَأَنْفِقُوا
مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ
يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ
رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ
قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ
الصَّالِحِينَ
(١٠)
وَلَنْ يُؤَخِّرَ
اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا
وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
(١١)
9. [2]Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah [3]. Dan barang siapa berbuat
demikian[4], maka mereka itulah orang-orang yang rugi[5].
10. Dan infakkanlah
[6] sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu [7] sebelum
kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata
(menyesali) [8], "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda
(kematian)ku sedikit waktu lagi [9], maka aku dapat bersedekah [10]
dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh [11]."
11. Dan Allah tidak
akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah
datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan[12][13].
عن
أنس رضي الله عنه قال : قال
رسول الله صلى الله عليه وسلم (
يتبع الميت ثلاث
فيرجع اثنان ويبقى واحد يتبعه أهله وماله
وعمله فيرجع أهله وماله ويبقى عمله )
رواه البخاري
ومسلم .
Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Dari Anas
bin Malik Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih
Wasallam bersabda:
“ Si mati itu
diikuti oleh tiga golongan. Akan kembali dua golongan dan satu
golongan akan tetap menemaninya. Dia akan diikuti oleh keluarganya,
hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang
sementara amalnya akan tetap menemaninya ”. [14]
Hadits ini telah
dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali -Rahimahullah- di
dalam risalah yang sangat berharga. Dia berkata: “Tafsir hadith ini
adalah bahawa anak Adam mesti memiliki keluarga yang selalu bergaul
dengan dirinya dan juga harta sebagai bekal hidupnya. Dua teman ini
selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya. Maka
orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai
jalan untuk berzikir kepada Allah Shallallahu 'Alaih Wasallam, dan
menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu
untuk kehidupan akhirat, dia mencari isteri yang solehah yang boleh
menjaga keimanannya. Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga
yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah Ta'ala maka dia temasuk
orang yang rugi.
Sebagaimana firman
Allah Ta'ala tentang orang-orang Badui:
شَغَلَتْنَا
أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا
"Harta dan
keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampun untuk
kami…”. (QS. Al-Fath: 11).
Diriwayatkan
Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak dari hadith Sahl bin Sa’d bahwa Nabi
Muhammad Shallallahu Alaih Wasallam bersabda:
أتاني
جبريل فقال : يا
محمد ! عش
ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه،
واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف
المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن
الناس
“Jibril datang
kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam dan berkata: Wahai
Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau pasti akan mati,
cintailah siapa yang engkau kehendaki sebab engkau akan
meninggalkannya, dan berbuatlah apa yang engkau kehendaki sebab
engkau akan mendapat balasannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhamad
kemulian seorang mu’min ada pada saat qiamullail dan ketinggiannya
pada ketidakbutuhannya pada manusia”.[15].
Maka apabila anak
Adam mati, dan meninggalkan dunia ini maka dia tidak mengambil
manfaat apapun dari keluarga dan hartanya kecuali do’a keluarga
baginya, permohonan ampun mereka untuk dirinya dan
perbuatan-perbuatan yang dijelaskan oleh syara’ yang boleh
mendatangkan manfaat untuk dirinya serta apa yang di keluarkan dari
hartanya untuk manfaat dirinya.
Allah Ta'ala
berfirman:
يَوْمَ
لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا
مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(iaitu) di hari di
mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang
yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.
Al-Asyu’ara:
88-89.
Allah Ta'ala
berfirman:
وَلَقَدْ
جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ
أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا
خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاء ظُهُورِكُمْ
“Dan sesungguhnya
kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami
ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia)
apa yang telah Kami kurniakan kepadamu;…”.
(QS. Al-An’am:
94).
Diriwayatkan oleh
Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Abi Hurairah
Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam
bersabda:
Apabila anak Adam
meninggal maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal Sedekah jariah,
ilmu yang bermanafaat dan anak soleh yang selalu mendo’akan kedua
orang tuanya”.[16]
Adapun teman pertama
adalah keluarga, maka keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun
baginya setelah kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun
baginya dan berdo’a baginya seperti apa yang telah disebutkan
sebelumnya. Boleh jadi keluaraganya tidak berdo’a baginya, sebab
boleh jadi orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi
keluarganya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang
soleh: Keluargamu sibuk membahagi warisan yang telah engkau
tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih dengan kematianmu
dan berdo’a untukmu pada saat dirimu berada di antara himpitan
lubang-lubang dalam tanah, dan di antara keluarga itu ada yang
menjadi musuh bagimu.
Sebagaimana firman
Allah Ta'ala,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ
أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا
لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
Hai orang-orang yang
beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada
yang menjadi musuh bagimu (QS. Al-Tagabun: 14).
Adapun teman yang
kedua adalah harta, maka dia tidak mengikuti pemiliknya dan tidak
pula masuk ke dalam kuburnya, dan kembalinya harta tersebut sebagai
kalimat kiasan bahawa harta itu tidak menemani pemiliknya di dalam
kuburnya dan tidak masuk ke dalam liang kubur pemiliknya.
Diriwayatkan oleh
Muslim dari hadith Abi Hurairah Radhiyyallahu 'Anhu bahwa Nabi
Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:
Anak Adam berkata:
Hartaku, hartaku, Allah berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai
anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau
pakai lalu rosak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu
membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan
untuk orang lain”.[17]
Diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyyallahu 'Anhu
bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda:
“Siapakah di
antara kamu yang harta pewarisnya lebih dicintainya daripada harta
dirinya sendiri?. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada
seorangpun di antara kita kecuali hartanya lebih dicintainya. Baginda
saw bersabda: Sesungguhnya harta miliknya yang sebenarnya adalah apa
yang telah dipersembahkan (sebagai amal soleh) sementara harta
pewarisnya adalah apa yang ditinggalkan”.[18]
Seorang pembesar
berkata kepada Abi Hazim -Rahimahullah- yang hidup zuhud: Kenapa kita
membenci kematian? Dia menjawab: Kerana engkau mengagungkan dunia,
engkau telah menjadikan hartamu di hadapan kedua matamu maka engkau
pasti benci meninggalkannya dan seandainya engkau mempersiapkannya
untuk akhiratmu nescaya engkau akan senang menggunakannya untuk
mengejarnya.
Allah Ta'ala
berfirman,
لَن
تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ
مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن
شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Kamu sekali-kali
tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imron: 92)
Ibnu Umar tidak
bangga kepada hartanya kecuali apa yang telah dipersembahkannya
sebagai amal soleh kerana Allah Ta'ala, sehingga pada suatu ketika
pada saat dia menunggang seekor unta, lalu dia kagum dengannya, maka
diapun segera turun darinya dan mengheretnya lalu menjadikannya
sebagai sedekah di jalan AllahTa'ala.
Adapun teman yang
ketiga, ia adalah amal yang mengikuti pemiliknya ke dalam kubur dan
hidup bersamanya dalam kubur tersebut, dia bersamanya pada saat
dibangkitkan menghadap Allah Ta'ala. Amal itu menyertainya pada saat
dikumpulkan di padang mahsyar, di atas shirat, pada saat ditimbang
dan dengan amal itu pula seseorang akan memperolehi tingkat
kedudukannya di syurga atau di neraka. Allah Ta'ala berfirman,
مَنْ
عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ
أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ
بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
Siapa yang
mengerjakan amal yang soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri
dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya
sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba
(Nya).
(QS. Fushilat: 46).
Allah Ta'ala
berfirman,
مَن
كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ
عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ
يَمْهَدُونَ
Siapa yang kafir
maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan
barang siapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah
mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).
(QS. Al-Rum: 44)
Sebahagian ulama
salaf berkata:
“Bekerjalah untuk
kepentingan duniamu sebatas lamanya masa kamu menetap padanya, dan
berbuatlah untuk akhiratmu selama kamu tinggal padanya.
Al-Hasan berkata:
“Seorang lelaki
dari kaum muslimin mengikuti jenazah saudaranya lalu pada saat
jenazah diturunkan di dalam liang kuburnya lelaki itu berkata: Aku
tidak mengetahui yang mengikutimu dari dunia ini kecuali tiga helai
kain, demi Allah aku meningalkan rumahku dengan barang-barang yang
begitu banyak, demi Allah seandainya aku diberi kesempatan untuk
pulang ke rumah nescaya aku akan sedekahkan rumahku untuk kepentingan
diriku. Al-Hasan berkata: Maka lelaki itupun kembali dan
mensedekahkannya. Dan mereka tahu bahawa orang itu adalah Umar bin
Abdul Aziz”.
Bekal seorang mukmin
agar tidak menyesal disaat ajal menjemputnya diantaranya ialah selalu
meningkatkan kualitas ketakwaannya kepada Allah Ta'ala,menjadikan
kematian sebagai pengingat akhirat dan memperbanyak amal kebajikan
serta berinfaq dijalan-Nya,selalu mensyukuri segala nikmat-Nya baik
yang nampak maupun yang tersembunyi,tidak terlalu menyibukkan dunia
sehingga ia lalai terhadap kehidupan akherat nan abadi.
Semoga Allah Ta'ala
selalu membimbing kita menuju jalan yang lurus dan menjadikan seluruh
amalan kita ikhlas karena-Nya.
Wallahu Ta'ala
A'lam
Ba'da Isya Bogor 22
Pebruari 2015 M/4 Jumadil Awwal 1436 H
Catatan kaki.
[1]Majmu’
Al Fatawa, 2: 375-376
[2]
Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin
untuk banyak mengingat-Nya, karena di sana terdapat keberuntungan dan
kebaikan yang banyak, dan melarang mereka dibuat sibuk oleh harta dan
anak-anak mereka sampai lalai mengingat Allah. Hal itu, karena jiwa
manusia diciptakan dengan keadaannya yang senang kepada harta dan
anak, namun jika sampai diutamakan di atas kecintaan dan ketaatan
kepada Allah, maka dapat mengakibatkan kerugian yang besar seperti
saat dikumandangkan azan Jum’at untuk shalat Jum’at, tetapi ia
masih saja sibuk berdagang.
[3]
Seperti dari shalat yang lima waktu.
[4]
Yakni harta dan anaknya membuat lalai dari mengingat Allah.
[5]
Tidak mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal
karena mengutamakan kenikmatan yang fana’ (sebentar). Allah
Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan
anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala
yang besar.” (At Taghaabun: 15)
[6]
Termasuk dalam hal ini nafkah/infak yang wajib maupun yang sunat.
Yang wajib seperti zakat, kaffarat, nafkah kepada istri, dsb.
Sedangkan yang sunat seperti mengorbankan harta untuk segala yang
bermaslahat.
[7]
Hal ini menunjukkan bahwa nafkah yang Allah bebankan agar hamba
mengeluarkannya tidaklah menyusahkan mereka, bahkan Allah
memerintahkan mereka agar mengeluarkan sebagian dari rezeki yang
Allah karuniakan kepada mereka, dimana Dia telah mempermudahnya untuk
mereka dan mempermudah sebab-sebabnya. Oleh karena itu, hendaknya
mereka bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada mereka
rezeki itu, yaitu dengan membantu saudara-saudara mereka yang
memerlukan dan bersegera kepadanya sebelum datang kematian yang jika
tiba, maka seorang hamba tidak dapat mengejar lagi amal saleh yang
telah dilalaikannya.
[8]
Meminta agar dikembalikan lagi ke dunia.
[9]
Agar aku dapat mengejar amal saleh yang telah aku lalaikan seperti
zakat ketika hartanya telah mencapai nishab (ukuran wajib zakat) dan
haji ketika sudah mampu.
[10]
Sehingga aku dapat selamat dari azab dan dapat memperoleh banyak
pahala.
[11]
Dengan mengerjakan perkara yang diperintahkan dan menjauhi larangan.
[12]
Baik atau buruk, lalu Dia membalasnya sesuai yang Dia ketahui dari
kamu, yakni dari niat dan amalmu.
[14]
Sahih Bukhari: 4/194 no: 6514 dan shahih Muslim: 4/2273
[15]
Mustadrakul hakim: 4/360 dan Al-Mundziri di dalam kitab: Al-Targib
wat tarhib 1/485: HR. Thabrani fil awsath dengan sanad yang hasan,
dan sahihkan oleh Al-Bani rahimhullah di dalam sahihul jami’: 1/76
no: 73.
[16]
Sahih Muslim, halaman: 670 o: 1631
[17]
Sahih Muslim, halaman: 1187 no: 2958
[18]
Sahihul Al-Bukhari, halaman: 1236 no: 6442
Tidak ada komentar:
Posting Komentar