Sebagai
seorang ahlusunnah ia harus betul-betul meyakini dan memahami takdir
dengan keyakinan dan pemahaman yang benar,karena mengimani atau
meyakini takdir merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan
dalam beragama.
Untuk
mendapatkan pemahaman yang benar maka seorang muslim harus mengenal
apa itu iman?,dan apa itu takdir?
Iman
menurut Ahlus Sunnah mencakup perkataan dan perbuatan, yaitu meyakini
dengan hati, meng-ikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan
anggota badan, dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang
dengan sebab perbuatan dosa dan maksiyat.
Sedangkan,Qadar
ialah : Takdir, ketentuan Ilahi, yaitu : iman bahwa segala sesuatu
yang terjadi di alam semesta ini adalah diketahui, dicatat,
dikehendaki dan dijadikan oleh Allah ta’aala.
Sehingga
diantara keimanan yang wajib diketahui dan diamalkan adalah beriman
terhadap takdir.Rasulullah bersabda:
أن
تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم
الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره
“Yaitu
: beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
Rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta beriman kepada qadar yang baik
dan yang buruk.”[1]
Bisyr
bin Musa -Rahimahullah- menceritakan kepada kami, beliau berkata,
al-Humaidi-Rahimahullah- menceritakan kepada kami, beliau
mengatakan: “As-Sunnah menurut kami adalah:
Seseorang
beriman kepada al-Qadar (takdir) yang baik ataukah yang jelek, yang
menyenangkan ataukah yang menyusahkan. Dan sepatutnya dia mengetahui
bahwa musibah yang Allah tetapkan atas dirinya tidak akan meleset
darinya, dan apa yang Allah tidak tetapkan atasnya, tidak akan
mengenainya. Kesemuanya itu adalah Qadha (ketentuan) dari Allah ‘Azza
wa Jalla.”
Ada
Apa Dengan Takdir?
Ada
7 hal pokok yang wajib diyakini pada masalah takdir [2],
antara lain:
Pokok
pertama, wajib meyakini segala yang ditakdirkan oleh Allah,Allah
mengetahuinya.
“Dia-lah
Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar)
selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata … .” [QS
Al-Hasyr: 22]
“…Allah
mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka…
.” [QS Al-Baqarah: 255]
“…(Rabb-ku)
Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada yang ter-sembunyi dari-Nya
seberat dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan
tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar,
melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
[QS
Saba': 3]
“… Allah
lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan… .” [QS
Al-An’aam: 124]
Juga
firman-Nya:
“Sesungguhnya
Rabb-mu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari
jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” [QS Al-Qalam : 7]
“Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan
Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam
kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [QS
Al-An’aam: 59]
“Jika
mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kepadamu
selain dari kerusakan belaka… .” [QS At-Taubah: 47]
“… Sekiranya
mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang
mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu
adalah pendusta-pendusta belaka.” [QS Al-An’am: 28]
“Kalau
kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah
menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan
mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang
mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” [QS
Al-Anfaal: 23]
Pokok
ke 2,wajib meyakini bahwa segala yang ditakdirkan,
telah
tercatat
di Lauhul-Mahfudz.
“Apakah
kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja
yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat
dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat
mudah bagi Allah.” [QS Al-Hajj: 70]
“…Dan
segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh
Mahfuzh).” [QS Yaasiin: 12]
“Katakanlah,
‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah
ditetapkan oleh Allah bagi kami… .’” [QS At-Taubah: 51]
Allah
Azza wa Jalla juga berfirman tentang do’a Nabi Musa Alaihissalam:
“Dan
tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia … .” [QS Al-A’raaf:
156]
Dia
berfirman tentang bantahan Nabi Musa Alaihissalam kepada Fir’aun:
“Berkata
Fir’aun, ‘Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’
Musa menjawab, ‘Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabb-ku, di
dalam sebuah kitab, Rabb-ku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa…
.’” [QS Thaahaa: 51-52]
Pokok
ke 3,wajib meyakini bahwa segala yang ditakdirkan, Allah
menghendakinya.
Masa-masa ketika Allah Ta'ala menurunkan takdir kepada para makhluk.
a.
Di lauhul Mahfudz, dengan kata lain dia disebut At-Taqdiirul ‘Aam
(Takdir yang bersifat umum)Jenis ini ditunjukkan oleh berbagai dalil,
di antaranya firman Allah Ta’ala:
“Apakah
kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja
yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat
dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat
mudah bagi Allah”. [QS Al-Hajj: 70]
Dalam
Shahiih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma
bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah
menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum
menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah
‘Arsy-Nya di atas air.”
b.
Ketika diambil janji di alam ruh/At-Taqdiirul Basyari (Takdir yang
berlaku untuk manusia)Allah berfirman:
“Dan
(ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman), Bukankah Aku ini Rabb-mu. Mereka menjawab, Betul
(Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian
itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami
(Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Rabb).” [Al-A’raaf:172]
c.
Ketika ditiupkan ruh di janin pada saat berumur 120 hari/
At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia)
Hal
tersebut ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq (Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam Shahiihain dari Ibnu Mas’ud
secara marfu':
“Sesungguhnya
salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut
ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah
seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging
seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk
meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat
kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau
bahagia(nya).[3]
d.
Pada saat Lailatul Qadar/ At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku
tahunan)Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:
“Pada
malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
[QS
Ad-Dukhaan:4]
Dan
dalam firman-Nya:
“Pada
malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin
Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.” [QS Al-Qadr: 4-5]
Disebutkan,
bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang akan terjadi dalam setahun
(ke depan,-ed.) mengenai kematian, kehidupan, kemuliaan dan kehinaan,
juga rizki dan hujan, hingga (mengenai siapakah) orang-orang yang
(akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir itu), fulan akan berhaji dan
fulan akan berhaji.
Dijelaskan
dalam riwayat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,
demikian juga al-Hasan serta Sa’id bin Jubair.[4]
e.
Pentakdiran harian/ At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian)
Dalilnya
ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Setiap
waktu Dia dalam kesibukan.” [QS Ar-Rahmaan: 29]
Disebutkan
mengenai tafsir ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan
menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat), memberi dan
menghalangi, menjadikan kaya dan fakir, membuat tertawa dan menangis,
mematikan dan menghidupkan, dan seterusnya.[5]
Pokok
ke 4,wajib meyakini bahwa apa yang Allah takdirkan, Allah
yang mengadakannya dan yang menciptakannya.
firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan
Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya… .” [QS
Al-Qashash: 68]
Firman
Allah yang lain:
“Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [QS At-Takwiir: 29]
Dan
firman Allah:
“Dan
jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya
aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut),
‘Insya Allah… .’” [QS Al-Kahfi: 23-24]
Juga
firman-Nya:
“Kalau
sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang
telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala
sesuatu kehadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman,
kecuali jika Allah menghendaki… .” [QS Al-An’aam: 111]
Serta
firman-Nya:
“…Barangsiapa
yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya, dan
barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), niscaya
Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” [ QS Al-An’aam:
39]
“…Seandainya
Allah menghendaki, tidaklah mereka saling mem-bunuh. Akan tetapi
Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [QS Al-Baqarah: 253]
“…Kalau
Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam
petunjuk … .” [QS Al-An’aam: 35]
Firman
Allah yang lain:
“Dan
kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak memper-sekutukan(-Nya)…
.” [QS Al-An’aam: 107]
Juga
firman-Nya:
“Dan
jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di
muka bumi seluruhnya… .” [QS Yunus: 99]
Pokok
ke 5,wajib meyakini bahwa makhluk punya kehendak dan
keinginan, namun
kehendak
dan keinginannya tidak keluar dari kehendak Allah.
Dalil-dalil
mengenai tingkatan ini nyaris tidak terbilang, di antaranya firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Allah
Yang menciptakan segala sesuatu… .” QS [Az-Zumar: 62]
Firman
Allah yang lain:
“Segala
puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan
mengadakan gelap dan terang … .” [QS Al-An’aam: 1]
Dan
firman-Nya:
“Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia mengujimu, siapa-kah di
antaramu yang terbaik amalnya… .” [QS Al-Mulk: 2]
Serta
firman Allah:
“Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu
dari yang satu, dan daripadanya Allah mencip-takan isterinya, dan
dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak… .”
[QS
An-Nisaa': 1]
Juga
firman Allah:
“Dan
Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
[QS Al-Anbiyaa': 33]
Dan
firman-Nya:
“…Adakah
pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari
langit dan dari bumi… .” [QS Faathir: 3]
kehendak
dan keinginannya tidak keluar dari kehendak Allah.
Pokok
ke 6,meyakini keumuman hikmah Allah atas apa yang Dia
takdirkan.
“Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [QS At-Takwiir: 29]
Pokok
ke 7,meyakini bahwa tidak ada pertentangan antara syariat
dan takdir Allah.
Maka
telah menyelisihi syariat orang yang mengatakan, “Kalau memang
sudah ditakdirkan, untuk apa kita beramal?”
“Saya
berbuat dosa ini karena ditakdirkan oleh Allah.” Kemudian dia tetap
melakukan dosa tersebut dan tidak menghentikannya.[6]
Pada
pembahasan masalah takdir, ada dua kelompok yang menyimpang dari
syariat
1.
Qodariyah
Pada
qodari [pengikut pemahaman kelompok Qodariyah] ekstrim, mereka
mengingkari pokok pertama dan kedua, yang dengan hal ini menyebabkan
mereka keluar dari Islam [murtad]. Jika kita hendak membantah dengan
seorang qodari, tanyakan terlebih dahulu kepada mereka, “Apakah
Allah mengilmui apa yang Dia takdirkan?” Jika mereka membenarkan
keIlmuan Allah, maka lanjutkan diskusi, karena masih diharapkan dia
menyadari penyimpangannya, tapi jika mengingkari keIlmuan Allah atas
takdir-Nya, maka tinggalkan mereka. Karena tidak layak berjidal pada
orang kafir.
Sedangkan
dari pihak qodari yang pertengahan, mereka mengingkari pokok ke-3 dan
ke-4.
2.
Jabriyah
Mereka
melepaskan perbuatan hamba dari kehendak hamba. Yang bebuat dan
berkehendak [kata mereka, ed-] adalah dari Allah semata. Sedangkan
secara terperinci, jabriyah ekstrim menisbatkan dzahir dan batin
kepada Allah. Dan pada jabriyah yang pertengahan, dzahir amalan
dinisbatkan kepada hamba, sedangkan kehendak batinnya dinisbatkan
kepada Allah.
Sebab-sebab
manusia menyimpang pada masalah takdir
1.
Karena mereka mengkiyaskan perbuatan hamba pada
perbuatan
Allah. Letak penyimpangan syariatnya ada
pada
mempersamakan Allah dengan makhluk.
2.
Dia tidak membedakan antara dua jenis Iradah Allah,
yaitu
kauniyah dan syar’iyah.
Letak perbedaan mendasar antara Iradah Kauniyah {Hukum Alam} dan Iradah Syar’iyah {Hukum agama} adalah:
A.Iradah
Kauni bermakna kehendak Allah, dan Iradah Syar’i bermakna kecintaan
Allah
Ta'ala.
B.Iradah
Kauni pasti terjadi, tapi iradah syar’i tidak harus terjadi.
C.Iradah
kauni kadang dicintai Allah dan kadang tidak, sedangkan iradah syar’i
pasti
dicintai oleh Allah.
D.Iradah
kauniyah berkaitan dengan Rububiyah [Kehendak pemeliharaan] Allah
dan
Iradah syar’iyah berkaitan dengan Uluhiyah
Allah.Maka
orang yang mengatakan, “Semua kehendak Allah harus bersifat
baik”,
adalah pemahaman yang menyimpang dari tuntunan agama.
3.
Akal dijadikan sebagai sumber patokan di dalam menghukumi baik
buruknya
perbuatan.
Maka
kelompok Mu’tazilah mengatakan, “Akal adalah sumber hukum
mutlak.”
Sementara,
kelompok Jabriyah mengatakan, “Apa yang disyariatkan baik itu baik
di sisi kami, dan apa yang dikatakan syariat jelek, itu jelek menurut
kami.” Mereka menghendaki dengan ucapan tersebut bahwa akal tidak
berperan sama sekali dalam hal ini.
Sedangkan
Ahlis Sunnah mengatakan, “Akal adalah anugerah dari Allah, dan
akal mampu memahami al-Qur’an dan as-Sunnah, tapi tidak dipakai
untuk menghukumi al-Qur’an dan as-Sunnah bila betentangan dengan
akal.
4.
Terlalu banyak mencari-cari hikmah dari takdir yang terjadi.
Kita
tidak disyariatkan tentang bagaiamana bagaimanapun takdir-Nya,apalagi
mencari-cari takdir yang akan/telah terjadi.Bahkan mereka akan
ditanya tentang ibadahnya dihari qiyamah kelak.Allah Ta'ala
berfirman,
''Dia
tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, tapi mereka manusia yang bakalan
ditanya''
[QS.
Al Anbiyaa: 23]
Keimanan
kepada Takdir tidaklah menghalangi kehendak Manusia.
Mengimani
[meyakini][7]kepada
takdir tidaklah berarti bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan
kemampuan dalam perbuatan-perbuatan yang ia perbuat.
Allah
Ta'ala berfirman,
''
Maka barangsiapa yang menghendaki,niscaya dia menempuh jalan
kembali kepada Rabb nya'' [QS An Naba 39]
''Maka
bertakwallah kepada Allah menurut kesanggupanmu [kemampuanmu]
dengar dan taatlah... [QS At Taghabun 16]
Realita
memberikan pandangan bagi manusia bahwa setiap manusia mengetahui
bahwa dia memiliki kehendak dan kemampuan.Dengan kehendak dan
kemampuannya,manusia dapat melakukan dan meninggalkan suatu
perbuatan.Bahkan ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi
dengan kehendaknya seperti makan,minum,berjalan,maupun sesuatu diluar
kehendaknya seperti gemetar,kaget dan lain-lain.Akan tetapi,kehendak
dan kemampuan manusia itu bergantung dengan kehendak dan kekuasaan
Allah Ta'ala.
Allah
Ta'ala berfirman,
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ (٢٦) إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (٢٧) لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (٢٨) وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٢٩)
26.
Maka ke manakah kamu akan pergi?[8]
27.
(Al Qur'an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.[9]
28.
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan
yang
lurus.[10]
29.
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam. [11]
(QS At Takwir Ayat 26-29)[12]
Oleh
karena itu sungguh merupakan suatu yang sangat jauh dari ilmu jika
ada yang memilki keyakinan bahwa manusia itu dipaksa oleh Allah
Ta'ala dalam perbuatan-perbuatannya,tidak memiliki kehendak dan
kemampuan terhadap perbuatannya itu.
Berbuat
Maksiyat karena takdir?
Berbuat
maksiyat karena takdir,sungguh ini merupakan diantara keyakinan yang
jauh dari kebenaran.Karena jika ini dijadikan alasan betapa banyak
yang berbuat maksiyat karena didukung dengan pernyataan ini.
Mereka
berdalih,perbuatan maksiyat yang dia lakukan adalah memang karena
demikianlah takdir,kehendak atau 'paksaan' yang Allah Ta'ala tetapkan
atas mereka.Kalaulah Allah akan memaksa dia untuk menjadi seorang
hamba yang sangat tunduk dan patuh kepada-Nya.
Alasan
mereka serupa dengan perkataan orang-orang musyrik ketika berdalih
atas perbuatan syirik yang mereka lakukan.Allah Ta'ala berfirman,
سَيَقُولُ
الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّه
مَا أَشْرَكْنَا وَلا آبَاؤُنَا وَلا
حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ
الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلا تَخْرُصُونَ (١٤٨)
148.Orang-orang
musyrik akan berkata, "Jika Allah menghendaki, tentu Kami tidak
akan mempersekutukan-Nya, begitu (pula) nenek moyang kami, dan kami
tidak akan mengharamkan apa pun." Demikian pula orang-orang
sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka
merasakan azab kami. Katakanlah (Muhammad), "Apakah kamu
mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami[13]?"
Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.
Pada
Ayat ini merupakan berita dari Allah, bahwa kaum musyrik akan
beralasan dengan qadar terhadap syirk mereka agar mereka tidak
disalahkan dan ternyata mereka mengatakannya. Di ayat ini, Allah
memberitahukan bahwa alasan tersebut juga dipakai oleh umat-umat
terdahulu yang sama mendustakan, namun hal itu tidaklah bermanfaat
dan berguna bagi mereka. Yang demikian adalah karena kalau memang
alasan mereka benar tentu dapat menghindarkan siksa dari mereka, dan
Allah tidak akan menimpakan siksa kepada mereka. Dari sini diketahui
bahwa alasan tersebut adalah keliru.
Kekeliruan
Orang yang bermaksiyat beralasan dengan qadar [takdir] adalah karena
beberapa alasan.
-
Alasan harus bersandar kepada ilmu dan bukti, bukan kepada
persangkaan atau perkiraan. Jika bersandar kepada perkiraan yang
sesungguhnya tidak membuahkan kebenaran, maka alasan tersebut batil.
-
Alasan yang kuat hanya pada Allah, di mana alasan-Nya disepakati oleh
semua nabi dan rasul, semua kitab yang diurunkan, riwayat-riwayat
dari Nabi, akal yang sehat, dan fitrah yang lurus.
-
Allah Ta’ala telah memberikan kepada setiap makhluk kemampuan dan
kehendak yang dengannya ia dapat melakukan perbuatan yang dibebankan.
Allah tidaklah mewajibkan di luar kemampuannya dan tidaklah
mengharamkan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Oleh karena itu,
beralasan dengan qadar ketika bermaksiat merupakan kezaliman murni.
-
Allah Ta’ala telah memerintah dan melarang manusia serta tidak
membebani-Nya kecuali sesuai kesanggupannya, kalau sekiranya manusia
dipaksa dalam mengerjakan sesuatu tentu ia tidak bisa berbuat apa-apa
atau tidak bisa menolaknya, karena orang yang dipaksa tidak mampu
melepaskan diri darinya dan hal ini jelas batil, oleh karena itu
dalam Islam bila terjadi maksiat karena ketidaktahuan, lupa atau
dipaksa maka ia tidak berdosa.
-
Allah tidaklah memaksa hamba, bahkan Dia menjadikan perbuatan mereka
mengikuti pilihan mereka. Hal ini merupakan perkara yang sudah maklum
dan dapat dirasakan, karena seseorang dapat membedakan antara
perbuatan yang terjadi dengan pilihannya seperti berjalan, bekerja,
dsb. dengan perbatan yang terjadi bukan atas pilihannya, seperti
gemetar, terjatuh, dsb. meskipun semuanya terjadi atas kehendak Allah
dan iradah-Nya. Jika Dia kehendaki akan terjadi, dan jika tidak maka
tidak akan terjadi. Namun yang demikian bukanlah menunjukkan bahwa
Alah ridha dengan perbuatan tersebut. Dan Allah hanyalah membalas
perbuatan yang terjadi atas dasar pilihannya, dan tidak menghukum
perbuatan yang terjadi bukan karena pilihan dan kehendaknya.
-
Jika sekiranya ada orang yang memukul mereka (orang yang beralasan
dengan qadar ketika maksiat) atau mengambil hartanya, lalu orang yang
memukul dan mengambil hartanya beralasan dengan qadar, tentu mereka
akan menolaknya dan tidak akan menerima alasan itu.[14]
Bantahan
orang yang bermaksiyat karena takdir
1.Allah Ta'ala berfirman,
(
رُسُلا
مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلا
يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ
بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ
عَزِيزًا حَكِيمًا (١٦٥
''[Mereka
diutus ] sebagai Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah
setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana''.[QS An Nisaa' :165]
Ayat
ini menerangkan bahwa bagi orang yang menaati Allah dan mengikuti
para Rasul-Nya maka akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan
akhirat.Sementara bagi orang yang durhaka kepada Allah dan
menyelisihi mereka, bahwa mereka akan mendapatkan kesengsaraan di
dunia dan akhirat.
Seandainya
takdir itu dapat dijadikan sebagai alasan oleh orang-orang yang
berbuat maksiyat,maka alasan itu seharusnya tetap berlaku walaupun
Allah telah mengutus para Rasul-Nya.Tapi ayat ini Allah Ta'ala
menolak alasan manusia yang bermaksiyat setelah diutusnya para
Rasul-Nya,termasuk didalamanya masalah takdir.
2.Allah
Ta'ala berfirman,
فَاتَّقُوا
اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا
وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا
لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ (١٦)
-
''Maka
bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah
serta taatlah ; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan
barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang
yang beruntung''.
[QS
At Taghabun :16]
Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sesuai
dengan kemampuan. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban yang
seorang hamba tidak dapat melakukannya, maka kewajiban itu gugur
darinya, dan bahwa jika seseorang mampu melakukan sebagian perintah
dan tidak bisa melakukan sebagian lagi, maka yang bisa ia lakukan
dilakukannya dan yang tidak bisa maka gugur darinya sebagaimana sabda
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apabila aku memerintahkan
suatu perintah, maka lakukanlah sesuai kesanggupanmu.”[15]
Allah
telah membebankan seorang hamba untuk meninggalkan kemaksiatan ,maka
berarti hamba tersebut seharusnya mampu dan sanggup untuk
meninggalkannya.Dan apabila ia berbuat maksiat karena tidak tau,lupa
atau terpaksa, maka ia tidak berdosa dan dimaafkan.
3.Dikisahkan
bahwa sahabat yang mulia Umar bin Al -Khattab-Rahiyallahu 'Anhu-
pernah menerima pencuri yang berhak dipotong tangannya,Umar pun
memerintahkan agar tangan pencuri tersebut dipotong.Pencuri tersebut
kemudian berkata,''Sabar dulu wahai Amirul Mukminin!Aku mencuri ini
hanya karena takdir Allah''.Maka Umar menjawab,''ya ,kamipun memotong
tanagnmu hanya karena takdir Allah juga''.
Seandainya
orang yang beralasan dengan takdir atas kemaksiatan yang dilakukannya
itu dianiaya,dirampas hartanya,dirusak kehormatannya.Kemudian orang
yang menganiaya tersebut beralasan dengan takdir Allah.Apakah orang
yang dianiaya tersebut menerima alasan tersebut?Tentu tidak.Dengan
demikian tidak bisa kita menghukumi sepihak, sehingga beralasan
dengan takdir tidak bisa dijadikan landasan dalam menetapkan hukum.
4.Rasulullah
bersabda:
رواية
علي ، رضي الله عنه :
قال
البخاري ، حدثنا أبو نعيم :
حدثنا
سفيان ، عن الأعمش ، عن
سعد بن عبيدة ، عن
أبي عبد الرحمن السلمي ، عن علي بن أبي
طالب قال :
كنا
مع رسول الله -
صلى
الله عليه وسلم -
في
بقيع الغرقد في جنازة ، فقال :
" ما
منكم من أحد إلا وقد كتب مقعده من الجنة
ومقعده من النار "
. فقالوا
:
يا
رسول الله ، أفلا نتكل ؟ فقال :
" اعملوا
، فكل ميسر لما خلق له "
. قال
:
ثم
قرأ :
( فأما
من أعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره
لليسرى )
إلى
قوله :
( للعسرى
)
.
Dalam
suatu riwayat dari jalur sahabat Ali bin Abi Thalib-Radhiyyallahu
'Anhu- ,Al Imam Bukhari berkata,Telah menceritakan kepada kami Abu
Nuaim:Telah menceritakan kepada kami Al 'A'masy,dari Sa'd bin
Ubaidah,dari Abi 'Abdirrahman As Sulami,dari 'Ali bin Abi
Thalib-Radhiyyallahu 'Anhu- beliau berkata; ''Dulu kami bersama
Rasulullah dihadapan janazah, di dalam pemakaman Baqii' al ghorqod,
kemudian datanglah Rasulullah- Shallallahu 'Alaih Wasallam- [seraya]
bersabda: ''Tiada dari setiap diri kamu semua kecuali telah di
tuliskan tempat duduknya di neraka atau di surga''. Kemudian para
sahabat bertanya:'' wahai Rasulullah, apa kita tidak bisa berusaha
atas kepastian tersebut? Rasulullah bersabda:''beramallah karena tiap
sesuatu akan dimudahkan sesuai penciptaannya''.Kemudian beliau
membaca surat Al Lail ayat 5-10
فَأَمَّا
مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥)
وَصَدَّقَ
بِالْحُسْنَى (٦)
فَسَنُيَسِّرُهُ
لِلْيُسْرَى (٧)
وَأَمَّا
مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (٨)
(
وَكَذَّبَ
بِالْحُسْنَى (٩)فَسَنُيَسِّرُهُ
لِلْعُسْرَى (١٠
5.''
Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah)dan bertakwa'',
6.
''dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga)'',
7.
''maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan
(kebahagiaan)''
8.
''Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu
pertolongan Allah)''
9.
''serta mendustakan (pahala) yang terbaik''
10.
''maka akan Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran
(kesengsaraan)''
[HR
Bukhari-Muslim]
Dalam
hadits diatas ,Rasulullah-Shallallahu 'Alaih Wasallam- memerintahkan
para sahabat untuk beramal dan melarang pasrah [menyerah] begitu saja
kepada takdir.Kalau pasrah kepada takdir saja dilarang ,bagaimana
dengan beralasan dengan takdir untuk mendukung bermaksiyat?
Bahaya
mengingkari [tidak mau mengimani atau meremehkan ] Takdir.
عن يحيى بن يَعمر قال: ((كان أول من قال في القدر بالبصرة معبد الجهني، فانطلقت أنا وحميد ابن عبد الرحمن الحميري حاجَّين أو معتمرَين، فقلنا: لو لقينا أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألناه عمَّا يقول هؤلاء في القدر، فوُفِّق لنا عبد الله بن عمر بن الخطاب داخلاً المسجد، فاكتنفته أنا وصاحبي، أحدنا عن يَمينه والآخر عن شماله، فظننت أنَّ صاحبي سيَكِل الكلامَ إليَّ، فقلت: أبا عبد الرحمن! إنَّه قد ظهر قِبَلَنا ناسٌ يقرؤون القرآن ويتقفَّرون العلمَ، وذكر من شأنهم، وأنَّهم يزعمون أن لا قَدر، وأنَّ الأمرَ أُنُف، قال: فإذا لقيت أولئك فأخبرْهم أنِّي بريء منهم، وأنَّهم بُرآء منِّي، والذي يحلف به عبد الله بن عمر! لو أنَّ لأحدهم مثل أُحُد ذهباً فأنفقه ما قَبل الله منه حتى يؤمنَ بالقدر،
Dari
Yahya bin Ya’mar, dia berkata:
Orang
pertama yang membicarakan masalah takdir di Bashrah adalah Ma’bad
al-Juhani, lalu aku pun berangkat bersama Humaid bin ‘Abd ar-Rahman
al-Himyari untuk melaksanakan haji -atau ‘umrah. Kami berdua
berkata, “Kalau kita bertemu dengan salah seorang shahabat
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tanyakan
kepadanya apa yang diperbincangkan oleh orang-orang itu mengenai
takdir.” Sungguh kebetulan sekali, kami dan ‘Abdullah bin ‘Umar
bin al-Khaththab memasuki masjid, maka aku dan temanku pun
mengapitnya sehingga salah seorang dari kami berada di sebelah
kanannya sedangkan seorang lagi di sebelah kirinya. Aku menduga bahwa
temanku menyerahkan pembicaraan kepadaku.
Maka
aku pun berkata, “Wahai Abu ‘Abd ar-Rahman (yakni Ibn ‘Umar
-pent)! Sesungguhnya telah muncul di hadapan kami orang-orang yang
membaca al-Quran dan menuntut ilmu –lalu dia menyebutkan perihal
dan kedudukan mereka- dan bahwa mereka itu beranggapan bahwa takdir
itu tidak ada dan suatu perkara itu bersifat unuf (tidak didahului
oleh takdir dan ilmu Allah).”
Ibn
‘Umar pun berkata, “Jika kau bertemu dengan mereka, maka kau
kabarkanlah kepada mereka bahwa sungguh aku berlepas diri dari mereka
dan mereka pun berlepas diri dariku. Dan demi (Allah) yang ‘Abdullah
bin ‘Umar bersumpah dengan (nama)-Nya, seandainya salah seorang
dari mereka itu memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu dia
menginfakkannya, maka tidaklah Allah akan menerimanya sampai dia
beriman kepada takdir.”
Imam
Muslim meriwayatkan dengan sanadnya hingga ke tabi'i Yahya bin Ya'mar
beliau berkata:"Orang yang pertama kali berbicara tentang takdir
di Bashrahadalah Ma'bad Al Juhani. Maka aku (Yahya) dan Humaid
binAbdurrahman Al Himyari berangkat haji atau umroh, dan kamiberkata:
Jika kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullahradhiallahu 'anhu
maka kita bertanya tentang apa yang dikatakanoleh mereka (Ma'bad Al
Juhani dan pengikutnya) tentang takdir.Maka Allah memberi taufiq
kepada kami untuk bertemu denganAbdullah bin Umar radhiyallahu
'anhuma yang sedang masuk kemasjid, maka aku dan temanku
mendekatinya; salah seorang darikami di sebelah kanannya yang lain di
sebelah kiri beliau. Makasaya menduga bahwa teman saya akan
menyerahkan kepada sayauntuk berbicara, maka saya berkata: Wahai Abu
Abdirrahman,sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang
jugamembaca Al Quran dan mengumpulkan ilmu -lalu beliaumenyebutkan
beberapa ciri-ciri yang lain- mereka itu menganggaptidak ada takdir
yang ditetapkan sebelumnya dan semua urusan itubaru terjadi (tanpa
takdir sebelumnya). Maka beliau radhiallahu'anhu berkata : "Jika
engkau bertemu mereka (orang-orang yangmengingkari takdir) maka
sampaikan kepada mereka bahwa aku(Abdullah bin Umar) berlepas diri
dari mereka dan mereka punberlepas diri dari saya, demi Dzat yang
Abdullah bin Umarbersumpah atas nama-Nya, walaupun mereka
menginfakkan emassebesar bukit Uhud, Allah tidak akan menerima infak
merekasampai mereka mau beriman kepada qadar. Kemudian beliau
(IbnuUmar radhiyallahu 'anhuma) mengatakan bapak saya Umar
binKhaththab -Radhiallahu 'Anhu menceritakan kepada
kami.....(kemudian beliau membaca hadits ini).[16]
Dari
kisah ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran dan kesimpulan,
diantaranya:
1.Ajaran
baru kelompok Qadariyah-Jabriyyah [bukan dari Rasulullah] sudah
muncul pada masa tabi'in dan ketika itu sebagian sahabat Rasulullah
shalallahu 'alaihi wasallam masih hidup.Ini menunjukkan ajaran
tersebut dilarang dalam agama bahkan pelakunya bisa murtad.
2.Bahaya
menyelisihi Rasulullah tidak diragukan lagi ia akan mendapatkan
ancaman
neraka-wal iyyadzu billah-.
[Dan
bahaya-bahaya yang lainnya yang sangat mengkhawatirkan bagi
kejiwaan,mentalitas dan aqidah kaum muslimin]
Keimanan
pada Takdir Memberikan Banyak Manfaat,antara lain:
Dalam rangka merealisasikan rukun iman yang ke-6 yang sangat urgen dan semakin kokohnya keimanan seorang muslim.
Membuat hati dan kejiwaan seorang muslim menjadi tentram.Mendidik dan menumbuhkan keberanian seorang hamba.
Bercerita tentang takdir laksana lautan yang tak bertepi,demikian ilmu Allah Ta'ala.Mudah-mudahan yang sedikit ulasan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.Semoga Allah Ta'ala melindungi diri kita dari perbuatan maksiyat baik yang nampak maupun yang terang,dan dari tipu daya syaithan lainnya.
Wallaahu
Ta'ala A'lam.
وصلى
الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا
محمد وعلى آله وصحبه
Bogor,19
Maret 2015 M/ 18 Jumadil
-Ula 1436 H
Abo Khaleed Yahmin Al Andunisii
Footnote
[1]Hadits riwayat Muslim dalam shahih-nya, kitab al-Iman, bab 1 hadits ke-1.
Dan diriwayatkan juga hadits dengn lafazh seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam shahihnya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke-1.
[2] Ushul As-Sunnah karya Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin
Hanbal,edisi
Ulas Tuntas Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah,KAJIAN ISLAMINTENSIF [Daurah 3 hari] 23-25 Desember/9-11 Shafar 1434 H Ust Dzulqarnain.
[3][HR.Al-Bukhari, (VII/210, no. 3208), Muslim, (VIII/44, no. 2643), dan Ibnu Majah,(I/29, no. 76). (Dan lafazhnya adalah dari riwayat Muslim,-ed.)]
[4][Lihat, Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, (VII/338), Tafsiir al-Qur-aanil ‘Azhiim,IbnuKatsir, (IV/140), dan Fat-hul Qadiir, asy-Syaukani, (IV/572).]
[5] Lihat, Zaadul Masiir, (VIII/114), Tafsiir al-Qur-aanil Azhiim, Ibnu Katsir,(IV/275),dan Fat-hul Qadiir, (V/136).
[6]Akan datang penjelasan terhadap orang yang bermaksiyat beralasan dengan
takdir.
[7] Meyakini maksudnya sesuai makna yang benar dalam definisi iman [mengimani]sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
[8] Maksudnya, setelah diterangkan bahwa Al Quran itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya berisi pelajaran dan petunjuk yang memimpin manusia
ke jalan yang lurus dengan diperkuat bukti-buktinya, ditanyakanlah kepada
orang-orang kafir itu, "Maka ke manakah kamu akan pergi?” Padahal tidak ada
setelah kebenaran selain kebatilan.
[9] Dengan Al Qur’an, mereka dapat mengingat Tuhan mereka, sifat-sifat sempurna
yang dimiliki-Nya, bersihnya Dia dari segala kekurangan dan tandingan.
Demikian pula dengan Al Qur’an, mereka dapat mengingat perintah dan
larangan-Nya,mengingat hukum-hukum qadari-Nya, hukum-hukum syar’i-Nya dan
hukum-hukum jaza’i(balasan)-Nya. Singkatnya, dengan Al Qur’an, mereka dapat
mengenal dan mengingat segala yang bermaslahat bagi mereka di dunia dan
akhirat,dan dengan mengamalkannya mereka akan memperoleh kebahagiaan.
[10 Setelah jelas mana yang benar dan mana yang salah, petunjuk daripada
kesesatan.
Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan Jabriyyah yang
mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak.
[11] Kehendak-Nya berlaku, tidak mungkin ditolak atau dihalangi. Allah
Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan demikian, adalah agar manusia tidak
bersandar kepada dirinya, bahkan hendaknya ia mengetahui bahwa hal itu
terkait dengan kehendak Allah sehingga ia pun meminta kepada Allah hidayah-
Nya kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.
Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan Qadariyyah yang
beranggapan bahwa manusia berkuasa mutlak terhadap tindakannya dan bahwa
Allah sama sekali tidak berkuasa. Yang benar adalah jalan yang ditempuh
Ahlussunnah wal jama'ah, di mana jalan tersebut merupakan jalan As Salafush
Shalih,yakni bahwa manusia berbuat sesuai kehendak dan pilihannya, namun
kehendak dan pilihannya mengikuti kehendak Allah Ta'ala, jika Dia
menghendaki,maka akan terjadi perbuatan itu dan jika tidak menghendaki,
maka tidak akan terjadi perbuatan itu.
[12]http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-at-takwir.html#sthash.3MgBQ6Hh.dpuf
[13] Yang menunjukkan bahwa Allah ridha dengan perbuatan itu.
[14]http://www.tafsir.web.id/2013/02/tafsir-al-anaam-ayat-143-
151.html#sthash.lQ0yG07t.dpuf
[16]
http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura92-aya10.htmlالقرآن
الكريم -
تفسير
ابن كثير -
تفسير
سورة الليل -
الآية10:
[16].Syarhul Arba'in oleh Ibnu Daqiq (hal.31)وLihat:Jami'ul Ulum wa AlHikam(1:97,134,135)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar